Sinau Nulis Bersama Nahdlatul Muhammadiyin

Tadi malam, 24 Juli 2019, saya berada di Rumah Maiyah Kadipiro untuk mengikuti workshop kepenulisan yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Muhammadiyin (NM). Ketika saya datang, sudah hadir puluhan orang sedang ngobrol santai. Barangkali saya baru melihat, dekorasi pendopo Rumah Maiyah dibuat sangat apik. Terutama penataan lampu dan lapisan kayu di tiang dan atap yang bikin saya tambah kerasan.

Sekitar pukul delapan lebih acara workshop dimulai. Selaku moderator kang Fauzi membuka acara dengan terlebih dahulu mengajak kami, para peserta, untuk bersolawat. Sehabis itu acara dilanjutkan dengan perkenalan kembali sejarah dan perjalanan NM sebagai majelis ilmu. Sambil mendengarkan, teman-teman peserta dimanjakan dengan bermacam hidangan mulai dari gorengan tempe, kacang rebus, ubi kukus, pisang, salak dan jeruk. Untuk minumnya bisa pilih sendiri teh hangat atau kopi. Ringkasnya, workshop tadi malam tidak membiarkan perut kami kosong.

Lalu kang Harianto menyampaikan bahwa workshop malam ini adalah momentum untuk membangkitkan ghirah menulis NM serta teman-teman peserta. Selama ini intensitas diskusi rutin NM masih belum diimbangi dengan upaya pencatatan dan penulisan yang baik. Meskipun ada juga catatan-catatan kecil dan rekaman diskusi yang jumlahnya lumayan namun nihil tenaga untuk mengolahnya. Setelah mengikuti workshop ini teman-teman diharapkan mampu menerbitkan tulisan berupa jurnal.

Kemudian Pak Mustofa W. Hasyim menambahkan tentang latar belakang berdirinya NM. Sebelum dikenal sebagai majelis ilmu seperti sekarang, NM dahulunya dimaksudkan menjadi laboratorium ijtihad. Dua kata yang berat dan sulit. Menurut Pak Mus istilah tersebut terlalu tinggi dan tentu di luar kemampuan NM sendiri. Maka daripada itu tidak jadi digunakan. Spirit yang diusung NM kemudian adalah menuju kedewasaan beragama dalam mewujudkan Islam rahmatan lil’alamin. Dengan begitu Islam dilihat sebagai nilai yang diinternalisasi dan bentuk sosialisasinya adalah ilmu dan perilaku.

Seperti biasanya Pak Mus selalu membawa hal-hal baru yang kadang membuat kami heran, terkejut, dan tidak jarang bingung. Dua poin yang saya tangkap adalah soal kecenderungan ngelindur dan manusia pemenang. Pembacaan atas realitas sosial dewasa ini terutama tentang apa yang dipahami orang sulit untuk memahaminya dengan akal sehat. Orang sekarang begitu gampang berucap, berseloroh dan membicarakan apapun tanpa kewaspadaan, tanpa kehati-hatian dan bisa jadi tanpa kesadaran juga. Pokoknya ngomnyong tak ada urusan baik-buruk, benar-salah, manfaat-madharat. Kira-kira begitu yang dimaksud nglindur itu.

Soal yang kedua, Pak Mus menjelaskan bahwa setiap orang yang “aktif” menyimpan mentalitas pemenang. Manusia sendiri pada dasarnya cenderung bersikap pasif. Maunya diberi atau menerima daripada memberi atau mengasihi. Salah satu cara mengubah kecenderungan tersebut adalah dengan menulis.

Suasana workshop semakin seru ketika kang Har mencoba berinteraksi dengan kami. Pembahasan mengenai jenis, sumber, sifat dan karakter tulisan berjalan santai diiringi joke-joke yang mengundang tawa. Lalu setiap peserta dilatih untuk mengidentifikasi data, fakta, informasi, opini dan harapan melalui benda-benda yang tampak di sekitar. Dalam tahap evaluasi, setiap peserta diminta untuk menyampaikan hasil identifikasinya masing-masing dan diuji konsekuensi jawabannya masing-masing. Ternyata tidak sedikit dari kami yang keliru menempatkan kategori-kategori yang telah ditentukan.

Tak terasa acara sudah berjalan dua jam lebih. Anehnya diantara kami tidak ada yang menunjukkan raut muka yang lelah, jenuh maupun bosan. Para peserta tetap antusias menyimak. Tumpukan kulit kacang, asap rokok dan deretan gelas kosong semakin mewarnai rangkaian acara workshop yang hampir mendekati ujung ini. Beberapa peserta tetap antusias di sesi akhir tanya jawab. Salah seorang peserta mengajukan persoalan menarik yaitu tentang subjektivitas dan objektifitas dalam tulisan.

Persoalan ini langsung ditanggapi oleh pembicara dengan menawarkan konsep verifikasi. Setiap informasi yang masuk ruang pikiran membutuhkan saringan atau pengujian. Secara formal dapat diterapkan prinsip 5W+1H untuk mengukur tingkat akurasi informasi. Dalam pandangan Pak Mus enam prinsip tersebut masih belum sempurna. Beliau menambahkan prinsip hikmah dan makna. Fungsinya adalah menunjukkan pembelaan dan keberpihakan terhadap nilai-nilai yang kita yakini.

Setelah tidak ada lagi peserta yang bertanya dan mengingat malam sudah semakin larut maka acara workshop terpaksa diakhiri. Moderator menutup acara dengan membaca sholawat bersama-sama. Sebelum meninggalkan tempat kami diingatkan kembali bahwa menulis itu belajarnya dengan praktik. Dengan sering menulis maka kepekaan kita akan terasah dan dampaknya pikiran lebih tertata. Tanpa menunggu komando masing-masing kami membubarkan diri. Paling tidak kami kembali ke rumah mendapatkan empat ilmu. Pertama menulis kedua menulis ketiga menulis dan terakhir menulis juga. (Agus Effendi)

Buku Cak Nun