Sinaulah Pada Genset yang Tiba-Tiba Mati

Sinau Bareng Grebeg Suran di lapangan Baturan ini sudah dimulai, dan pukul 21.00 Mbah Nun bersama para pemuka masyarakat dan Forkompinda telah diantarkan Banser dan panitia menuju panggung. Sepanjang berjalan itu, nyatalah di depan mata, ribuan orang telah menanti kehadiran Mbah Nun. Sebagian berupaya menyalami, menyentuh, dan memanggil nama Mbah Nun.

Kurang lebih dalam waktu tiga puluh menit kemudian Mbah Nun telah menghadirkan pambuko dalam tiga arti. Pertama, membaca surat al-Fatihah yang artinya memang adalah pembuka/pambuko. Kedua, menghadirkan nomor Pambuko KiaiKanjeng di mana Mbah Nun melantunkan shalawat dengan kekuatan magis. Ketiga, pambuko dalam arti membuka dengan memberikan pengantar dekat.

Mbah Nun sudah mempertautkan semua partikel-partikel hati dengan menawarkan mau nomor apa yang sama-sama disenangi untuk melantunkannya. Terpilihlah nomor Lir-Ilir. Di dalamnya ada shalawat, dan Mbah Nun ikut melantunkan juga di dalamnya, dan nomor ini mengilhami Beliau untuk membuka sayembara yaitu bagi tiga orang yang nanti diminta maju untuk menjabarkan pemaknaan atas satu kalimat dari tembang Lir-Ilir ini.

Sesaat setelah menjelaskan itu, tiba-tiba lampu meredup, dan kemudian ternyata genset mati. Dan itu saat Mbah Nun sedang meneruskan tembang dan shalawat Lir-ilir ini. Apakah kemudian yang terjadi? Seluruh jamaah tidak sedikit pun beranjak, panik, atau gimana-gimana. Semua tetap pada tempatnya dan konsentrasi kepada apa yang seharusnya berlangsung.

Jika dalam acara-acara lain bisa dipastikan keadaan genset mati yang tidak segera bisa diatasi pasti akan membikin hadirinnya pulang, situasi kacau, panitia panik, dan seterusnya dan acara gagal. Tetapi yang berlangsung di Sinau Bareng tidak demikian.

Para jamaah menyalakan flash, dan mereka berusaha mendengarkan suara Mbah Nun dan para vokalis KiaiKanjeng yang terus mengajak mereka bershalawat, kemudian mengajak membaca surat an-Nas bareng-bareng, sekali lagi tanpa ada rasa gusar sedikit pun. Tetap khusyuk dan asik.

Bahkan keasikan tanpa sound ini pun malahan dilanjut sama Mbah Nun dengan membagi jamaah dalam tiga kelompok untuk berbagi melantunkan La Robba Illallah, La Malika Illallah, dan La ilaha Illallah. Dan sangat bagus komposisi ini. Komunikasi para vokalis yang tanpa mic tertangkap sampai ke belakang. Tetap segar, gerr, dan asik. Tawa meletus setiap kali mas Jijid dkk berbicara kepada mereka.

Saat di tengah keadaan itu sempat tim sound berhasil menyediakan mic toa darurat, Mbah Nun tetap memilih tidak segera memakainya. Ya, Akan hilang rasanya situasi kental langka seperti ini, dan mungkin justru akan membatalkan proses sinau pada pelajaran menghadapi genset yang mati. Sekarang kelompok-kelompok itu masih berlangsung dengan berganti ke lagu lainnya.

Tim sound dan panitia masih berupaya mengatasi genset yang mati, namun interkasi Sinau Bareng juga harus terus berlanjut. Bagi al-Mutahabbina fillah, genset mati bukan penghalang, tapi malah justru kian merekatkan gairah, hingga beberapa bendera di area jamaah ikut dikibarkan dengan penuh semangat. Lampu flash dan gerakan tepuk tangan bergantian membentuk formasi.

Mbah Nun memberikan kesempatan kepada jamaah juga panitia untuk turut mengungkapkan apa sinaunya atas apa yang didapat dari situasi itu. Dan setelag satu dua orang menyampaikan, Mbah Nun langsung dengan tegas lugas menjelaskan ini kejadian kontan yang menantang kecepatan kita dalam memetik Sinaunya, menantang daya iqra kita, yang melibatkan apa saja–membaca, meresapi, ngrasakno, berpikir dll sampai mendapatkan yang inti dari kejadian ini. Genset yang mati ini memang benar-benar menantang kecerdasan Sinau kita di untuk merumuskan apa sejatinya yang terjadi sehingga kita semua tidak bubar dalam keadaan itu.

Buku Cak Nun