Sinau Bareng Sebagai Permulaan Sinau

Catatan Sinau Bareng di Lapangan Gulun Madiun, 25 Mei 2019

Di penghujung bulan Ramadlan ini, saya ingin mengingat sebagian dari perjalanan yang saya ikuti. Sinau Bareng di kota Madiun. yang dibuka dengan apik oleh persembahan tari lima orang siswa SMK Nusantara Madiun. Tarian Retno Dumilah yang mengisahkan sejarah kota Madiun.

Ya, Madiun, tepatnya lapangan Gulun Kota Madiun. Sore itu, Sabtu 25 Mei 2019, cukup ramai. barangkali tak seperti hari-hari biasa. Sebuah panggung apik telah berdiri. Backdropnya beda dari biasanya, bukan digital printing, tapi layar elektronik yang dapat menampilkan tayangan video atau slide, seperti videotronik iklan di titik-titik penting di dalam kota. Jenis panggung itu menandakan bahwa yang punya acara bukan pesantren, karangtaruna, desa, remaja masjid, suporter bola, atau yang lain, melainkan Honda.

Honda Jawa Timur sedang menggelar kegiatan di bulan Ramadhan di situ, yang nanti akan dipuncaki oleh Sinau Bareng. Ada stand bengkel atau service motor, ada stand promo/jualan motor, dan sore itu ada rolling city: Naik motor keliling kota. Ada pula tentunya takjilan gratis. Suasana itu berpadu dengan bermacam-macam pedagang yang mengitari lapangan. Sore itu pula, sebelum KiaiKanjeng sound check, lima orang siswa SMK Nusantara Madiun tengah persiapan. Mereka akan memberikan persembahan pembuka yaitu tarian Retno Dumilah yang mengisahkan sejarah kota Madiun

Sementara itu, sepasang MC, dua anak muda keren yang dengan mudah terasa berkecimpung di dunia entertainment tampak sibuk menginformasikan apa saja sore itu. Yang pria, karena mungkin suasana Ramadhan, mengenakan busana gamis ala Pakistan yang panjangnya selutut. Yang Mbaknya memakai jilbab. Tiba-tiba saja liar imajinasi saya membayangkan dua MC itu bak sepasang muda-mudi yang dalam istilah kekinian disebut melakukan “hijrah”, tapi yang tidak serta merta meninggalkan life style-nya. Namun, memang demikianlah satu kemungkinan ujud pertemuan antara modernitas dan Islam. Kata sebagian ahli.

Dan yang menarik adalah ketika dari dua bibir MC muda itu terdengar kata-kata Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Mereka menginfo ke pengunjung bahwa nanti malam akan ada satu mata acara penting dan puncak yaitu Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Itu kombinasi yang unik.

Tahukah mas dan mbaknya itu bahwa yang baru saja mereka sebut itu entitas yang sebenarnya jauh dari habitat yang membesarkan mereka, bahkan banyak mempraktikkan dekonstruksi atas konsep-konsep entertaintment, terbukti di situ bisa dipraktikkan tidak ada pagar yang membatasi antara yang di panggung dan di depan panggung, dan tinggi panggungnya yang rendah.

KiaiKanjeng, yang mereka sebut itu, adalah kelompok yang memperjuangkan konsep sendiri, tetapi meski begitu siap dengan medan yang bermacam-macam termasuk medan modern seperti sore itu, yang di sisi lain suasana sore ini juga menggambarkan bahwa kemodernan yang ditandai oleh life style entertainment kota besar sudah lama merambah kota-kota kabupaten. Adakah hati saya sedang melow kultural? Mungkin. Saya segera memupus diri dengan menyadari betapa budaya adalah proses yang unfinished alias bergerak tak statis.

Bahkan kalau kita jeli dan mau belajar kepada KiaiKanjeng, kita bisa lihat KiaiKanjeng adalah kelompok musik yang mendayagunakan baik instrumen musik baik yang tradisional maupun modern. Semuanya diolah. Di situ kita dapat melihat dan merasakan bahwa dalam konteks musikal, KiaiKanjeng punya wijhah sendiri, yang rumusannya, barangkali boleh saya sebut, ngikut al-Quran yaitu la syarqiyyah wa la gharbiyyah, tidak Timur tidak Barat. Demikian juga nanti pola-pola Sinau Bareng, dari prinsip hingga metode-metode yang diterapkannya.

Itu bisa saya lihat misalnya saat malam itu, Mbah Nun dan KiaiKanjeng mengajak semua hadirin wabil khusus generasi milenial yang mendominasi penampakan untuk sinau dari tembang dolanan anak yaitu Gundul-Gundul Pacul. Musiknya dikreativi sedemikian rupa oleh KiaiKanjeng, kemudian nanti maknanya digali. Caranya menggali bukan dengan menceramahi dari satu narasumber tunggal, melainkan menggali dari anak-anak muda hadirin itu.

Sudah begitu, untuk mereka disiapkan hadiah berupa uang. Uangnya bantingan dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di panggung dan dipelopori oleh Mbah Nun sendiri. Beberapa jamaah juga terpancing urun. Lumayan buat beli sahur, dan paket data. Oh ya, dapat peci Maiyah juga mereka dari Mbah Nun.

Beberapa generasi milenial itu diminta maju dan diberi tugas menjelaskan tafsir mereka atas lagu Gundul-Gundul Pacul ini. Ternyatalah kemudian dari mereka pemaknaan-pemaknaan. Pemimpin tak boleh egois, harus mengerti bebrayan, harus punya kasih sayang, dan jangan menindas. Yang lain menegaskan bahwa lagu ini gambaran pemimpin yang tak boleh gembelengan atau mlete, karena mereka memikul aspirasi rakyat. Mereka kudu tanggung jawab, bijaksana, dan harus bisa membaca hati rakyat.

Lainnya lagi menggarisbawahi pentingnya sifat amanah untuk dimiliki pemimpin, karena memang pemimpin itu memikul amanah dari rakyat. Jadi, mereka tak boleh gembelengan dan menyakiti hati yang memberi amanah. Itulah beberapa jawaban dari para partisipan dalam memaknai Gundul-Gundul Pacul ini. Siapa yang memberi nilai mana yang paling bagus di antara semua jawaban? Mbah Nun memintanya kepada para jamaah yang sudah terbagi ke dalam tiga kelompok. Setiap kelompok memberi nilai kepada masing-masing partisipan, nanti diambil rerata. Ini pun ya langsung spontan metodenya.

Setalah itu, Mbah Nun memberikan kesempatan kepada Ketua MUI Kota Madiun dan Pak Setda untuk memberikan tanggapan. Baru kemudian terakhir Mbah Nun urun analisis. Seperti ini pendapat Mbah Nun: Kalau memakai metode akademis, yang dikemukakan para partisipan tadi itu adalah bab 2. Sementara bab 1 terlewati. Bab 1 yang dimaksud Mbah Nun adalah bahwa gundul itu lambang anak kecil. Jika anak kecil bermain-main (gembelengan), itu tak masalah. Tetapi kalau sudah dewasa tidak boleh.

Maka kemudian Mbah Nun bilang kalau sudah menjadi pemimpin tidak boleh tidak istiqamah dan setia. Imam harus mencintai makmum. Selanjutnya terminologi ‘nyunggi wakul’. Bagi Mbah Nun ini dahsyat secara filosofi sosial. Yang dipakai adalah istilah nyunggi, bukan ngempit, atau ungkapan-ungkapan lain yang menggambarkan ragam cara orang membawa atau meletakkan sesuatu.

Adapun nyunggi adalah meletakkan sesuatu di atas kepala. Hal yang menjadikan yang menyunggi berada di bawah yang disunggi. “Pemimpin itu nggone neng ngisore rakyate.” Itulah posisi dan relasi yang jelas antara pemimpin dan rakyat yang semestinya menjadi dasar dalam memandang politik. “Saya tidak bicara tinggi rendah, tapi begitu bertugas, orang tahu di mana posisinya.”

Demikianlah respons Mbah Nun atas tafsir para peserta dengan membawa mereka untuk ngejrah dari dasar, dari terminologi per terminologi, di mana sudah terkandung tekanan-tekanan makna tersendiri. Jadi lengkaplah kemudian pembelajaran mengenai lagu Gundul-Gundul Pacul ini. Mbah Nun juga memuji keberanian dan kepercayaan diri para generasi milenial itu dalam menjawab tugas dari Mbah Nun. Hal yang juga terjadi terutama kepada presentasi juru bicara dari tugas atau workhsop lain dari Sinau Bareng malam itu.

Workshop lain itu adalah Mbah Nun meminta dua kelompok untuk mendiskusikan apa saja hal-hal, baik dari dalam diri maupun luar diri, yang biasa membikin orang bertetangga bentrok, tidak rukun, atau tidak akur. Ini berkaitan langsung topik yang dimintakan oleh panitia dari masyarakat setempat. Yakni harapan mereka Mbah Nun menguraikan bagaimana membangun kerukunan di masyarakat. Terlebih ini dirasakan oleh kota Madiun di mana karakter perkotaannya cukup kuat, dan ditandai oleh kampung-kampung yang padat antar satu rumah dengan rumah lainnya. Ini kekuatan tetapi di sisi lain bukan tidak mungkin memunculkan persoalan-persoalan kecil yang memicu kekurangakuran.

Atas topik inilah lalu Mbah Nun menugasi kelompok-kelompok itu mendiskusikannya, dan dari jawaban merekalah semua yang hadir belajar mendapatkan butir-butir pemahaman, mungkin juga sedikit analisis, dan yang pasti mendengarkan perwakilan kelompok itu mempresentasikan saja, apalagi masing-masing bagus dalam presenstasinya, membuat kita punya optimisme.

Kita tak selalu harus sedih membayangkan masa depan. Jawaban-jawaban mereka secara esensial sudah menggambarkan bahwa mereka telah memahami pentingnya ukhuwah/ikhwah, tentang almuslim limuslimi kal bunyan asuddu ba’dluhum ba’dlo, dll. Untuk ini, di Sinau Bareng ada satu workshop permainan bernama Lepetan. Di sini mereka belajar dan bergembira mengenai kekompakan dan nilai-nilai sejenis. Semboyan Honda ‘One Heart’ bisa dimaknai lewat Lepetan ini.

“Saya bersyukur dan berterima kasih. Anak-anakku ini adalah pasukan ke masa depan. Mereka ini sedang memulai Sinau. Sinau yang sesungguhnya adalah sesudah mereka pulang dari acara ini,” demikian Mbah Nun memberikan garis bawah atas semua partisapasi, presentasi, dan keterlibatan generasi milenial di Lapangan Gulun malam itu. Kalimat yang bernada sama juga secara pribadi menggema dalam diri saya menyangkut puasa: puasa Ramadlan adalah latihan, puasa sesungguhnya adalah di sebelas bulan berikutnya.

Saya bersyukur ikut menyaksikan bagaimana Sinau Bareng didayagunakan Mbah Nun untuk membesut anak-anak muda agar mereka ke depan menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, mampu berpikir mandiri, dan cakap mengambil keputusan. Di Lapangan Gulun Madiun malam itu, tiga tugas (menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan game lepeten) langsung diberikan kepada mereka. Madiun mungkin salah satu kota di mana bonus demografinya cukup besar, dan sangat tepat jika tugas-tugas itu diberikan Mbah Nun kepada generasi milenial yang merupakan prosentase besar dari bonus demografi itu.

Saya sendiri membayangkan, di satu sisi anak-anak muda itu berhadapan dengan budaya modern populer dan di sisi lain juga berhadapan dengan kecenderungan simplifikasi keagamaan oleh banyak orientasi, termasuk orientasi politik Islam dan bagaimana ber-Islam di zaman modern yang sebagian saat ini perwujudannya lebih didominasi oleh penekanan pada pemadatan Islam sebagai identitas. Oleh Sinau Bareng, mereka diajak masuk ke metodologi yang lebih mendasar dalam memandang Islam dan kehidupan supaya bisa menyaring dan mem-positioning dengan cerdas dan bijaksana di antara hal-hal yang datang dari dua kutub itu.

Buku Cak Nun