Sinau Ma’rifat Kesehatan

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Mei 2019

“Selalu gembira dan gembira. Kita gembira karena dan di dalam Allah,” kalimat Mbah Nun malam hari ini sangat jelas terdengar dengan makna yang penuh utuh. Apa yang kita dapat di Maiyah, selalu saja segalanya timbal-balik, dialektis serta selalu dimulakan dari Allah hingga kembali pada Allah Swt sendiri. Termasuk soal kesehatan. Bahasan mengenai kesehatan tidak terpisah sebagaimana pemahaman sekuler bahwa dia adalah urusan ilmu duniawi namun juga kesehatan sangat berkaitan erat dengan relasi iman.

Malam tangggal 17 Mei 2019 Masehi ini, majelis kemesraan dan kegembiraan Mocopat Syafaat konsentrasi pada pembahasan mengenai kesehatan. Adalah sebuah buku karya dr. Ade Hashman yang meneliti soal konsep kesehatan dari Mbah Nun yang kemudian menjadi pengantar bahasan malam hari ini. Mas Helmi dan Mas Jamal membuka bahasan dan untuk kemudian juga turut hadir dokter Eddot dan Kiai Muzammil untuk melengkapi bahasan. Mas Helmi membuka dengan bahasan buku dokter Ade. Pengenalan yang tandas mengenai siapa itu dokter Ade dan alasan penelitian tersebut diadakan. Menurut Mas Helmi keberadaan buku ini sangat memperkaya khazanah sudut pandang kita di Maiyah, kita ketahui bersama Mas Helmi bukan perokok aktif.

Mas Jamal juga menambahkan dengan beberapa cerita mengenai tokoh-tokoh yang berusia cukup panjang. Salah satu yang diambil sebagai contoh misalnya Nelson Mandela saat masih hidup. Hingga akhir hayatnya Nelson Mandela yang tokoh anti-rasialisme di Afrika ini sangat bugar, selalu mengenakan batik yang disebutnya sebagai baju Melayu konon ini adalah bentuk apresiasi beliau terhadap Gurutta’ Syekh Yusuf al-Taj al-Khalwati al-Makassari.

Menurut Mas Jamal ketika Nelson Mandela ditanyakan mengenai rahasia kesehatannya, Nelson Mandela menyatakan bahwa dia hanya suka berperjalanan dan menikmati bertemu banyak orang. Ternyata dalam dunia medis orang yang penuh kegembiraan dengan pikiran yang selalu aktif dan bertemu dengan orang-orang baru memang secara statistik berusia relatif lebih panjang dan lebih sehat. Bukankah silaturrahim itu yang selalu kita bangun di Maiyah? Semoga JM selalu sehat dan berusia awet penuh barokah manfaat bagi sekeliling.

Mbah Nun juga sempat tekankan bahwa, “Kita bukan sehat, tapi sedang tidak diizinkan sakit oleh Allah Swt.” Dan dengan mengambil hikmah dari kehidupan Rasulullah Saw ketika saatnya diberi sakit, kita juga perlu mengambil sikap pikiran apakah dia adalah sebuah teguran, sapaan, nikmat atau adzab dari Allah Swt. Maka soal kesehatan juga adalah bagaimana sudut hingga lingkar pandang kita dalam menyikapi itu yang penting. Maiyah sangat mentauhidi segala sesuatu sehingga apa yang disebut spiritualitas selau berhubungan dengan ranah fisik dan begitupun sebaliknya, walau kadang pemisahan juga penting dalam mengambil sikap tapi secara kesdaran kita tidak sekuler dalam hal-hal ini.

Ketika dokter Eddot misalnya menjelaskan bahwa dalam dunia kedokteran yang terkini, persepsi bahwa dokter adalah yang paling tahu mengenai fenomena kesehatan si pasien sudah mulai ditinggalkan. Dalam ranah mistisisme yang tradisional, yang menganut konsep guru-murid dengan bait baku, kerap digunakan analogi bahwa guru adalah dokter batin bagi si murid sehingga murid harus manut pasrah bongkokan pada guru. Dengan pemahaman baru bahwa ternyata setiap manusia mustinya adalah yang paling memahami diri dan kesehatannya, dan dokter hanyalah sebagai opsi opini dengan basis pengetahuan teoritis bukankah ini juga membawa pada dekonstruksi pemahaman narasi mistis lawas? Bisa jadi.

Dan jangan juga dipikir bahwa ketika kita membahas kesehatan lantas akan ada kontinuasi peradaban resep semacam “lakukan ini dan jangan lakukan itu”. Karena kembali lagi, setiap individu punya batas dan pengalaman yang berbeda. Begitu fisiknya, pun juga jiwanya. Tentu ada batasan garis besar, misalnya ya untuk sebagian besar manusia minum satu ember obat nyamuk cair tentu berakibat tragis. Minimal kembung, entah ini persoalan bahan yang diminum atau karena urusan ukuran yang satu embernya itu. Maaf, bercanda sedikit.

Intinya, dalam pembahasan berbagai hal di majelis Maiyah kita bukan dicekoki resep tapi kita dilatih menggunakan akal, logika dan segala daya lain yang mungkin di luar pemahaman kita untuk justru bisa mandiri menyusun resep sendiri yang berguna bagi diri kita sendiri. Syukur-syukur kalau bisa diterapkan pada keluarga, masyarakat dan yang lebih luas. Tapi kita juga perlu mengerti batas. Kadang kita kebablasan pembahasan.

Sesi tanya jawab berlangsung dan Kang Muhtasib langsung suaranya dikenali oleh bahkan jamaah yang paling belakang. Pembahasan soal kesehatan dibawa oleh Kang Muhtasib yang sangat tinggi kepedulian sospolbudnya dengan kasus petugas KPPS di daerahnya. Juga Kang Muhtasib sempat (bertanya? memberi masukan?) menyatakan daripada pemilu bikin ribut kenapa kita tidak kembali punya dewan wali seperti dulu. Sungguh romantisme masa lalu yang mengharukan didukung oleh keprihatinan yang dahsyat, walau secara rasional mungkin kita bisa bilang bahwa dengan mentalitas yang ada sekarang kalau ada dewan wali yang tugasnye memilih pemimpin ya nanti ributnya saat memilih Dewan Walinya itu.

Mbah Nun meresapi pertanyaan Kang Muhtasib dengan tidak serta-merta menjawab pada arus pertanyaan melainkan menyapa Kang Muhtasib. “Aslinya Muhtasib cuma rindu,” kata Mbah Nun. Dan dilanjutkan menurut Mbah Nun Maiyah ini adalah rendesvouz di mana segala hal saling bertemu dengan titik kemesraannya masing-masing.

Beberapa pertanyaan lain juga muncul, seorang lelaki muda menanyakan perihal penyakitnya yang langka “dan banyak”. Cukup membingungkan pada awalnya, ternyata maksudnya “banyak” adalah banyak dalam satu rumah sakit saat dia dirawat, dan dia sedikit dari yang selamat dari penyakit tersebut. Maka inilah kemudian pada marja’ kedokteran kita seperti dokter Eddot memberi masukan-masukan yang berharga dan menambah khazanah pandang kita.

Seorang lagi bertanya mengenai penyakit ibunya yang dicurigai adalah hasil kirim-kiriman, bagaimana memastikan ini penyakit medis atau non-medis? Di sini Mbah Nun memberi jawaban yang menggugah bahwa jelasnya tidak terpisah antara yang dianggap medis dan non-medis. Bisa saja dia dari sesuatu yang (sementara ini) dianggap non-medis tapi perlu pengobatan medis, misalnya kalau disantet dengan dimasukkan becak kedalam perut? Bukan misal benda yang membuat perut luka, kan tetap butuh penanganan medis. Jadi kemudian kita dilatih kembali seimbang berpikir bahwa setiap sudut pandang sama penting dan sama berharganya. Bahwa ada yang konsentrasi pada satu bidang itu persoalan ekspertasi.

Ada satu bahasan mengenai ekspertasi, dia muncul ketika Kiai Muzammil membabarkan mengenai kalimat dalam Al-Qur`an yang berbunyi “athi’ullaha wa athi’urrasul wa ulil amri minkum”. Selama ini ayat tersebut dijadikan legitimasi agar orang patut manut tunduk pada kekuasaan politik. Tapi dua hal mencuat di sini, bahwa direksi kalimat yang tidak mengulang kata “athi’u” bermakna posisi ketaatannya jauh di bawah dua yang pertama (Allah dan Rasul).

“Ulil amri” diberi tadabbur oleh Mbah Nun bahwa bukan melulu soal kekuasaan politik, namun lebih kepada ekpert-ekspert, pakar-pakar keilmuan. Kita perlu menghargai setiap ahli pada bidang keilmuan tertentu tapi tingkatannya bukan menganut, tetap punya kemandirian pikir berdasarkan pengalaman kita sendiri.

Bu Novia juga tampil melengkapi kemesraan dan kegembiraan malam hari ini. Dari Bu Novia kita kembali disegarkan ingatan ketika Mbah Nun mengalami gangguan kesehatan yang luar biasa. Dokter Eddot juga salah satu saksinya. Bahwa kala itu Mbah Nun divonis secara medis tidak punya harapan hidup lebih dari tiga bulan. Itu masa di mana memang permusuhan di langit-langit kekuasaan sangat memuncak. Mbah Nun memang sejak dulu sangat vokal pada kekuasaan dan itu tetap dari dulu hingga sekarang. Pada masa itu, kekuasaan politik berada pada pihak yang sangat dijunjung dan dikeramatkan oleh pendukungnya dan entah apakah memang ada hubungannya atau tidak, Mbah Nun tetap vokal pada penguasa. Belakangan ini, hal serupa terjadi dalam bentuk yang tak kalah mengerikan bernama media sosial.

Pengalaman Mbah Nun memang kita jadikan sumber rujukan namun ini bukan cerita mengenai Mbah Nun saja. “Saya berijtihad dan tidak ada paksaan bagi anda untuk mengikuti ijtihad saya. Yang mutlak harus anda ikuti adalah Allah dan Rasulullah,” kata Mbah Nun. Dan ditambahkan lagi bahwa, “Kita sedang belajar mengenai apa itu sakit, apa itu sehat. Dan bagaimana kita bersikap terhadap sakit dan sehat”.

Dengan belajar mengenai kesehatan, salah satunya kita juga belajar mengenai betapa rentan dan lemahnya kita sebagai manusia. Dan dengan menyadari bahwa kita ini makhluk yang lemah, kita kemudian akan memperbaiki sikap kita terhadap sesama, mulai tidak merepotkan orang lain, tidak menambahi masalah serta ikut saling menguatkan. Karena kita, satu komunitas bernama manusia di yang hidup di dalam Allah Swt sendiri. Kita belajar lebih presisi sikap dan seimbang karena salah satu kunci kesehatan adalah seimbang, Mbah Nun katakan juga, “Lapar itu baik, kenyang itu buruk. Kelaparan dan kekenyangan itu sangat buruk”.

Bulan ini sedang bulan Ramadlan dan seruan-seruan sahur mulai berbunyi dari berbagai pengeras suara. Ada yang merdu ada yang parau. Malam ini kita belajar untuk lebih ma’rifat dalam kesehatan. Karena rupanya menurut Mbah Nun ma’rifat ini tidak harus melulu soal yang seram-seram atau selalu soal narasi mistis belaka. Ma’rifat dalam terminologi di Maiyah adalah proses penyibakan lapisan-lapisan pengetahuan, tiap saat kita mengalami ma’rifat asal kita selalu mencari. Mencari apa kalau bukan terutama mencari diri kita sendiri dahulu? Karena diri kita ini unik, maka kita perlu mencari seperti apa diri kita sendiri.

Malam ini diakhiri dengan doa yang tampaknya para JM sangat mendoakan agar Mbah Nun, Bu Novia, KiaiKanjeng dan seluruh JM sendiri selalu terjaga kesehatannya. Kesehatan yang dari berbagai lintas dimensi pemahaman yang telah kita ma’rifati kembali malam ini dan pada waktu-waktu setelahnya dalam berbagai rendesvouz Maiyah. Mari kita aktif mendoakan kebaikan dan kesehatan bagi semuanya. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun