Tarekat Nyawiji Cak Nun

Ujung pangkal dan asal-usul dari semua yang ada dan kita alami di dunia ini adalah Tuhan. Maka segala ciptaan-Nya merupakan bagian dari-Nya. 

Mungkin kalau bisa dibayangkan, bikin bulatan besar, anggap bahwa bulatan besar itu Tuhan. Kemudian bayangkan sebanyak-banyaknya bulatan kecil di dalamnya, dan tiap-tiap bulatan kecil itu adalah semua makhluk Tuhan: malaikat, iblis, jin, hewan, tumbuhan, planet, tata surya, alam semesta, aku, kamu (iya…kamu), papi, mami, Donald Trump, Bude Sumiyati, dan lainnya. Sederhananya begitu.

Kalau konsep dasar ini sudah menjadi kesadaran kita, lalu anggaplah ia semacam QR Code yang akan di-scan di pintu masuk agar kita bisa memasuki “ruang semesta” Cak Nun. Tanpa itu, aku dan kamu hanya bisa inguk-inguk melalui jendela saja. Hanya sebatas menerka-nerka jalan pikiran dalam karya-karya beliau. Yang pada akhirnya gagal paham atas semua gagasan dan kiprah beliau baik sendiri maupun bersama KiaiKanjeng. Termasuk dalam memahami Maiyah.

Dengan berpegang pada konsep ini, coba kita baca semua esai, puisi, cerpen, drama, skenario film karya Cak Nun. Lalu juga kita dengarkan ceramah, hikmah, wawancara, lagu, shalawat beliau. Simak pula rekaman-rekaman diskusi dan workshop dalam Sinau Bareng. Entah itu dalam tema politik, pendidikan, sains, olah raga, teknologi, kebudayaan, kesenian, sastra, kesehatan, dan sebagainya dalam universalitas ilmu yang terkait atau saling mengandung satu sama lain. Selalu ada Tuhan di sana.

Saya cerita sedikit. Pertengahan Agustus lalu, saya bersama istri pamit kepada Cak Nun setelah hampir empat tahun sejak Oktober 2015 saat ketemu di Philadelphia, saya diminta beliau untuk ngewangi kegiatan Progress di Kadipiro. Saya pamit untuk menemani istri menempuh S3 di University of Chicago.

Karena proposal penelitian disertasi istri nanti seputar tadabbur Al-Qur`an yang dilakukan Cak Nun di Maiyah, saya berpesan ke istri, momen pamitan ini sekalian minta doa restu. Karena “tiket” untuk studi ke kampusnya Nurcholish Madjid, Amien Rais, dan Syafi’i Ma’arif ini, adalah Maiyah. Proposal penelitian yang membuat profesor-profesor di Chicago ini tertarik dan menerimanya sebagai mahasiswa pascasarjana adalah terkait Maiyah.

Kurang lebih satu jam obrolan seputar studi dan penelitian yang akan kami jalani di Chicago untuk beberapa tahun ke depan. Dan yang menarik bagi saya adalah satu poin utama terkait yang kita bahas di awal tulisan ini. Selama hampir empat tahun bersama beliau, kayaknya saya belum pernah mendengar langsung. Mungkin sudah pernah disampaikan kepada banyak orang, atau saya pernah mendengar tapi lupa. Tapi setidaknya kali ini menjadi semacam momen ngeng (istilah semacam “klik” dalam komposisi nada Gamelan KiaiKanjeng) buat saya.

Sudah Shohibu Baity

Sebelum masuk ke apa yang dikatakan Cak Nun, coba kita pahami bagaimana posisi Tuhan dalam kehidupan manusia sekarang. Saya rasa mayoritas orang nusantara percaya akan adanya Tuhan. Tapi Tuhan tidak boleh masuk dalam perbincangan kehidupan sehari-hari, termasuk sosial, politik, sains, budaya, seni, teknologi, ekonomi, apapun itu kecuali tentang agama. Tuhan dikucilkan, ndepipis di sudut ruangan kehidupan, dan baru akan dipanggil untuk dimintai tolong jika sudah kepentok masalah. 

Dulu saat masih di Sumatera, kalau saya ngobrol asyik tentang ekonomi, atau berdebat sengit tentang politik, sering muncul ucapan, “Jangan bawa-bawa Tuhan kau tu”. Saya merasa ungkapan seperti ini muncul sebagai cerminan kesadaran sehari-hari. Saya manusia yang hidup di zaman modern di mana alam pikir yang hidup memang memicu peniadaan Tuhan. Dia ada hanya sebatas ucapan mulut pas shalat dan ngaji. Tapi terasa haqqul yaqueen Tuhan itu Maha se-Maha-mahanya ketika kehabisan duit dan banyak utang. Apalagi saat ketemu hantu atau lewat kuburan, Dia segala-galanya deh.

Intinya, keyakinan saya akan Tuhan tak kuat-kuat amat lah. Kalau dibilang iman itu naik turun, kadang bertambah, tapi saya banyak kurangnya. Lalu, kok bisa ya kita (lu aja kali…) begitu banget sama Tuhan? Ini hukum alam. Sebuah akibat, pasti ada sebabnya. Salah satu sebabnya kok Tuhan dijauhkan, adalah akibat pertentangan kaum agamawan dan ilmuwan pada Abad Pertengahan yang rentetannya menjadi kesadaran hidup manusia modern hari ini. Salah satu indikasinya, tengok ke belakang saat sekolah dulu, tak ada hubungannya Tuhan dengan pelajaran matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, dll. Tuhan hanya ada di pelajaran agama. Ini yang namanya sekuler.

Ini panjang nanti ceritanya. Sebaiknya kelen bacalah bukunya pak dokter Ade Hashman, seorang dokter spesialis anestesi, tentang Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib. Minta duit Emak untuk beli ini. Baca sampai habis.

Pada intinya, manusia modern menganggap bisa hidup sendiri tanpa Tuhan. Kalau pun dianggap, ya itu tadi, Tuhan jauh sekali untuk kita menggapainya. Aku di sini, Tuhan nun jauh di sana.

Tapi saya mendengar ada yang menggugat. Kan generasi milenial sekarang sudah menjadikan kesalehan menjadi sebuah lifestyle yang keren. Sedang nge-tren yang hijrah-hijrah itu. Banyak bisnis-bisnis yang semakin spiritual dengan konsep sedekah dan macam-macam model lain. Oke, alhamdulillah spiritual menjadi napas baru dalam berbagai lini kehidupan. Bahwa Tuhan sangat dianggap, itu iya. Mungkin nanti kita bisa melihat ghirah manusia modern yang semakin spiritual ini, bagaimana dalam menempatkan Tuhan: berjarak atau tidak. Tidak ada yang baik atau buruk di sini. Semua baik. Kita hanya mencoba melihat kenyataan lain dalam hidup.

Nah, di sini letak ngeng-nya yang disampaikan Cak Nun malam itu menurut saya. Di kala saya dan manusia lain hidup dengan berjarak jauh kepada Tuhan, perlu harap-harap cemas untuk mendekat kepada-Nya, Cak Nun sudah dari kecil memutuskan untuk langsung mesra dengan Tuhan. “Sejak awal saya ambil keputusan, Tuhan tuan rumah saya, ada dalam jiwa saya. Tidak berharap-harap lagi. Karena kalau tidak memutuskan begitu, saya hidup dengan apa kalau tidak dengan Tuhan. Tidak ada yang lain selain Tuhan”, begitu kira-kira kata beliau. Panjang sebenarnya tapi intinya itu.

Oleh sebab itu dalam ber-Maiyah kita melantunkan Shohibu Baity. Tuhan adalah tuan rumah fisik, jiwa, dan ruh kita. Kita muwahhid dengan-Nya. Kesadaran dan keyakinan kita bukan Ya Shohiba Baity. Karena kalau pakai Ya, rasanya memang Dia jauh di sana. Padahal sesuai hakikat adanya kita, adalah bagian dari-Nya. Sekularisme menyebabkan kesadaran kita menjadi Ya Shohiba Baity. Padahal sejak awal memang sudah Shohibu Baity. 

Dengan mengutip penjelasan dari sebuah esai Cak Nun, bahwa Muslim adalah manusia yang mengerjakan Islam. Manusia subjeknya, Islam alatnya. Sabil arahnya. Syari’ jalanannya. Thariq cara menempuh jalan. Shirath presisi ke titik tujuannya. Maka dalam melintasi bagian awal dari keabadian hidup, cara menempuh jalan dunia ini adalah dengan tarekat nyawiji, muwahhid, menyatu.

Namun bukan berarti dengan kesadaran menyatu ini manusia otomatis tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kekeliruan-kekeliruan dalam ucapan dan tindakan dalam pergaulan, menandakan saya, Anda, Cak Nun, kita semua adalah manusia biasa yang benar-benar tidak berdaya, tidak bisa hidup tanpa Tuhan.

Sebagai penutup, di tahun 2017 saya pernah menulis Manusia Sejati 10.9 di web ini. Ilmu-ilmu yang dikabarkan Tuhan melalui Maiyah yang sangat random, jika disusun, ia seperti menyusun puzzle. Di akhir tulisan itu, saya belum bisa melihat “gambar besar” yang menjadi tempat puzzle-puzzle itu disusun. Namun kali ini saya ambil keputusan, bahwa gambar besar itu adalah Tuhan.

Sebelum mengembara masuk ke dalam rimba gelap di depan untuk mencari keping-keping puzzle lainnya, mari ambil keputusan mau pakai QR Code yang mana, masih Ya Shohiba Baity, atau sudah Shohibu Baity.[]

Chicago, 6 November 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana