Surat untuk Padhangmbulan

Salam,

Sujud syukur kami haturkan kepada Tuhan semesta alam, atas rangkaian rahmatnya yang selalu bisa kita nikmati setiap detik. Sholawat dan salam kepada junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad yang cahayanya selalu menuntun kita menuju kebaikan hingga anak cucu kita kelak.

Penuh malu-malu saya menulis surat ini. Maklum, sudah lama tidak berkirim surat pribadi. Namun kali ini saya harus memaksa diri. Sebuah bentuk tahaduts bin ni’mah. Betapa bersyukurnya saya atas persambungan dengan Maiyah dan Cak Nun.

Saya ingat ketika pergi menuju sebuah desa kecil di pojok Jombang. Desa Menturo namanya. 25 kilometer jaraknya dari pusat kota. Desa yang dipenuh oleh ladang tebu. Di mana ada rumah yang selalu dikerumuni ramai setiap tengah bulan Jawa. Konsisten dan istiqomah. 26 tahun lamanya.

Di sebuah rumah desa. Tempat lahir para guru tercinta kita. Keluarga Bani Muhammad. Di situlah lahir 15 putra putri Bani Muhammad. Mata air ilmu Maiyah kita. Sebuah keluarga pengayom masyarakat desa Menturo. Yang membangun sekolah. Mendirikan pusat kegiatan masyarakat. Merintis ekonomi bebrayan. Pusat kajian agama. Tempat tersebut menjadi sebuah magnet utama hingga saat ini dalam bentuk forum Padhangmbulan.

Padhangmbulan, sebuah forum rakyat biasa. Tempat saling bersilaturahmi. Gendu-gendu rasa. Bertukar pikiran. Elaborasi formula kehidupan. Memecahkan masalah sosial bersama-sama. Menikmati paseduluran yang tersambung. Yang output-nya harus bergembira bersama.

Saya diperbolehkan memilih tempat di mana saja untuk sekedar meluruskan kaki, menarik napas dan mengikuti jalannya acara. Boleh di Sentono Arum dengan suasana wingitnya. Di bawah kebun jati. Di warung tahu solet seberang jalan. Di emperan bekas bangunan Madarasah Al-Muhammady, sekolah pertama yang dibangun keluarga Bani Muhammad. Di selasar masjid Bani Muhammad. Atau di manapun juga. Boleh saja. Asal nyaman. Sembari ngopi, saya bisa dengarkan apa yang disampaikan Cak Fuad, Cak Nun atau siapapun juga yang ada di panggung depan.

Sebuah kesederhanaan menyambut saya. Lelaki tua bersarung lalu lalang. Markesot namanya. Diajaknya saya berdiskusi tentang ini itu. Filosofis tapi membumi. Saya ingat beberapa buku lama yang ditulis oleh Cak Nun tentang Markesot. Ternyata sungguh nyata. Kalau kau terbiasa hidup di kota, di sini akan menjadi tempat yang mbetaih. Jauh dari hiruk-pikuk kota. Kecuali kalau kau masih menggenggam ponsel pintarmu yang berisik.

Saya mencoba mempelajari ulang asal-usul mata air Maiyah. Dari siapa mata air itu dimulai. Saluran mana saja yang menyalurkannya. Forum Maiyah sekarang, itu tidak lepas dari perjalanan 26 tahun Padhangmbulan. Ibunda simpul. Yang melahirkan setidaknya 63 simpul maiyah di dunia, dan berbagai macam lingkar yang terinspirasi nyata dari forum ini.

Di sini saya bertemu dengan saudara-saudara yang datang baik dari jauh maupun dekat. Mereka yang mungkin mempunyai masalah individu hingga masalah sosial. Mencari jawaban akan segala yang menyesak di dada. Atau sekadar bertatap muka dengan sedulur Maiyah.

Diam-diam saya merasa gede rasa, merasa menjadi anak cucu dari seorang Cak Nun. Yang dalam gelapnya kehidupan kami, serpihan cahaya benderang bisa kami nikmati setiap malam 15 purnama di sini. Berbentuk ilmu, hikmah, inspirasi, energi ataau apapun itu namanya, yang mempunyai daya nyala cahaya.

Yang utama dalam surat ini, saya hanya ingin menyampaikan Selamat ulang tahun ke-26, Padhangmbulan.

Maturnuwun Cak Fuad, Cak Nun, dan keluarga Bani Muhammad yang penuh kesetiaan menemani kami yang buta, yang penuh kesungguhan menyertai kami yang tuli, meraba pekatnya jalan menuju cahaya.

Tabik,

Purwokerto, 13 Oktober 2019

Buku Cak Nun