Sinau Menjadi Jam’iyyah Pengusaha Sorga

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 April 2019

Pembahasan mengenai Jam’iyah Pegusaha Sorga yang baru-baru ini mulai diaktivasi di antara para pegiat Maiyah atas restu dari Mbah Nun dipandu sejak awal oleh Mas Helmi. Ini setelah sebelumnya Mas Islami bersama KiaiKanjeng mengajak para sedulur-sedulur yang hadir di Mocopat Syafaat pada tanggal 17 April 2019 M ini bergembira bersama dengan berbagai lantunan shalawat.

Mbah Nun yang malam ini dengan jelas berposisi sebagai “Rektor Maiyah” langsung mengambil bahasan di tengah. Menurut Mbah Nun semua perlu dijelaskan dengan lebih runtut. Ini unik juga, kan biasanya yang sering terjadi Rektor yang ngomongnya ketinggian sehingga perlu dosen atau dekan untuk menyalurkan poin-poin keilmuan pada para mahasiswanya. Tapi di Maiyah memang semuanya bulatan, sebutan yang sedikit bercanda (walaupun kayaknya serius juga kalau dimaknai demikian) sebagai Rektor Maiyah tidak lantas kemudian kita berada pada jenjang yang ningratisme.

Begitupun juga ketika Mbah Nun menjelaskan mengenai konsep syariat-thoriqot-haqiqat dan ma’rifat dalam fungsinya yang riil dalam kehidupan ekonomi manusia. Ini bahasan yang saya belum banyak mendengarnya di berbagai forum. Dalam penjelasan Mbah Nun, tahapan dari syariat hingga ma’rifat bukanlah sesuatu yang satu lebih tinggi dari yang lain, bukan apalagi tangga-tangga dengan di setiap tingkatannya ada kelas sosial tertentu yang mengampunya, tapi justru semua saling melengkapi semua.

Coba kita simak uraian Mbah Nun ini, “Syariat kudu ono haqiqate. Bagaimana mungkin syariat dijalankan tanpa pemaknaannya sedangkan haqiqat itu kunci pemaknaannya. Haqiqat adalah pintu untuk anda bisa memaknai sesuatu, itu haqiqat. Supaya nanti haqiqat yang anda temukan dalam syariat itu kemudian anda jalani dalam thoriqot. Dalam thoriqot yang anda jalani ini ketemulah anda dengan tahap-tahap ma’rifat”. Mendengar penjelasan ini, ma’rifat menjadi bukan sesuatu yang ngeri-ngeri spiritualan. Tapi justru ma’rifat ternyata adalah selaput-selaput tipis di setiap proses kita menjalani hidup, kita singkap sedikit lalu singkap lagi dan lagi dan itu butuh pemaknaan yang tanpa henti.

Menurut Mbah Nun semua itu adalah satu bulatan kesatuan yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. “Itu sebuah mesin rohani-jasmani. Itu mesin peradaban,” tambah Mbah Nun. Wah belum-belum kok sudah bahas ma’rifat-ma’rifatan. Apakah Mocopat Syafaat ini akan jadi kumpulan kebatinan, petapa sufi-sufian dengan berbagai lelaku spiritual? Nah disinilah uniknya Maiyah. Bahasan ma’rifat-ma’rifatan ini justru muncul tidak sekedar sebagai penghias wejangan ala kaum pertapa. Dia justru menyeruak di tengah bahasan mengenai ekonomi yang bagi sementara orang dianggap mungkin bukan fakultas keilmuan yang rohaniah. Tapi di Maiyah, kita dididik untuk bisa memproses segala sesuatunya agar kembali terrohanikan, bukan? Dan kali ini jelas itu soal ekonomi, perdagangan, finansial.

Maiyah tidak pernah berhenti mengejutkan buat saya, dan itu yang asyik. Malam ini saya baru pertama kali duduk di tempat ini, warung yang sudah lama juga ada di MS tapi belum pernah saya sambangi. Dan rasanya seperti punya pengalaman baru lagi walau mungkin beberapa orang cukup terasa bau-bau JM-nya. Ini lokasi yang cukup dekat dengan panggung tapi tidak memungkinkan untuk melihat langsung ke panggung.

Di hadapan saya seorang lelaki muda mengenakan kaos dengan gambar empat tokoh yang (sepertinya) dikaguminya, salah satunya Mbah Nun. Gambar semacam ini jelas bukan selera saya, ada beberapa hal yang saya kurang sepakat. Tapi kita tidak hidup untuk memaksakan apa-apa yang kita sepakati saja, itu salah satu hikmah yang saya dapati di Maiyah. Bagaimana pemaknaan pembaca yang budiman, tentu bisa berbeda dan memang Mbah Nun malam ini juga menekankan pentingnya agar kita mengaktifkan akal untuk selalu terus menerus memaknai, memberi impresi keilahian pada segala fenomena yang kita alami. Kita mencoba mentauhidkan segalanya, membulatkan dalam satu keesaan Allah. Aqal dan ruhani tidak bertentangan justru saling melengkapi.

Negeri seberang sedang sibuk dan riweuh atas urusan penyelenggaraan sebuah tradisi yang telah ada sejak ribuan tahun lalu di Yunani. Tradisi pemilihan pemimpin, tradisi demokrasi. Istilah NKRI-nya pilpres. Suasana serba gaduh dan berisik. Tapi itu tidak terasa di Negeri Maiyah. Kita bisa memilih hal mana yang kita ingin maknai terus, kalau kita pikir kenapa demokrasi dianggap modern sementara mekanisme dari budaya lain tidak dianggap relevan dan modern? Sesungguhnya poin Mbah Nun agar kita selalu “aktif memaknai” menemukan relevansinya.

Lainnya