Sinau Bersyukur dan Presisi Karena Tiada Manusia Tahu Segalanya

Catatan Sinau Bareng CNKK di Tlogo, Prambanan, Klaten, 27 Juli 2019

“Kenapa Sinau Bareng? Karena saya tidak lebih tau dari anda semua. Kita semua sawang-sinawang. Ada yang anda ketahui, saya tidak tahu. Ada yang saya ketahui, anda tidak ketahui. Karena tidak ada orang yang bisa mempelajari semua hal.” Dan kalimat Mbah Nun ini dilanjutkan dengan alasan kedua mengenai kenapa “Sinau Bareng” yakni bahwa menurut Mbah Nun, perintah pertama dalam Al-Qur`an yang berbunyi “Iqra`” dan perintah tersebut berlaku untuk semua manusia. Maka setiap manusia sebaiknya memosisikan diri sebagai sesama pembelajar. Saling menjadi partner dalam menuntut ilmu dan bukannya menuturi dengan kesadaran bahwa yang berada di hadapannya adalah awam yang mesti dikomando-komando.

Ini adalah gelaran Sinau Bareng ke-4084 bagi Mbah Nun dan KiaiKanjeng di seluruh penjuru Nusantara. Belum dihitung acara di luar negeri serta kegiatan yang Mbah Nun datangi tanpa KiaiKanjeng. Malam ini 27 Juli 2019 di lapangan Kridobuwono, Ds Tlogo, Prambanan, Klaten, Sinau Bareng digelar. Ini kedua kalinya di tempat ini. Tampak pula hadir perwakilan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kacamatan), Danramil serta Kapolsek dan juga Pak Sutrisna Wibawa, Rektor UNY yang memang juga dianggap sesepuh oleh masyarakat setempat. Tema yang dipilih oleh panitia adalah Sinau Syukur.

Dan syukur, ini kemudian dielaborasi lebih lanjut. Salah satunya, kita perlu presisi dulu mengenai identitas kita. Dengan presisi pada identitas, kita bisa dengan logis tahu ekspresi syukur macam apa dan apa produk dari rasa syukur kita. Identitas, mekanisme untuk mengidentifikasi diri dengan berbagai posisi serta sudut dan sisi pandang. Setiap manusia unik, maka kita perlu bersama menggali dan memetakan.

Untuk sekarang ini, metode workshop yang dirasakan paling mendekati untuk bisa mencapai sinau bebarengan. Karena kalau ribuan orang yang memadati lapangan Kridobuwono malam ini semuanya terlibat, tentu kita akan berbenturan dengan waktu. Maka dibentuklah tiga kelompok workshop beranggotakan pemuda-pemudi, masing-masing menamai diri mereka kelompok Pandowo, Pari, dan Klopo. Masing-masing kelompok diminta untuk menuliskan sepuluh jenis identitas yang melekat pada diri mereka berurutan berdasarkan skala prioritas, kemudian sepuluh posisi diri juga berurutan sesuai skala prioritas, dan yang terakhir mereka diminta menuliskan contoh apa saja peristiwa batin yang pernah dialami.

Tampaknya, syukur itu adalah reaksi logika sehingga memang perlu presisi. Maka malam hari ini tampak seperti para pendekar muda tengah digembleng, diuji untuk terus lebih presisi dalam menggunakan logika mereka. Logika menuju syukur. Bisa kita katakan, mungkin soal presisi dan logika ini banyak dari kita masih sedikit bermasalah. Tapi itulah maka kita perlu Sinau Bareng.

Banyak dari adik-adik kita ini masih kesulitan untuk membedakan identitas dengan posisi diri, juga beberapa terjebak menggambarkan peristiwa batin malah dengan sesuatu yang lebih bersifat ekspresi. Tapi tak apa, tentu saja. Mbah Nun juga sampaikan bahwa dalam dunia pendidikan kita, tidak ada kurikulum yang mengajak manusia untuk mengenali dirinya. “Maka anda sendiri yang harus aktif mempelajari dirimu,” ujar Mbah Nun.

Sinau Bareng memang butuh kesabaran ekstra. Sebagai sosok sesepuh, Mbah Nun bisa saja mengambil posisi sebagai penutur. Penceramah seperti kiai pada mainstream-nya. Cukup bicara ini-itu dan para ummat sami’na wa atho’na. Metode guru-murid, sendiko dawuh-dawuhan macam itu cukup lama ditradisikan dalam masyarakat kita, dan hasilnya berabad-abad kita masih seperti ini.

Sinau Bareng mencoba mengambil posisi membersamai proses. Ini yang belum banyak dilakukan sebenarnya. Metode di mana kita percaya pada proses masing-masing manusia. Tapi kita juga tidak lantas harus menyalahkan tradisi pendidikan lawas, kita cukup menyadari saja. Maiyah bukan golongan yang  memusuhi golongan lain. Mbah Nun sempat sampaikan ini, terutama ketika ada seorang adik kita yang mencantumkan Maiyah dan NU sebagai identitasnya.

Buku Cak Nun