Solo Sinau Bareng Membuka Lapisan Ayat-Ayat Al-Qur`an

Catatan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Pendhapi Gede Balaikota Surakarta, 20 April 2019, bagian 1

Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng tadi malam di Pendhapi Gede Balaikota Surakarta boleh dikata, sekurang-kurangnya menurut pendapat saya, diatmosferi oleh sinau mengeksplorasi atau memasuki lapisan-lapisan ayat-ayat Al-Qur`an. Tanpa disadari barangkali oleh sebagian dari hadirin, tapi itulah yang menurut hemat saya berlangsung.

Hajat acara yang digelar Pemerintah kota Solo ini adalah Memeringati Isra` Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Dalam rangkaian acara ini pula telah diadakan festival dan karnaval hadrah yang diikuti sekitar kurang lebih seratus kelompok hadrah yang tak hanya berasal dari Solo, melainkan juga dari Boyolali dan Klaten. Para peserta itu pawai pada siang harinya dari komplek Pasar Klewer menuju Pendhapi Gede ini.

Kurang lebih pukul 20.00 WIB, saya masih menyaksikan arus motor yang seakan tanpa henti masuk ke komplek Pendhapi Gede Balaikota ini menandakan jamaah atau hadirin terus mengalir, padahal di depan panggung KiaiKanjeng jamaah telah memenuhi tempat. Aliran itu terus bertambah, sampai tempat benar-benar penuh. Kanan kiri panggung juga full. Menyaksikan animo itu, terlintas dalam benak saya sebuah buku berjudul Gerakan Wahabi di Indonesia (2009) yang diangkat dari penelitian mengenai perkembangan Wahabisme di Indonesia dan menempatkan Solo sebagai salah satu kota yang diteliti.

Tetapi apa yang dikaji penelitian tersebut tentu merupakan fenomena Solo belakangan, dan Solo sendiri punya riwayat yang panjang dan kaya. Solo adalah kota penting dalam sejarah pers di Indonesia, maka Monumen Pers ada di Solo. Kota ini juga adalah kota Keraton yang menjadi bagian dari dinamika sejarah Kerajaan Mataram. Di kota ini pula banyak berdiri rumah sakit yang mengisyaratkan dulu banyak priyayi yang belajar kedokteran (dan subjek lain tentunya) di negeri Belanda pada awal dan menjelang pertengahan abad ke-20 dan mereka menjadi lapisan intelektual Indonesia modern. Solo juga kota Batik, dan konon omset perdagangan di pasar Klewer pernah merupakan terbesar kedua di Indonesia sesudah Pasar Tanah Abang Jakarta. Solo juga kota dengan beberapa pesantren yang cukup settle dalam eksistensinya di kota ini. Di backdrop tertera angka 274 tahun yang mengingatkan kita akan usia kota Solo.

Ketika hadirin sudah penuh, mereka ternyata perlu mempersembahkan sikap toleran dengan bersedia menunggu acara agak mundur dan bersedia menikmati alunan musik KiaiKanjeng dalam kadar yang pelan dan halus dikarenakan di gereja yang berada di sebelah utara Pendhapi Gede ini sedang berlangsung misa umat Kristiani sebanyak dua kali. Satu sikap yang sudah selayaknya dan patut diapresiasi. Setelah misa selesai, barulah musik KiaiKanjeng bisa dibawakan dengan kadar sound yang penuh. Itu pun juga tidak segera, karena pada tahap awal Mbah Nun masih memberikan landasan-landasan dulu seraya menyambungkan para narasumber dari jajaran Pemkot Solo kepada seluruh jamaah.

Mengantarkan pembukaan, Mbah Nun mengingatkan hadirin bahwa malam ini tema utamanya adalah Isra` Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Mbah Nun minta salah satu jamaah untuk berpartisipasi membacakan ayat pertama surat Al-Isra`. Satu partisipan pun segera maju. Pelan-pelan kemudian terdengar suaranya melantukan ayat Subhanal-ladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil harami ilal masjidil aqshal-ladzi baarakna haulahu linuriyahu min ayatina innahu huwas-sami’ul bashir.

Mbah Nun adalah orang yang peka terhadap keindahan atau estetika. Seraya berterima kasih kepada Mas partisipan ini tapi juga untuk maksud membangun keakraban, Mbah Nun memberikan catatan, “Nek melu MTQ, iki mau mesti kalah, tapi untungnya moco Qur`an ora soal apike suworo, tapi ikhlas lan sungguh-sungguhe atine sing moco.” (Kalau ikut MTQ, Mas ini akan kalah karena standard estetika MTQ sangat tinggi, tapi untungnya membaca Al-Qur`an itu bukan soal lagu atau estetika suara, melainkan soal keikhlasan dan kesungguhan hati yang membaca).

Rupanya ini menjadi sebuah jalan bagi Mbah Nun untuk mengemukakan satu wawasan baru di segmen awal. Mbah Nun mengatakan, “Ini adalah ayat-ayat Allah, Allah yang menyusunnya, kalau kita mau membaca, Allah jadi senang. Kalau Allah senang, rezeki kita lancar dan dimudahkan.” Pernyataan ini rasanya adalah penerjemahan yang sederhana tapi hidup dan dekat dengan keseharian kita dari penjelasan Nabi tentang pahala yang akan diterima bagi setiap orang yang membaca Al-Qur`an.

‘Allah jadi senang kalau kalimat-kalimat-Nya dibaca’ ini ungkapan yang apik dalam menggambarkan hubungan Allah, Al-Qur`an, dan kita. Sebuah kalimat yang jarang kita dengar. Karena, barangkali teks, narasi, atau ungkapan-ungkapan yang kita terima selama ini lebih didominasi oleh suasana doktriner dan formal. Tentu tidak salah dengan itu semua, namun kalimat yang memiliki sensibilitas kultural-psikologis rasanya juga tak kalah pentingnya. Ungkapan Mbah Nun tengang membaca Al-Qur`an tadi adalah sebuah eksplorasi mengenai ayat Al-Qur`an.

Apa yang baru saja disampaikan Mbah Nun itu seakan mengingatkan kita akan ‘rasakan betul Al-Qur`an, dalami, renungkan, rasakan dengan hatimu’ nanti Engkau akan sampai pada pengungkapan yang otentik dari sejarah hidupmu sendiri dalam mendapatkan ilmu, pemahaman, penghayatan, dan tadabbur Al-Qur`an. Sesudah kemudian Mbah Nun meminta Mas Islamiyanto dan Mbak Nia menuntaskan lantunan Mas partisipan tadi dengan satu jenis lagu yang dikenal dalam maqamat MTQ, Mbah Nun kemudian membawa kita kepada contoh eksplorasi yang kedua melalui roso Beliau tentang khataman Al-Qur`an.

Eksplorasi itu berlangsung saat Mbah Nun akan meminta para vokalis KiaiKanjeng membawakan doa Khatmil Qur`an. Di sini kita diingatkan tentang dua sisi yang melekatkan pada Al-Qur`an, yang dibaca dan dilakukan. “Nah kalau khatmil Qur`an beneran ya tidak bisa karena sedemikian luasnya kandungan Al-Qur`an. Sehingga satu ayat pun yang didalami dan diamalkan dengan sungguh-sungguh bisalah kita anggap sebagai satu khataman.” Kira-kira demikian Mbah Nun mengemukakan apa yang dirasakannya berkaitan dengan khataman Al-Qur`an. Jadi, khataman dalam arti membaca secara utuh semua ayat Al-Qur`an adalah dimungkinkan, namun khataman dalam arti menguasai seluruh kandungan Al-Qur`an rasanya tidak mungkin justru karena tak terbatasnya muatan Al-Qur`an. Kalaulah dalam konteks ini dipakai kata khataman tentu ini tidak dalam arti memastikan, melainkan ekspresi harapan dan kegembiraan hati.

Babaran padat, ringkas, dan sebenarnya terasa seakan-akan muncul dari celah-celah sajian yang akan dihadirkan Mbah Nun ini, dalam hal ini nomor Do’a Khatmil Qur`an, selayaknya kita catat untuk melengkapi daftar percikan pandangan Mbah Nun mengenai butir-butir menikmati Al-Qur`an dan memetik pengertian-pengertian darinya yang selama ini telah Beliau kemukakan dalam Sinau-Sinau Bareng.

Dalam segmen workshop bersama tiga kelompok jamaah yang sudah dibentuk, nanti akan kita peroleh lagi eksplorasi dan bukaaan lapisan-lapisan ayat Al-Qur`an. Tapi kita perlu catat dulu, bahwa semua penggalian dan sinau ini Mbah Nun minta semua hadirin untuk meniatkannya sebagai jalan agar Allah memberikan kerukunan dan kebersamaan pada hari-hari Indonesia ke depan, termasuk di kota Solo ini.

Sebuah ikhtiar telah Mbah Nun urunkan untuk menggapai kerukunan itu, yaitu dengan menjauhkan diri dari kesempitan aliran dan golongan, melalui tarekat Sinau Bareng dengan menggali ungguh-sungguh lapisan-lapisan Al-Qur`an seperti tadi pada Sinau Bareng di Pendhapi Gede Balaikota Solo. Itulah sebabnya Mbah Nun punya judul sendiri untuk bingkai Sinau Bareng tadi malam: “Bijaksana terhadap Apa yang Kita Tahu, Rendah Hati terhadap Apa yang Kita Tidak Tahu.” (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise