Sing Soul

Mukadimah SabaMaiya Mei 2019

Ke-aku-an yang masih butuh peng-aku-an tak ubahnya burung menanyakan terbangnya, secara lamat-lamat tabir tipis namun sulit di pecahkan yang bernama “Eksistensi” menghinggap dalam sel-sel tubuh sehingga munculkan dan menumbuhkan virus “fir’aun” dengan lembut. Namun ada hal yang sangat mudah bagi mereka yang tercerahkan, setinggi apapun pencapaian dalam proses perjalanan, keberadaan apapun tetap tak akan tampak bila tak ada cahaya.

Kadang-kadang diam lebih produktif dari pada ‘petakilan’ berstrategi dan berkoar-koar. Pada konteks tertentu, diam itu akan menghasilkan efek ‘suara’ lebih nyaring dari segala teriakan paling keras sekalipun. Kita harus belajar untuk bisa mempercayai hal-hal yang bersifat lembut dan batin agar kepandaian kita tidak menjebak diri sendiri.

Betapa berat menyembunyikan kebaikan dari penglihatan orang. Hasrat untuk memamerkan begitu besar, padahal manusia tahu bahwa kebaikan yang ditampakkan akan menjadi amalan kosong. Pendidikan pencitraan telah sukses dikembangkan. Dan diam-diam kita telah menjadi penganut ajaran itu sambil merasa sebagai pelaku syiar keagamaan.

Saat ini banyak laku batin telah menjadi laku lahir. Olah rohani kita sikapi seperti olah raga. Amaliah keagamaan dipanggungkan sebagaimana akrobat kesenian di pasar malam. Tampaknya kita memang harus belajar tentang hakekat pertapaan para begawan masa silam yang terampil mengakrabi kesenyapan. Agar pelan-pelan kita menjadi paham soal ‘batin’. Yang rumusnya sama sekali berbeda dengan jasad atau materi.

Menjadi aneh jika makin hari perilaku keagamaan kita lebih memilih rugi dengan cara gemar unjuk penampilan. Padahal inti ibadah adalah “lelaku” di relung paling rahasia. Di dalam kedalaman ruang rahasia itu kita bisa mengambil kebenaran sejati, untuk kemudian kita bawa ke luar menjadi oleh-oleh sosial. Jika tak bisa memasuki ruang terdalam dari hakekat paling rahasia, tak akan ada apa-apa yang bisa kita dapati. Sehingga tak ada pula yang bisa kita persembahkan kepada khalayak. Kecuali pertengkaran-pertengkaran khilafiyah yang tak berujung.

Padahal Tuhan hanya mempersilahkan kepada manusia yang “mutmainah” melalui panggilan mesra. “Wahai jiwa yang mutmainah (tenang) kemarilah, masuklah ke dalam surgakKu”.

Pada Majelis SabaMaiya edisi ke 38 ini, bareng-bareng kita sinau menjadi manusia yang bisa menemukan kedalaman makna dari seluruh kegiatan hidup, belajar lebih memasuki ranah spiritualitas. Menjadi spiritualis itu hakekat hidup, manusia mesti tumbuh dan berkembang menjadi lebih batin, lebih  ‘Sing Soul’.

Buku Cak Nun