Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4115

Sinau Bareng Pelemwatu Nguri-uri Sejarah Leluhur

Liputan Sinau Bareng Haul ke-29 Mbah Sayyid Abdullah, Pelemwatu Menganti Gresik, Jum'at 27 September 2019

Setelah Sinau Bareng di Asrikaton Pakis Kabupaten Malang, Jumat malam, 27 September 2019, Mbah Nun dan KiaiKanjeng ber-Sinau Bareng di kampung desa Pelemwatu Menganti Gresik Jawa Timur dalam rangka haul ke-29 Mbah Sayyid Abdullah. Acara diselenggarakan oleh Pengurus Pesarean Mbah Sayyid Abdullah bekerjasama dengan berbagai komponen termasuk para generasi muda desa Pelemwatu.

Harapan penyelenggara, dengan Sinau Bareng ini semua warga masyarakat khususnya anak-anak muda desa Pelemwatu ini memiliki kesadaran sejarah dan budaya di antaranya dalam bentuk istiqamah menjaga kontinuasi perhatian terhadap makam leluhur Mbah Sayyid Abdullah dan segala yang berkaitan dengannya (menggali, mempelajari, mencari sumber-sumber sejarahnya hingga memaksimalkan berkah yang ada).

Sore hari, rombongan KiaiKanjeng tiba di desa Pelemwatu sesudah melewati kota kecamatan Menganti yang padat dan ramai, serta sepanjang jalan banyak dijumpa cluster perumahan-perumahan dalam berbagai tipe yang menandakan Gresik merupakan salah satu kota satelit. Kampung-kampung tentu juga terlihat. Bis KiaiKanjeng berhenti di depan sebuah perumahan regency, dan selanjutnya para personel dilangsir dengan beberapa mobil, dikarenakan bis tidak memungkinkan masuk kampung desa karena lebar jalan yang tidak cukup besar.

Turun dari mobil dan berjalan beberapa meter menuju panggung, rombongan langsung merasakan geografi Sinau Bareng yang berbeda dari seringnya. Kali ini lokasi bukanlah lapangan atau alun-alun, melainkan halaman pesarean Mbah Sayyid Abdullah. Di sebelah pesarean terdapat mushalla. Di area pesarean dan mushalla terdapat beberap pohon kepuh yang cukup besar dan tinggi menandakan usianya yang tampaknya sudah ratusan tahun.

Selebihnya adalah rumah-rumah warga. Pesarean dan mushalla tidak dibatasi pagar, sehingga mudah bagi siapa saja untuk masuk ke sana. Usai maghrib, KiaiKanjeng menyempatkan diri berziarah dan berdoa di makam Mbah Sayyid Abdullah. Bangunan makam tersebut adalah model arsitektur Jawa dan pintu masuknya cukup rendah. Di dalamnya hanya terdapat makam Mbah Sayyid Abdullah.

Tidak seperti biasanya, pukul 20.00 Mbah Nun dan para narasumber sudah berada di panggung. Selain karena jamaah sudah memadati baik tempat di depan panggung maupun kanan dan samping belakang panggung, malam itu KiaiKanjeng sedang mendapatkan kabar duka. Bu Is (istri almarhum Pak Ismarwanto seruling KiaiKanjeng) meninggal dunia. Karena itu acara perlu dimulai lebih awal dan nanti selesai juga tidak perlu sampai larut malam agar KiaiKanjeng bisa segera kembali ke Jogja juga lebih awal.

Menyikapi Sejarah

Dalam pembuka Sinau Bareng ini, Mbah Nun banyak merespons dan membekali para pengurus pesarean dan masyarakat Pelemwatu mengenai bagaimana menyikapi sejarah, termasuk sejarah Mbah Sayyid Abdullah. Sebelumnya Mbah Nun sudah mendapat penuturan tentang Mbah Sayyid Abdullah yang riwayat sejarahnya masih lebih kuat melalui jalur sejarah lisan. Bahkan haul ke-29, artinya baru 29 kali diperingati setiap tahunnya, menunjukkan bahwa belum lama sejarah Mbah Sayyid Abdullah mulai “terbentuk”. Ada masa sangat lama di makam itu tidak teridentifikasi.

Berdasarkan petunjuk spiritual seorang kiai di Sepanjang Sidoarjo, makam tersebut adalah makam seorang alim bernama Sayyid Abdullah as-Samarkand. Orang-orang desa ini sendiri dulunya menyebut sebagai makam Mbah Dullah, dan mereka menganggap Mbah Dullah sebagai buyut desa. Sejak terdapat informasi ini, masyarakat menjaga makam itu dengan membangunkan bangunan rumah sehingga lebih rapi, terawat, dan bisa diziarahi dengan lebih baik.

“Acara ini sangat bagus, karena nguri-nguri Mbah yang belum banyak dikenal publik, karena bahan-bahanya masih akan berkembang,” kata Mbah Nun. Keyakinan masyarakat mengatakan bahwa Mbah Sayyid Abdullah hidup sedikit di atas era Sunan Giri. Berarti pula sebelum Sunan Kalijaga. Mbah Nun membawa jamaah untuk membayangkan masa hidupnya Mbah Sayyid. Masa itu belum ada negara, belum ada HP, belum banyak apa-apa. Hidup masih sederhana dan belum ada komplikasi. Hal itu berbanding terbalik dengan keadaan saat ini.

Khsusus mengenai sejarah, Mbah Nun menguraikan ada tiga sumber sejarah. Pertama, mitos dan tuturan lisan turun-temurun. Kedua, sejarah resmi yang ditulis oleh sejarawan akademis. Ketiga, wahyu dalam arti petunjuk atau informasi dari Allah. Dalam gradasi ini yang dimaksud di antaranya adalah ilham yang diterima oleh orang-orang saleh. Sekarang ini, yang dirujuk hanya sejarah yang ditulis oleh para sejarawan akademis dengan metode akademisnya. Sehingga, Sayyid Abdullah pun belum tersentuh karena bukti-bukti akademis yang belum cukup. 

Sesungguhnya dengan menyebut sumber informasi ketiga tadi Mbah Nun menunjukkan pentingnya metode yang dunia antropologi Islam baru masuk sedikit. Apa yang didapat masyarakat ini dari seorang Kyai yang menyatakan bahwa itu makam seorang alim bernama Sayyid Abdullah as-Samarkand itu adalah salah satu contohnya. Nilai penting sumber ketiga ini adalah perannya dalam membentuk produksi sejarah Islam di Indonesia yang ternyata masih banyak yang perlu digali dan dielaborasi di luar yang sudah dilakukan oleh dunia akademis. Karena itu, elaborasi spirtual diperlukan.

Selain itu, Mbah Nun menegaskan hal lain yang paling penting adalah mengambil manfaat dan berkah dari keberadaan Mbah Sayyid Abdullah ini. Contohnya, orang-orang jadi terdorong datang ke sini, shalat di mushalla, kemudian berziarah dan berdoa, dan menyerap atmosfer adem di sini. Itu contoh hal yang baik, yang menunjukkan adanya manfaat dan hikmah yang bisa diambil.

“Jangan sedikit-sedikit semua dipersoalkan. Kita benar-benar bodoh. Dhaluman jahuula. Bodoh dalam kehidupan dan tentang kehidupan,” kata Mbah Nun. Lalu beliau mengajak teman-teman pengurus pesarean untuk memahami haul ini dalam arti tidak usah terlalu risau dengan jenis sejarah nomor kedua yang belum menyentuh Mbah Sayyid Abdullah. Yang terpenting adalah dengan haul ini, mereka dapat membangun akhlakul karimah dan memberikan hal-hal yang positif. Jadi, Mbah Sayyid Abdullah tidak hanya disikapi dengan pendekatan sejarah akademis, namun yang terutama adalah kebijaksanaan hidup.

Untuk merespons haul Mbah Sayyid Abdullah ini, Mbah Nun juga membuka kesempatan tiga pertanyaan dari jamaah menyangkut Mbah Sayyid Abdullah yang kesemua pertanyaan itu bisa dijadikan perspektif dalam mempelajari dan menghikmahi Mbah Sayyid Abdullah. Tiga pertanyaan tersebut menyangkut relasi budaya Jawa dan budaya Islam; catatan sejarah dan metode Mbah Sayyid Abdullah dalam menyebarkan Islam; karomah Mbah Sayyid Abdullah. Mbah Nun menjawab semua pertanyaan itu dengan cukup jelas dan detail, dari kerancuan pertanyaan yang membedakan adanya budaya Jawa dan budaya Islam, dibabar tiga jenis sumber sejarah, dan peta mengenai wahyu, karomah, maunah, fadhilah, dan ilham. 

***

Itulah salah satu muatan ilmu yang disampaikan Mbah Nun dalam merespons haul ke-29 Mbah Sayyid Abdullah dengan salah satu topik mengenai sejarah dan bagaimana memanfaatkannya dalam perspektif kebijaksanaan. Hal-hal lain yang bersifat ilmu hidup adalah Mbah Nun mengajak para jamaah untuk enteng hati kepada dunia dan bobot isi hati lebih besar kepada Allah.

Karena itulah sejak awal suasana spiritual dibangun Mbah Nun. Nomor wirid Ya Allah ya ‘Adhim, shalawat Shalli Wa Sallim da, dan Sidnan Nabi dihadirkan, dan semua jamaah mengikuti dengan penuh khusyuk tapi juga semangat. Di atas panggung para penyelenggara, Pak Lurah, dan tokoh lainnya ikut menemani dan belajar kepada Mbah Nun lewat Sinau Bareng ini. Di atas panggung itu pula, jamaah sempat menyaksikan adegan penuh kasih sayang di mana Mbah Nun memangku dua bocah kecil, sembari beliau menyampaikan paparan-paparannya.

Buku Cak Nun