Susuganan

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Maret 2019

Sebagian dari urusan hidupmu bisa engkau kelola dengan cara arsitek. Tapi aku menduga sebagian besar dari keharusan-keharusan perjuanganmu sama sekali tidak bisa engkau jalankan dengan cara itu. Engkau bisa memikirkan dan memperhitungkan segala sesuatu yang akan engkau kerjakan, tetapi ada beribu kemungkinan lain yang mustahil dijangkau oleh sangat terbatasnya kemampuan pikiranmu.” (Mbah Nun)

Manusia, dengan akal pikirannya bisa ‘agak’ leluasa menentukan arah hidup, merumuskan aturan main, memilih gaya bermain dan sekaligus pemain di kehidupannya sendiri. Beragam perencanaan dibuat dan diperbarui terus-menerus untuk bertahan hidup ke depan dan seterusnya. Dikejar target percepatan untuk segera membuahkan hasil yang sempurna dan berkelanjutan secara kuantitatif, praktis atau kualitatif, progresif. Sehingga semakin cepat pula bermunculan alat-alat produksi, teknologi dan transportasi beserta infrastruktur untuk menunjangnya.

Perencanaan memang perlu bagi manusia, namun yang paling mendasar dari hal itu adalah arah tujuan hidup manusia itu sendiri mau ke mana dan bagaimana pertimbangan di dalam pengelolaan akal pikirannya?

Cepat belum tentu tepat!

Bisa jadi yang selama ini disangka, direncanakan dan diperbuat manusia di segala aspek kehidupannya, belum tentu itu bisa dianggap ‘pas’, baik dan benar menurut Tuhan.

Melak meureun ditanah lamun, dicebor ku susuganan (mudah mudahan), buahna ge boa teuing.” (Abah Asep Sunandar Sunarya).

Kita bisa memilih melakukan yang terbaik. Maka, kita bisa memastikan bahwa pilihan kita untuk kebaikan adalah pilihan Tuhan. Hal ini karena Tuhan adalah Cinta dan dalam Cinta tidak begitu penting kehendakmu atau kehendakku, sebab sudah mengalami kebersatuan. Para kekasih saling mengerti apa kemauan masing-masing, sehingga tidak perlu mengejar kehendak sendiri-sendiri.” (Buya Kamba)

Bisakah kita punya kesanggupan memilih satu atau dua hal yang sejati dan abadi di antara ribuan hidangan kesementaraan?

Terbatasnya akal pikiran kita. Masih sesaknya dada kita dipenuhi informasi prasangka dan fitnah. Terombang-ambing kebingungan langkah kita. Yang bisa kita upayakan terus-menerus adalah perjuangan memperbaiki diri dan menanamkan kebaikan. Perlulah kita kembali menyambung rasa menemukan kemungkinan lain di alas tikar ‘Susuganan’.

Buku Cak Nun