Sirna Ing Bada

Mukadimah Maiyah Balitar Juni 2019

Masyarakat Jawa mempunyai istilah tersendiri untuk menyebut hari raya Idul Fitri. Bada. Sebuah bahasa serapan dari Bahasa Arab, ba’da, yang artinya adalah setelah. Maksudnya, setelah di sini adalah setelah bulan Ramadlan, yakni bulan Syawal.

Setelah satu bulan kita memasuki madrasah Ramadlan, Tuhan menganugerahi momen hari raya Idul Fitri. Hari agung kembali ke kesucian. Hari raya Idul Fitri tentu punya makna tersendiri di masing-masing hati. Tak jarang yang mengartikan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Menang melawan hawa nafsu setelah satu bulan ‘merasa’ berhasil berlatih berpuasa (?). “Selamat hari raya. Selamat hari lebaran. Raihlah kemenangan. Setelah Ramadlan.” Begitu kata seseorang yang dituangkan melalui sebuah syair lagu.

Banyak orang yang menyambut Idul Fitri dengan suka cita. Pemandangan seperti ini dapat kita jumpai di jalanan saat malam menjelang hari raya. Betapa lepas tawa bahagia mereka. Mengumandangkan takbir menyambut datangnya hari raya. Momen bahagia ini masih berlanjut di keesokan harinya. Berkumpul bersama sanak saudara. Saling memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah ada. Makan dan minum sudah bukan lagi menjadi larangan bagi mereka. Bahkan, ada yang semacam ‘balas dendam’ setelah satu bulan berpuasa. “Saya hari raya pertama sakit. Ya, karena semua saya makan.” Begitu cerita seorang kawan.

Apa yang sudah dilatihkan selama satu bulan puasa, seoalah seketika sirna ing bada. Seolah semua sudah tak ada artinya lagi ketika hari raya tiba. Tak ada lagi mengendalikan diri. Baik atas makan, minum, maupun berbuat salah dan menyakiti. Ada yang baru minta maaf saja sudah kembali mencela. Ya, meskipun ini tidak dapat dipukul rata. Tidak semuanya seperti itu. Masih ada juga yang tetap mampu menjaga pengendalian dirinya. Meskipun belum diketahui pasti bukti yang menceritakan seberapa perbandingannya, bagaimana persebaran datanya.

Lantas, bagaimana sebenarnya dan sebaiknya kita menyambut hari raya? Apa sebenarnya makna Idul Fitri? Kembali ke suci? Benarkah setiap kita memang ada jaminan untuk benar-benar bisa kembali ke suci saat hari raya Idul Fitri? Atau, maksud Idul Fitri adalah kembali ke fitrah manusia? Pada dasarnya, manusia memang suka makan dan minum, lantas apakah ini memang menjadi hari pembebasan untuk makan dan minum? Bebas untuk melakukan apapun sesuai kebutuhan dasar manusia?

Untuk belajar sedikit demi sedikit mengudari itu semua, Majelis Maiyah Balitar mengajak jamaah untuk sinau bareng Sirna ing Bada. Kediaman Kang Maksum, Jalan Kol Soegiono Nomor 1 Kota Blitar, besok hari Sabtu, 22 Juni 2019 terbuka lebar untuk dulur-dulur semua yang ingin jagongan sembari sinau bareng, sekaligus sebagai momen untuk berjabat tangan saling memaafkan.

Buku Cak Nun