Sinau Kembali Manusia, Uang, dan Pekerjaan

(Liputan Sinau Bareng di RSU Sakina Idaman, Sleman, Yogyakarta, 31 Agustus 2019)

Kita masih akan terus mempelajari diri kita melalui perspektif triple keywords: manusia nilai, manusia pasar, dan manusia istana. Saya pun melihat Mbah Nun tak pernah statis dan berhenti. Semalam di ruang transit acara Sinau Bareng dalam rangka peresmian Masjid RSU Sakina Idaman, saya menyimak obrolan Mbah Nun dengan manajemen RSU Sakina Idaman. Kalau barang diproduksi lalu dijual, maka mungkin relatif mudah menentukan harganya. Tetapi kalau ilmu, bagaimana cara menentukan harganya? Demikian Mbah Nun bertanya.

Sembari tetap menyimak obrolan tersebut, pertanyaan Mbah Nun barusan segera loading dalam pikiran saya menjelma suatu interupsi yang mengajak kita untuk menimbang kembali paradigma yang melandasi berjalannya ekonomi kita, terutama apa yang disebut sebagai ekonomi pengetahuan. Suatu ekonomi yang meyakini bahwa (pekerjaan) pengetahuan atau informasi memiliki harga yang tinggi. Siapa ingin eksis di masa kini, wajib baginya menguasai pengetahuan. Demikian sering dikatakan.

Dalam konteks kedokteran (di mana bagi Mbah Nun dokter itu adalah manusia nilai), jika mau benar-benar objektif bagaimanakah caranya menentukan tarif atas jasa/pekerjaan dokter, sedangkan menurut Mbah Nun dalam Sinau Bareng tadi malam, dokter itu berada di tempat di antara hidup dan mati seseorang, di mana peran Tuhan sangat tampak.

Dokter mengobati, tapi kesembuhan seratus persen di tangan Tuhan. Maka jika ada uang yang diterima mestinya bukan karena pengobjektifan harga atas jasa dan ilmu pengetahuannya.

Secara tak langsung, Mbah Nun mengingatkan, pengobjektifan harga atau nominal uang atas suatu jasa atau ilmu sebenarnya melekat di dalamnya pemutusan kesadaran ke sumbernya yaitu Tuhan yang memberikan ilmu dan kemampuan dan itu pada dasarnya tak bisa dikonversi dengan besaran uang seberapapun. Alternatifnya, yang diperlukan adalah mengubah cara memandang/menempatkan uang dalam diri kita, memperbaiki pemahaman mengenai interaksi antar manusia, dan membenahi kembali pemahaman tentang pekerjaan.

Maka Mbah Nun memberi contoh lewat pesan kepada teman-teman Manajemen RSU Sakina Idaman bahwa it’s okay dengan semua sistem yang sudah berlangsung di mana ada transaksi pembayaran dari pasien kepada RS, namun yang perlu diubah adalah sikap atau niat di dalam hati. Menurut Mbah Nun, khususnya para dokter dan perawat sebaiknya setiap melakukan tugas memperbesar niat di dalam hati yaitu untuk menolong orang lain dan mengabdi kepada Allah. Niat itu yang harus diperbesar sehingga memenuhi hatinya. Jangan sampai ada uang membayang dalam pikiran setiap kali menjalankan pekerjaan.

Ini kemudian dipertegas oleh Mbah Nun di awal Sinau Bareng dengan mengatakan bahwa sebenarnya dalam setiap pekerjaan itu ada makna ganda. Yaitu, suatu pekerjaan dilakukan sebagai jalan untuk mencari uang/nafkah, tetapi juga sekaligus sebagai jalan untuk nyenengke/ngabekti kepada Allah. Bahkan Mbah Nun mengatakan, “Setiap yang kita putuskan itu berdimensi banyak, maka isilah dengan niat baik yang banyak.” Pekerjaan dan niat sangat berhubungan, dan jangan dipisah.

Bahkan berangkat dari pertanyaan Mbah Nun dan obrolannya tadi, sempat pula saya bertanya-tanya, sebenarnya yang dimaksud pekerjaan itu apa ya. Wah, maaf, jadi berkembang. Mbah Nun pernah bertanya apakah menjadi seorang Bupati atau Gubernur itu pekerjaan ataukah pengabdian? Berdasarkan apakah sesuatu itu disebut pekerjaan? Apakah berdasarkan kaitannya dengan uang yang diperoleh dari pekerjaan tersebut? Jika iya, sulitlah kiranya seseorang yang menjabat sebagai bupati disebut, pekerjaan: bupati; dikarenakan tekanan utama jabatan bupati adalah pengabdiannya kepada masyarakat. Term pekerjaan tiba-tiba menjadi tidak fixed dan tidak stabil maknanya dalam pikiran saya. Tetapi, dari semua itu, saya merasa melalui triple keywords yang sedang kita pelajari, Mbah Nun telah mengantarkan pada detail di dalamnya: meninjau kembali pandangan mengenai uang dan pekerjaan. Sebagian detail terkait sudah teman-teman pahami: uang sebagai akibat, uang sebagai tanda syukur, dll.

***

Salah satu ruangan di dalam RS Sakina Idaman tempat Mbah Nun transit dan berbincang-bincang dengan Bu Muslimatun yang didampingi jajaran manajemen RS Sakina Idaman tanpa terasa telah diwarnai lontaran-lontaran reflektif. Padahal ini belum Sinau Bareng. Di ruang transit itu, Bu Muslimatun menyampaikan terima kasihnya kepada Mbah Nun yang sudah kerso rawuh dan Bu Muslimatun merasa bejo kemayangan dengan kedatangan Mbah Nun. Di atas panggung, Bu Muslimatun yang juga Wakil Bupati Sleman menyampaikan mau mengaji kepada Mbah Nun dan di ruang transit sinau tadi sudah dimulai.

Sementara itu selama awal Sinau Bareng, Mbah Nun memberikan beber kloso dengan cukup jelas dari berbagai sisi, dan bersamaan dengan itu kurang lebih sembilan ayat al-Qur’an saya hitung sudah ekaligus dimaknai oleh Mbah Nun bagi kelengkapan beber kloso ini. Di antaranya ayat wa ma uutitum minal ‘ilmi illa qaliila (dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit). Beber kloso ini sudah sarat konten, namun demikian Mbah Nun menyampaikannya tanpa sedikit pun membiarkan butir-butir kegembiraan tak melekat di dalamnya. Di awalan ini pula, Mbah Nun juga ajak jamaah untuk membaca al-Fatihah utamanya untuk kesembuhan para pasien yang sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit ini.

Salah satu muatan selepas beber kloso adalah jamaah diajak Mbah Nun melakukan satu workshop dengan membagi jamaah ke dalam tiga kelompok dan mereka diajak berkomposisi suara dan gerak dengan melantunkan La Robba Illallah (kelompok 1), La Malika Illallah (kelompok 2) dan La Ilaha Illallah (kelompok 3), dan disertai musik KiaiKanjeng. InsyaAllah akan saya hadirkan pada catatan selanjutnya, karena bagian ini sangat penting dan relevan dengan posisi peran orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan seperti manajemen, dokter, dan perawat RSU Sakina Idaman yang malam tadi sangat berbahagia dengan capaian saat ini dan diungkapkan rasa syukurnya melalui Sinau Bareng.

Buku Cak Nun