Srawung Suwung

Srawung dapat dikatakan sebagai media pertemuan dua orang atau lebih atau dalam ajang komunitas tertentu. Dalam sebuah rumah individu srawung diperlukan untuk mensilaturahmikan realitas kehidupan. Gunanya secara positif adalah memperkaya referensi hidup, belajar menghormati perbedaan prinsipil dan bertoleransi terhadap kekeliruan pihak lain.

Negatifnya bisa jadi menumbuhkan kecemburuan sosial hingga perselingkuhan kekerabatan.

Positif negatifnya pada akhirnya tergantung dari seberapa besar kekuatan bekal niat kita untuk melaluinya kesrawungan itu.

Tapi apa perlu Srawung itu? Sangat perlu bila dikaitkan dengan budaya kita dimana kekeluargaan, gotong royong, solidaritas, empati masih menjadi tolok ukur norma hidup kita. Jauh di atas prioritas kesuksesan material.

Lantas apa yang harus dibawa agar srawung kita lantas bisa awet dan langgeng? Jawabannya sangat simpel. Yang harus kita bawa adalah Suwung. Suwung artinya kosong. Kosong di sini bukan berarti tanpa materi, tapi kosong dari hal-hal yang bisa mengarah pada keburukan.

Srawung Suwung di sini adalah sesrawungan yang tidak membawa apa apa. Tidak membawa apa-apa itu bukan berarti tidak boleh membawa materi. Tetapi tidak membawa pamrih apapun, kecuali srawung adalah untuk melanggengkan srawung itu sendiri hingga yang belum kenal menjadi kenal dan yang kenal bisa menjadi sedulur. Itulah kira kira penghantar tema kajian Srawung Suwung Maneges Qudroh Sabtu (malam minggu), 6 April 2019 pukul 19:45 WIB di Omah Maneges, Jumbleng, Tamanagung, Muntilan.

Monggo dipun Srawungi kanti longgaring manah.

Buku Cak Nun