Siswa SMAN 1 Kediri Belajar Ilmu Sosial di Rumah Maiyah

Rombongan pelajar berseragam batik warna biru dari SMA Negeri 1 Kediri itu tiba di Rumah Maiyah, Kadipiro, sekitar Pukul 14:00 pada hari Jum’at kemarin. Sebanyak 18 orang, berlatar belakang Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dengan ditemani 2 guru pendamping, mereka mengaku ingin memperdalam pengetahuan ilmu sosial kepada caknun.com.

Pak Febri, salah satu pendamping, mengatakan rombongan ini sebelumnya ke Fakultas Psikologi, UGM, untuk belajar seputar karya ilmiah remaja, khususnya berkaitan dengan sistematika kepenulisan hingga penajaman ide. “Agar ilmu yang diperoleh lengkap, kami sengaja ke sini, spesifik mempelajari ilmu-ilmu sosial kepada caknun.com,” jelasnya lebih lanjut.

Memperdalam dan mempertajam ilmu-ilmu sosial kepada redaksi caknun.com mereka katakan penting. Di samping berlatar belakang IPS yang niscaya telah didapatkan di bangku sekolah, Pak Febri menuturkan caknun.com sebagai media produksi pengetahuan seputar Cak Nun dan KiaiKanjeng sangat relevan bagi pelajar. Terutama memperoleh perspektif baru dari sisi rekam jejak Cak Nun dan KiaiKanjeng yang telah ribuan kali ke pelosok dusun hingga kota untuk mempraksiskan ilmu sosial secara empiris.

Mas Helmi mengapresiasi kedatangan mereka. Ia mengawali pelatihan dengan memaparkan ilmu sosial yang dipelajari adik-adik pelajar sebetulnya sudah lama diperjuangkan Cak Nun dan KiaiKanjeng. “Di antara kalian siapa yang sebelumnya sudah mengenal Cak Nun?” tanya Mas Helmi. Salah satu siswi mengangkat tangan. Ia berujar kalau bapaknya aktif mengikuti Maiyah. “Bapak saya juga mengikuti video-video beliau di YouTube,” jawabnya.

Diskusi selama dua jam itu dimaksimalkan Mas Helmi bukan sekadar melalui pendekatan ceramah, melainkan juga menggunakan multimedia. Mas Penyo, sosok di balik development caknun.com, ikut hadir dan menemani para siswa melihat beberapa konten website. Ia kemudian diminta Mas Helmi untuk membuka halaman video Cak Nun. Mas Penyo memilih memutar salah satu tayangan berjudul Cak Nun: Belajar Berpikir Radikal.

Video berdurasi kurang dari seperempat jam tersebut difungsikan Mas Helmi untuk memantik refleksi siswa lebih kreatif. Setelah menayangkan video, Mas Helmi bertanya, “Apa yang Anda dapat catat dari tayangan tadi. Silakan sebutkan sekaligus catat. Yang lain boleh mengomentari catatan temannya,” ungkapnya.

Mas Helmi menegaskan wujud ilmu sosial yang dipraktikkan Cak Nun — khususnya dalam acara Maiyah — bukan membangun format diskusi yang searah, melainkan dialogis dengan aktif mengajak jamaah berpendapat. Pola dua arah dalam Maiyah ini, lanjut Mas Helmi, merupakan wujud Sinau Bareng yang Cak Nun sendiri memediasi pelbagai opini dan menuntun perlahan jamaah menemukan jawaban sesuai konteks rumusan penanya.

Contoh yang dipaparkan Cak Nun sebagai bahan belajar juga sederhana dan sangat kontekstual dengan peta sosiologis masyarakat tertentu. Cak Nun acap kali mengajak jamaah untuk memikirkan ulang posisi manusia di tengah makhluk lain seperti pohon dan hewan sebagai perumpamaan. Ilustrasi tersebut mudah diterima khalayak umum, khususnya di daerah pedesaan, sehingga alih-alih jamaah mengernyitkan dahi, tapi kenyataannya justru merasa memahami sekaligus menikmati. Untuk kali pertama adik-adik siswa ini mendengar bahwa binatang adalah saudara/kakaknya manusia, karena dalam urutan penciptaan makhluk, hewan dicipta lebih awal daripada manusia.

Risa, salah satu siswi, merefleksikan tayangan video. “Dalam video itu Cak Nun mengajarkan kalau antara manusia, pohon, dan hewan itu sama-sama makhluk Tuhan. Harusnya kita sebagai manusia saling menghormati,” katanya. Siswa-siswi lain pun juga saling merespons dengan pendapat masing-masing.

“Semua yang Anda sampaikan itu,” lanjut Mas Helmi, “tentunya benar sebab tiap orang punya penemuan dan penangkapan sendiri-sendiri. Adakah penemuan lain yang mungkin lebih spesifik lagi dalam memahami fenomena sosial di Maiyah sesuai tayangan barusan?” Ia mengajak pelajar untuk memotret lebih spesifik, selain aspek verbal, yakni kejelian melihat aspek nonkebahasaan. Di antaranya salah seorang siswa merespons dengan mengatakan bahwa cara Cak Nun dalam berbicara tidaklah ceramah, melainkan berbicara sewajarnya dengan melibatkan orang lain di panggung, dan itu jarang ia jumpai.

Pelan-pelan para siswa melihat elemen-elemen lain. Antara lain formasi yang hampir tak berjarak antara Cak Nun dan Kiaikanjeng dan jamaah. Menurut Mas Helmi, posisi itu membuktikan kalau Maiyah ingin membangun hubungan kultural-personal maupun kultural-komunal kepada masyarakat. Tempat duduk yang berjauhan justru memberi jurang bagi relasi itu, sehingga antara Cak Nun, KiaiKanjeng, dan jamaah malah tak maksimal mendialogkan materi pembahasan.

Salah seorang siswa berjaket jeans warna biru agak luntur di belakang merespons. “Kalau dalam pelajaran yang saya pelajari di IPS, kan ada teori dari Émile Durkheim. Di sana salah satunya teori solidaritas organik dan solidaritas melanik. Itu bisa dipakai dalam teori dalam tayangan Maiyah ya,” tanyanya kepada Mas Helmi.

Mas Helmi menjawab dengan merujuk pada video yang ditampilkan sebelumnya. Ia mengatakan kalau dalam acara Maiyah semua elemen masyarakat, baik muda maupun sepuh, laki ataupun perempuan, kumpul dalam satu forum. Cak Nun dan KiaiKanjeng di panggung selalu mengajak perwakilan masyarakat untuk ikut serta. Kajian ilmu di Maiyah dipelajari dalam ragam Sinau Bareng. Tentu saja kesemuanya diperikat oleh solidaritas kolektif.

“Coba Anda perhatikan, konsep yang Anda katakan tadi, seputar solidaritas organik atau solidaritas mekanik, apakah dapat menjadi landasan teori ketika misalnya kita meneliti tentang pengajian Maiyah yang ditayangkan barusan,” ujarnya. Mas Helmi mengajak pelajar untuk berpikir, apakah apa yang diamati dan referensi teoretis yang disampaikan siswa tersebut dapat digunakan. Menjelang senja diskusi makin asyik dan membuat pelajar bertambah wawasannya, terutama konsep ilmu sosial menurut Maiyah.

Buku dan Merchandise