Sinau Bersyukur dan Presisi Karena Tiada Manusia Tahu Segalanya

Catatan Sinau Bareng CNKK di Tlogo, Prambanan, Klaten, 27 Juli 2019

Mbah Nun kembali mengingatkan bahwa Maiyah bukan dimaksudkan untuk jadi identitas luaran. Maiyah jadikan energi dasar yang melambari jurus-jurus kita dalam menghadapi derasnya arus kehidupan. Bahkan agak ekstrem Mbah Nun katakan, “Maiyah tidak hebat. Tidak ada kehebatan di Maiyah.” Kita tetap pada prinsip laa haula wa laa quwwata illa billah. Jangan karena sering ber-Maiyah lantas identitas anda sebagai NU, Muhammadiyah, FPI, HTI, LDII, Cah Senja, Anak Indie, Army BTS, Cah Nyeni, Cah Etnik atau apapun identitas anda menjadi terganggu. Tetap dengan jalur anda sendiri dan di sini kita bersama-sama merayakan keunikan masing-masing.

Yang selalu digali dalam Sinau Bareng adalah bagaimana manusia menemukan dirinya masing-masing, namun di saat bersamaan juga membangun kebersamaan yang saling menguatkan. Perjalanan menuju Tuhan, adalah personal dan memang presisinya perlu seteliti bilah rambut dibelah ribuan. Presisi itulah kita saling bersama, agar saling mengingatkan. Presisi untuk mengenali diri kita, siapa diri kita sebagai makhluk, manusia berbangsa, bersuku, berkebudayaan, beragama dan sebagainya Mbah Nun sangat percaya pada potensi kaum muda.

“Kelak anda yang muda-muda yang akan memimpin Indonesia.” Mbah Nun sangat dalam berpesan agar kelak Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa benar-benar diaplikasikan dan Pancasila betul-betul dijalankan secara substansial, akar nilai. Bukan Pancasila yang doktriner dan dogmatis. Nasionalisme yang menjiwa, bukan yang kostum seragam. Yang bekerja sama, bukan menjadikan massa. Atau dengan tegas Mbah Nun sebutkan, “Kembalikan Pancasila yang sejati. Pancasila yang tidak mengusir-usir, tidak membubar-bubarkan.” Bukankah kita tahu, jiwa Nuswantara adalah jiwa ibu yang menerima?

Kita juga kembali diingatkan untuk terus belajar. Semangat menggali, mencari tahu dan mencari paham, mengalami ilmu di manapun dan kapanpun. Selalu mong tinemong, saling ngemong satu sama lain.

Pak Sutrisna Wibawa yang oleh Mbah Nun dijadikan ketua dewan juri Workshop menyampaikan, “Sinau Bareng ini dalam teori pendidikan disebut long life education.” Karenanya menurut beliau, pemetaan hadirin yang datang sangat beragam dilihat dari karakteristik, usia, gender, hingga lapis ekonomi. Karena dia bersifat holistik. Bukan berarti semua hal akan diajarkan dalam Sinau Bareng karena memang bukan pengajaran. Tapi semua hal bisa dibahas, karena kebutuhan keilmuannya bisa berbeda-beda.

Karena itu di Maiyah kita punya marja’ atau rujukan dalam beberapa spesifikasi keilmuan. Misal dalam hal bahasa Arab dan tafsir mushaf Qur`an dan dalil agama kita merujuk pada keilmuan Cak Fuad, dalam pemetaan ilmu sosial dan aktivisme kita bisa merujuk Pak Toto, dalam seluk-belum tasawwuf kita bisa merujuk pada Syekh Nursamad Kamba, dan banyak lagi. Sekali lagi, dalam Sinau Bareng banyak hal bisa dibahas. Dibahas bukan sekadar diajarkan. Dan malam ini Mbah Nun juga mengumumkan bahwa Pak Ian L. Betts yang sayangnya tidak bisa hadir, menjadi marja’ dalam urusan hubungan dan persoalan global.

Takbir Akbar, sebuah nomor dari KiaiKanjeng yang terasa sangat wingit menghentak-hentak dilantunkan. Mengajak berdzikir, mendalami samudera Yaa Huu meleburkan kembali identitas-identitas dunia itu pada Yang Maha Akbar.

Lainnya