Sungai Puasa Maiyah

Jamaah Maiyah sudah lama berlatih menemukan Al-Qur`an dalam kehidupan dan menemukan kehidupan yang dialaminya di dalam Al-Qur`an.

Bulan Ramadlan secara syar’iyah adalah kewajiban melatih lelaku puasa dan mentafakkuri segala keluasan dan detail maknanya. Maka secara maknawiyah Jamaah Maiyah mengerahkan ketajaman hati dan kecerdasan pikiran untuk menemukan berbagai macam formula puasa dalam kehidupan di luar Bulan Ramadlan.

Setiap kali bermaiyah para Jamaah Maiyah meyakini dan meneguhkan pengetahuan dari Allah Swt bahwa Ia berjanji:

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.

Di dalam perjalanan panjangnya di mana Jamaah Maiyah menggabungkan diri pada hamba-hambanya yang menempuh:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan barang siapa berjuang di dalam (skenario)-Nya, niscaya Ia menunjukkan jalannya.

Maka demikianlah astaghfirullah subhanallah alhamdulillah 66 tahun yang saya jalani dan alami. Hari ini Jamaah Maiyah bersama-sama menyeberangi sungai yang selama penyeberangan itu Allah Swt mempersyaratkan dan menguji suatu jenis puasa.

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Kita tidak ikut menentukan bentuk dan waktu kemenangan yang Allah Swt janjikan. KIta hanya menyeberangi Sungai Puasa Maiyah dan memelihara kesabaran dari detik ke detik.

Mbah Nun
30 Mei 2019

Buku Cak Nun