Susah Amat Sih Nyebut Peran Tuhan

(Petikan Singkat Sinau Bareng di Langgar Pondok Kiri Albelabeto, Sumenep, Madura, 26 Agustus 2019)

Pada mulanya Mbah Nun bertanya ke jamaah: apakah shalawat itu lagu religi dan Indonesia Raya bukan lagu religi? Ini ditanyakan oleh beliau untuk mulai sedikit memberi syarah atas satu nomor kombinasi shalawat Madura dan sebuah lagu yang ditulis oleh Prince dan dipopulerkan oleh Sinéad O’Connor, Nothing Compares to You yang baru saja dilantunkan oleh Mbak Nia dan Mas Doni KiaiKanjeng.

Sebagian mungkin masih bingung akan menjawab apa karena belum mendapatkan arah kemana pertanyaan Mbah Nun itu menuju. Tapi sebagian mungkin tidak, terutama bagi mereka yang telah mengikuti terjangan Mbah Nun terhadap lapisan sekularisme yang menyelebungi pikiran-pikiran, walaupun sebagai terminologi istilah sekularisme sudah tidak mewarnai perwacanaan kita seperti dahulu.

Pada presisi tertentu, jika kita tiba-tiba secara penuh percaya diri mampu atau berani mengatakan ‘ini bagian dari agama’ dan ‘ini bukan bagian agama’, harap berhati-hati bisa jadi di situlah awal sekularisme yang halus menempel di pori-pori kita dan segera saja membelah cara berpikir dan cara kita mendefinisikan sesuatu in terms of religion.

Pada presisi tertentu yang, bolehlah untuk lebih sederhananya kita sebut, lebih tinggi, kita ditunggu untuk menemukan bahwa semua adalah “agama”, semua related to Allah, dan terutama tidak karena apa benda atau sesuatuanya tapi pada cara kita melihatnya. Jadi, masalahnya terletak pada cara kita melihat. Itulah yang kerap disodokkan Mbah Nun terhadap tradisi pemahaman keagamaan kita.

Setelah melontarkan pertanyaan tadi, Mbah Nun meminta ada yang maju dan mau menjawab pertanyaan berikutnya. Seorang remaja masih usia 16 tahun melangkahkan ke depan, dan bersiap menunggu pertanyaan. Dan inilah pertanyaannya: kalau kita atau anda main sepakbola, manakah yang merupakan peran Tuhan sehingga anda bisa menendang bola, menggiring, dan bahkan mengegolkan ke gawang lawan.

Remaja itu terdiam. Sedang berpikir mestinya. Kiranya dia juga tak menyangka pertanyaannya seperti itu. Dia mungkin kesulitan menjawab karena ada bayang-bayang: bahwa berarti ada yang bukan peran Tuhan. Tapi kalau dia menegaskan pada posisi itu, dia juga ragu-ragu berarti ada yang selain Tuhan yang berperan, jangan-jangan nanti malah terjebak pada nyerong ke syirik. Begitulah saya membayangkan dia. Itu mungkin satu menit dalam hidupnya yang penuh pergulatan batin yang membingungkan. Nyatanya dia terdiam.

Sampai akhirnya Mbah Nun setengah berteriak gemas berkata, “Susah amat sih nyebut peran Tuhan!” Sesaat para jamaah terkejut.

Tapi kemudian Mbah Nun menuntun, bukan terutama dia saya kira, tapi untuk semua jamaah, bahwa kaki yang kita pakai menendang bola itu siapa yang memberi, tenaga yang kita pakai berlari siapa yang memberi, dst, sampai semua mengerti. Mungkin sebagian ada protes, “lha kalau itu ya jelas Mbah!” Kalau memang jelas, mengapa kita, yang katakanlah diwakili adik kita itu, tidak segera menjawab.

Jelas atau taken for granted itu memang ada dalam salah satu pelajaran tasawuf, di mana ada pembagian dua jenis rezeki. Pertama, rezeki jatah, seperti bahwa manusia diberi tempat tinggal berupa bumi, oksigen, badan/tubuh, napas di mana semua manusia dijatah Tuhan. Rezeki yang kedua adalah rezeki yang dicapai dengan ikhtiar manusia apakah itu berupa harta, aset, atau yang lain. Ini tentu hanya sebuah pendekatan pandang.

Masalahnya memang terletak pada kenyamanan dan keterlamaan kesadaran  kita sebagai manusia dalam memahami hal-hal yang taken for granted itu seakan-akan itu automatis. Faktanya memang auto atau jatah, tapi sebagai cara pandang kan itu dari sudut Tuhan. Kalau dari sudut manusia, mengapa kita tak pernah sesekali melihat dalam cara lain, misalnya itu tadi yang dicontohkan Mbah Nun. Yang selama ini kita tempatkan sebagai bagian dari rezeki jatah otomatis dan default dari Allah geserlah sekarang ke: semua itu ada sebagai peran Allah dalam hidup kita. Ada Allah di balik semua wujud yang menjadi ‘milik’. Ada peran dari Yang Maha Berperan.

Manfaatnya jelas saya kira: membantu meningkatkan kesadaran ketuhanan kita. Membantu meningkatnya rasa syukur kita kepada Allah. Maka Mbah Nun mengatakan saat itu, “Kita akan susah, kalau tidak berterima kasih kepada Allah.” Sampai Mbah Nun ceritakan bagaimana Coach Indra Sjafri yang merintis anak-anak timnas yang dilatihkan untuk sujud syukur di lapangan hijau. Kita diingatkan bahwa sebenarnya kebutuhan kita akan rasa syukur itu sangat tinggi, tapi kita, eh saya, tidak sadar akan hal itu.

Kemudian, sebenarnya saya tidak bermaksud membicarakan yang spiritual di atas, karena sangatlah jauh posisi saya dari kelayakan untuk itu. Sebenarnya saja saya hanya ingin mengungkapkan bahwa kata-kata atau kalimat Mbah Nun “Susah amat sih nyebut peran Tuhan” itu menurut saya keren. Belum pernah saya mendengarnya dari orang-orang yang berada atau menempatkan diri di wilayah “otoritas” keagamaan. Redaksinya sangat tak biasa untuk bicara mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sikap kita kepada Tuhan. Tidak terduga. Redaksi yang semestinya menggelikan dan membuat kita introspeksi kok sampai muncul pertanyaan seperti. Saya kira, ini salah satu hal yang saya petik dari Sinau Bareng di Sumenep kemarin malam.

Adapun untuk adik kita yang mengambil peran menggugurkan fardhu kifayah dengan maju untuk mencoba menjawab pertanyaan Mbah Nun, kita perlu berterima kasih. Dia menjadi washilah buat datangnya kalimat out of the box redaksi dan perspektifnya tersebut. Dan, saya terkesan dengan satu menit terdiam-berpikirnya dia di depan Mbah Nun. Itu keren juga.

Buku Cak Nun