Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng yang ke-4106

Sinau Syukur Sembari Menyelami Makna Cinta

Liputan Sinau Bareng Dies Natalis ke-62 Universitas Padjadjaran Bandung, Bandung 10 September 2019

Kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng di wilayah Jawa Barat bisa terbilang jarang. Maka, antusiasme jamaah Maiyah yang hadir di GOR Universitas Padjajaran semalam tidak hanya memperlihatkan semangat untuk Sinau Bareng saja, tetapi juga ada rasa rindu yang mereka pendam, dan semalam adalah momentum untuk meluapkan kerinduan itu kepada Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Sejak sore, ketika alat-alat musik KiaiKanjeng ditata, tampak beberapa penggiat Simpul Maiyah Jamparing Asih menemani Pak Irfan dan team mempersiapkan alat-alat musik KiaiKanjeng. Ketika cek sound, mulai berdatangan beberapa jamaah Maiyah.

Ketika personel KiaiKanjeng sampai di lokasi, tampak kelompok hadroh dari Universitas Padjadjaran sedang membuka acara dengan menampilkan beberapa nomor shalawat. Satu hal yang cukup menarik, mengingat kampus ini bukan kampus yang kental dengan nuansa Islam, tetapi ada UKM di kampus ini yang mengakomodir mahasiswa untuk bersholawat.

Di awal, Maiyahan semalam direncanakan hanya berlangsung sampai jam 22.00 WIB. Bukan tanpa pertimbangan, di Jatinangor ini cuaca malam hari cukup dingin, maka panitia memutuskan bahwa Maiyahan semalam tidak akan dilaksanakan sampai lewat tengah malam seperti di tempat lain biasanya. Maka, ketika Mbah Nun dan KiaiKanjeng berada di panggung pun, Mbah Nun langsung ces pleng saja. Beberapa poin penting langsung diwedar.

Tidak perlu berlama-lama, Mbah Nun meminta KiaiKanjeng untuk mengajak jamaah melantunkan wirid La robba illallah, la malika illallah, la ilaha illallah secara berjamaah. Kemudian dilanjutkan dengan Alhamdulilllah wa syukru lillah yang dipandu oleh Mbak Nia dan Mbak Yuli.

Kenapa Mbah Nun mengajak jamaah melantunkan wirid tersebut? Pijakannya tentu saja dari surat An-Naas. Dialektika robbun-maalikun-ilaahun yang menjadi pembuka di surat An-Naas merupakan struktur dialektika yang oleh Mbah Nun ditadabburi sebagai metode tahapan cara kita berkomunikasi. Robbun berasal dari kata robba-yurobbi, kemudian kita mengenal istlah rububiyah.

Jika dalam doa yang sudah kita hapal sejak kecil, ada kalimat warham huma kama robbayanii soghiiroo. Jelas sudah bahwa penempatan kata robbun di urutan pertama dalam struktur 3 ayat awal surat An-Naas menyimpan sebuah pesan khusus. Mbah Nun mentadabburinya dengan pemahaman bahwa pendekatan kasih sayang adalah yang seharusnya selalu diutamakan oleh seluruh manusia dalam segala bentuk hubungan sosial.

Meskipun ada opsi untuk mengaplikasikan rumus maalikun dan ilaahun, Mbah Nun menekankan bahwa aplikasi rububiyah harus selalu menjadi opsi pertama dan yang diutamakan.

Karena tadi malam Maiyahan diselenggarakan di kampus, dan yang hadir tidak hanya mahasiswa, tetapi juga para dosen yang sebagian juga merupakan dekan, bahkan plt rektor Universitas Padjajaran juga turut hadir, Mbah Nun menyampaikan bahwa dalam proses transformasi ilmu dan nilai di kampus juga sebaiknya mengutamakan metode rububiyah.

Kita juga sudah memahami bahwa Rahman dan Rahim adalah ikon utama Allah. Maka kemudian yang selalu kita ucapkan adalah bismillahi-r-rohmaani-r-rohiim. Dua sifat Allah Rahman dan Rahim yang selalu kita ucapkan, bukan sifat yang lain. Bukan bismilahi-l-qohhaaru-l-mutakabbiir, tetapi bismillahi-r-rohmaani-r-rohiim. Apakah masih kurang bukti bahwa Allah juga lebih mengutamakan pendekatan kasih dan sayang kepada kita?

Al-Hubb. Itulah pondasi hubungan kita sebagai manusia dengan Allah. Qul inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uunii yuhbibkumullah. Bahkan, Allah tidak hanya akan membalas cinta kita, tetapi juga akan mengampuni dosa-dosa kita. Wa yaghfir lakum dzunuubakum.

Dan di Maiyahan, secara tidak langsung kita sudah mengaplikasikan hal tersebut. Maka tidak berlebihan kiranya ketika Mbah Nun sering menyebut kita adalah almutahabbiina fillah. Bagaimana kita sebagai jamaah, datang ke Maiyahan dengan bermodalkan cinta. Dengan modal cinta itu, ilmu apapun yang terpendar di Maiyahan, kita siap menerima, dan secara alami kita akan memfilter informasi yang kita terima. Maiyahan menjadi laboratorium pembelajaran kita, sehingga ketika kita kembali ke kehidupan kita sehari-hari, kita semakin terlatih dan tidak mudah kaget. 

Maka sebenarnya di Maiyahan semalam, bukan hanya Universitas Padjajaran yang bersyukur, tetapi semua yang hadir di lokasi Maiyahan semalam juga bersyukur, bahkan juga bahagia. Dan malam nanti, kebahagiaan ini masih akan berlanjut di Desa Mangunjaya, Pangandaran.

Buku Cak Nun