Sinau Mendidik Anak dari Ibu Via

Padhangmbulan pada setiap edisi bulan Mei selalu spesial bagi jamaah Maiyah. Selalu meriah, selalu full team. Cak Nun, Ibu Via dan KiaiKanjeng selalu hadir di Padhangmbulan edisi Mei setiap tahun. Bahkan, selalu ada bonus. Jika tahun lalu ada Letto, tahun ini ada Dalang Sigid dari Rembang yang mementaskan lakon Dewa Ruci.

Meriah. Sudah pasti. Jamaah sudah berdatangan ke Menturo sejak pagi hari. Yang datang, tidak hanya dari sekitaran Jombang dan kota-kota di Jawa Timur saja. Dari luar Jawa Timur, bahkan luar Jawa pun banyak yang datang ke Padhangmbulan edisi Mei setiap tahunnya. Semacam temu kangen, momen satu tahun sekali yang sangat spesial, sehingga sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Maiyahan itu bukan tontonan, maka apapun saja yang tampil di panggung Maiyahan sebisa mungkin jamaah Maiyah harus mampu mengambi nilai yang murni. Seperti di Padhangmbulan edisi spesial ini, hadirnya Ibu Via dan Dik Haya bukan hanya sekadar tampil menyanyikan beberapa lagu saja, tetapi yang menjadi bonus lagi adalah Ibu Via berbagi pengalaman bagaimana mendidik anak-anak di rumah.

Dalam ilmu tarbiyah sudah lazim terdengar ungkapan; Al-ummu madrosatu-l-uulaa, idza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Sebelum kita mempelajari apa yang disampaikan Ibu Via, ada baiknya kita juga mundur ke belakang, bagaimana Ibunda Chalimah dahulu mendidik anak-anaknya, termasuk Cak Nun. Ada banyak kisah yang sudah pernah diceritakan oleh Cak Nun bagaimana beliau dididik dengan pendidikan yang serius oleh Ibunda Chalimah.

Misalnya bagaimana Cak Nun memiliki kemampuan qiro’ah Al-Qur`an dengan suara dan nada yang baik, salah satunya adalah kebiasaan Ibunda Chalimah membacakan Surat Ar-Rahman ketika sedang berdua bersama Cak Nun pada saat masih kecil menjelang tidur. Kisah lain, ketika Cak Nun kedapatan mencuri krai di sebuah kebun, Ibunda Chalimah menyeret Cak Nun dengan menjewer telinganya dari langgar hingga ke rumah si petani yang krainya dicuri. Disuruhnya Cak Nun untuk meminta maaf kepada pemilik kebun. Pendidikan mental untuk mengakui kesalahan yang dilakukan bukanlah sebuah didikan yang mudah. Begitu juga, kenapa Cak Nun begitu dekat dengan rakyat kecil, karena di masa kecilnya Cak Nun selalu diajak oleh Ibunda Chalimah untuk berkeliling kampung, mendatangi tetangga yang kesulitan hidupnya, diajaklah Cak Nun menengok dapur mereka, menanyakan ketersediaan bahan makanan pokok mereka, menanyakan kabar anak-anak mereka, bagaimana sekolahnya dan seterusnya. Itu baru sedikit kisah bagaimana Cak Nun dididik dan dibentuk mentalnya oleh Ibunda Chalimah.

Bahkan, ketika Cak Nun sudah dewasa, Ibunda Chalimah pun masih terus menanamkan pendidikan kepada Cak Nun. Cak Nun pernah berkisah, difetakompli oleh PPP pada Pemilu era 80-an, ketika Orde Baru masih berkuasa untuk menjadi salah satu orator pada sebuah sesi kampanye di Alun-alun Utara Yogyakarta. Bukan perkara mudah, dan Cak Nun saat itu mengalami kebingungan bagaimana harus mengambil sikap. Tiba-tiba, Ibunda Chalimah datang dari Jombang ke Yogyakarta. Setelah Cak Nun mengungkapkan keresahannya, Ibunda Chalimah berpesan kurang lebih seperti ini: “Hidup itu sederhana, Nak. Berbuat baik, di mana saja, dengan siapapun saja”. Jika kita menelisik lebih jauh sosok Ibunda Chalimah, maka tidak mengherankan kemudian kita mendapati sosok Cak Nun dan saudara-saudaranya memiliki sikap mental yang kuat, tangguh, dan mandiri.

Tema utama Padhangmbulan kali ini adalah mentadabburi perjalanan Cak Mif, salah satu kakak Cak Nun yang merupakan pemegang tongkat estafet Ayahanda Muhammad Abdul Lathif merintis pendidikan di Menturo. Cak Fuad pun menyematkan “Pahlawan Pendidikan Menturo” kepada Cak Mif. Cak Mif yang saat itu, pada tahun 70-an sedang menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi UGM, sebuah fakultas yang sangat diidam-idamkan oleh banyak orang, di sebuah kampus yang juga ternama, harus mau meninggalkan kuliah demi melanjutkan perjuangan Ayahanda merintis pendidikan di Menturo.

SMK Global yang kita lihat hari ini bukan tiba-tiba lahir. Semua berproses dari awal, dari sebuah lembaga pendidikan dasar yang dirintis oleh keluarga besar Cak Nun, dibiayai dan juga guru-gurunya digaji oleh keluarga Cak Nun. Menjelang meninggalnya Ayahanda, Cak Mif diminta secara khusus untuk memimpin rapat para guru. Dari peristiwa tersebut, Ibunda beserta saudara-saudara Cak Nun mempercayakan Cak Mif untuk meneruskan perjuangan Ayahanda. Hingga sekarang.

Bagiamana kemudian Ibu Via berbagi cerita mendidik anak-anak di rumah? Cak Yus, salah satu adik Cak Nun yang juga merupakan seorang praktisi pendidikan meminta Ibu Via untuk berbagi. Apa sebab? Cak Yus ingin memperlihatkan kepada jamaah Maiyah, bahwa Ibu Via adalah sosok Ibu yang penuh tanggung jawab dan penuh dedikasi dalam mendidik anak. Sekaligus, Cak Yus ingin menyampaikan bahwa bukan berarti karena menjadi anaknya Cak Nun, maka peran mendidik anak menjadi lebih mudah. Ternyata tidak. Ibu Via menceritakan bagaimana mendidik anak bermula dari rumah. Bagaimana sosok Ibu terutama memiliki peran yang sangat penting dalam membangun sikap mental anak-anak. Sehingga, ketika anak-anak bersentuhan dengan dunia sekolah, mental yang baik sudah terbangun karena pendidikan itu sudah ditanamkan sejak dari rumah.

Pernahkah kita membayangkan, ketika Cak Nun harus meninggalkan keluarga untuk menemani jamaah Maiyah, bersama KiaiKanjeng menyambangi tempat-tempat yang jauh, bukan hanya luar kota saja, namun juga luar pulau, bahkan sampai luar negeri. Yang di dalam negeri pun, seringkali di desa-desa yang terpencil, pelosok. Di rumah, Ibu Via mengambil kendali pendidikan anak-anak di rumah.

Ibu Via mengakui, ia adalah sosok Ibu yang tegas, keras, bahkan kejam. Artinya, Ibu Via tidak akan mentolelir setiap kesalahan anak-anak di rumah. Misalnya, ketika kamar anak-anak berantakan, maka aturan yang ditanamkan oleh Ibu Via adalah jangan sampai Ibu Via yang membereskan dan merapikan kamar. Jika sampai Ibu Via yang merapikan kamar, maka akibatnya anak-anak akan dimarahi oleh Ibu Via. Satu lagi, ketika hendak menyuruh anak-anak untuk melakukan sesuatu, tahap pertama yang dilakukan oleh Ibu Via adalah memanggil nama panggilan anak-anak. Jika anak-anak masih bergeming, tanda bahwa Ibu Via sudah akan marah adalah jika Ibu Via memanggil nama lengkap anak-anak. Dan anak-anak sudah paham, jika Ibu Via memanggil nama mereka dengan lengkap, maka itu artinya Ibu Via sudah sangat marah.

Namun demikian, Ibu Via menjelaskan bahwa dalam mendidik anak di rumah memang harus tarik ulur. Tidak terlalu memanjakan, juga tidak terlalu tegas. Sehingga, anak-anak mendapati sosok Ibu yang benar-benar mendidik anak-anak di rumah. Meskipun tegas, Ibu Via mengakui bahwa ia juga tetap mampu menjadi Ibu yang bisa bercanda dengan anak-anak di rumah.

Satu hal yang menarik, yang ditekankan oleh Ibu Via adalah memang pendidikan mental dan akhlak anak-anak. Ibu Via menyampaikan, bahwa nilai baik dari mata pelajaran yang dicapai oleh anak-anak itu penting, tetapi bukan yang utama. Jika anak-anak mendapat nilai buruk, masih bisa ditingkatkan di semester berikutnya atau ulangan berikutnya. Tetapi, jika urusannya moral dan akhlak, Ibu Via tidak akan mentolerir. Setiap terima raport, anak-anak Ibu Via akan selalu dicecar pertanyaan jika ada nilai akhlak yang kurang. Dan anak-anak selalu dididik untuk mempertanggungjawabkannya. Jika ada nilai yang kurang, Ibu Via atau Cak Nun akan mengantarkan anak-anak ke sekolah, kemudian meminta anak-anak untuk menanyakan kepada Guru mereka di sekolah, mengenai nilai yang kurang itu tadi.

Kita bisa melihat, bukan hanya sekadar tentang nilai yang diperoleh, tetapi juga bagaimana mendidik anak untuk mempertanggungjawabkan pencapaian nilai tersebut. Sehingga, orang tua juga akan mendapat informasi mengenai sebab kenapa anak mendapatkan nilai yang kurang dan juga anak akan terlatih mentalnya untuk bertanggungjawab, sehingga kesalahan yang sudah dilakukan tidak akan terulang di kemudian hari.

Begitu juga dengan prestasi akademis. Bagi Ibu Via, jika anak-anak mengikuti sebuah perlombaan di sekolah maupun di luar sekolah, bukan soal juara atau tidak juara. Ibu Via menanamkan, juara atau tidak juara bukan hal yang utama. Karena bisa jadi, mereka menjadi juara karena anak yang lebih hebat tidak mengikuti perlombaan. Yang lebih utama adalah bahwa anak-anak serius mengikuti perlombaan, dan menjalani tahapan demi tahapan atas dasar kesukaan mereka terhadap perlombaan yang mereka ikuti. Juara hanya bonus.

Ibu Via mengakui, mungkin apa yang dilakukan belum tentu tepat dan bisa diaplikasikan di keluarga jamaah di rumah. Namun setidaknya, apa yang dibagikan oleh Ibu Via semoga bisa menjadi referensi tambahan bagi jamaah Maiyah, bahwa pendidikan yang utama adalah pendidikan di rumah. Dan orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak-anak di rumah.

Cak Nun secara khusus menyampaikan, bahwa di Padhangmbulan kali ini Ibu Via adalah yang sudah secara langsung mendapat Lailatul Qodar. Cak Nun mengungkapkan kebahagiaannya karena sangat jarang Ibu Via berbicara panjang lebar di Maiyahan, apalagi membahas tentang Pendidikan.

Buku Cak Nun Majalah Sabana