Maiyahan Cak Nun dan KiaiKanjeng ke-4112

Sinau Bareng Pejuang Akhir Zaman

Liputan Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng Rohis Al-Ishlah SMAN 4 Yogyakarta, Yogyakarta, Jum’at 20 September 2019

Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng tadi malam berlangsung di Lapangan Karangwaru Tegalrejo Yogyakarta. Acara diselenggarakan oleh adik-adik unit Kerohanian Islam (Rohis) Al-Ishlah SMAN 4 Yogyakarta. Mereka ambil tema yang lain daripada lain yaitu Pejuang Akhir Zaman.

Seperti biasa Mbah Nun tidak sendirian. Ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru agama, Kapolresta Yogyakarta, Dandim Yogyakarta, Danramil Tegalrejo, Kapolsek Tegalrejo, Pak Camat Tegalrejo, perwakilan Rohis Al-Ishlah SMAN 4, dan lain-lain pemuka hadir menemani Mbah Nun di atas panggung.

Yang telah bersiap di depan panggung dan memenuhi lapangan alias para hadirin, selain terdiri atas siswa SMAN 4 sendiri, adalah siswa-siswa dari sekolah lain di DIY ada dari MAN 2 Kulonprogo, SMK 7, SMA Muhammadiyah 3, bahkan ada juga dari SMA DeBrito. Acara ini pada mulanya adalah kegiatan rutin setahun sekali yang teman-teman Rohis Al-Ishlah tujukan untuk semua siswa SMA/SMK/sederajat sebagai bentuk silaturahmi dan persaudaraan antar siswa SMA di DIY.

Selain anak-anak SMA, ada pula para mahasiswa, dan para hadirin yang sudah tidak kuliah atau sudah bekerja. Dari mana domisili atau asal mereka, dari skala lokasi setempat, sekecamatan, sampai yang luar Jogja, semua kategorisasi diabsen oleh Mbah Nun.

Hijrah

Judul Pejuang Akhir Zaman menarik perhatian Mbah Nun karena jarang Sinau Bareng memakai judul seperti itu. Pak Dandim juga tertarik. Mbah Nun coba menggali kepada adik-adik Rohis Al-Ishlah. Dik Bintan selaku ketua pelaksana coba memberikan jawaban. Bahwa judul itu dilatarbelakangi oleh kegelisahannya mengenai tren fenomena yang disebut hijrah. Menurut dia, juga ada tema-tema yang serem di situ. “Teman-teman saya terpengaruh gerakan hijrah,” ujatnya.

Mbah Nun masih coba meminta diberi contoh gerakan hijrah itu seperti apa menurut dia. Namun sejurus kemudian, Mbah Nun menyampaikan hendaknya hijrah jangan dipersempit. “Yang dilihat pasti yang tampak-tampak. Padahal hatimu tidak tampak atau tidak bisa dilihat dari luar. Sekarang perempuan nggak kudungan dianggap ora hijrah. Hijrah itu masalah yang luas, dan tidak bisa serta merta begitu. Jangan hanya melihat yang tampak mata.”

Mbah Nun membawa adik-adik maupun semua hadirin untuk menyadari salah-salah dalam berpikir mengenai agama. Misalnya, apakah Islam mesti Arab? Pertanyaan ini harusnya diteruskan dengan fair dengan memastikan ada yang harus Arab di dalam Islam. Misalnya kitab suci al-Qur’an. Bacaan shalat. Demikian pula bercermin pada fenomena hijrah, Mbah Nun meminta mereka untuk tidak mengambil istilah yang universal diubah menjadi spresifik-padat sehingga berakibat membingungkan dan menimbulkan salah paham. Banyak istilah dalam Islam yang mengalami nasib seperti itu.

Empat Persiapan Pejuang Akhir Zaman

Selain merasa tertarik dengan judul, sebenarnya Mbah Nun mesakkno kepada adik-adik Rohis ini, sebab tema pejuang akhir zaman ini kalau dipelajari luas sekali. Misalnya diambil pada kata zaman. Bagaimana memahami kata akhir zaman di situ. Dulu akhir zaman, sekarang juga akhir zaman. Belum lagi jika bicara skala kepejuangan yang adik-adik bayangkan. Apakah hanya pada lingkup keluarga, sekolah, atau lingkup nasional.

Meski demikian, di bagian akhir, sebagai sedikit pintu masuk ke sana Mbah Nun mengajak mereka mencatat beberapa persiapan yang diperlukan untuk menjadi pejuang. Pertama, persiapan fisikal (jasadiyah). Kedua, persiapan mental (nafsiyah). Ketiga, persiapan rohani (ruhiyah. Keempat, persiapan intelektual.

Pada persiapan pertama, seorang pejuang dituntut memiliki sikap dan pemahaman yang tepat mengenai kesehatan, sebab saat ini banyak yang serba tidak sehat. Anugerah malah menjadi ancaman. Makan nasi malah terancam diabet. Bukan nasinya yang salah, tetapi kenyataan telah terjadi manajemen yang salah pada diri manusia sehingga nasi bisa menyebabkan sakit gula. Pejuang mesti memperhatikan metabolisme dan manajemen kesehatan dirinya.

Persiapan mental artinya pejuang harus memiliki mental yang kuat. Seperti anak-anak yang sudah terlatih untuk makan apa saja yang ada, dan bukan makan apa yang dia sukai saja. Dia harus siap tidak enak. Kemudian persiapan rohani adalah memastikan kematangan sikap kepada Allah sehingga jika nanti berada dalam keadaan apapun tidak lupa Allah dan tahu harus bagaimana. Mbah Nun memberi contoh, dalam keadaan terdesak, dia mesti tahu bahwa jalan yang harus ditempuh adalah tawakkal kepada Allah.

Adapun persiapan intelektual adalah menyiapkan kemampuan dalam memetakan medan dan lawan. Pejuang harus menguasai segala sesuatu mengenai lawan. Dan salah satu cara untuk tidak gampang dikalahkam lawan adalah membuat diri sendiri sukar ditebak atau dibaca oleh musuh. Itulah dua poin mengenai hijrah dan tema pejuang akhir zaman yang mengisi di antara sekian banyak yang telah dibicarakan dalam Sinau Bareng tadi malam.

Menarik bahwa di antara semua itu, Mbah Nun tak lupa mengajak anak-anak untuk mengingat bahwa dalam khasanah Islam musuh yang paling berat adalah dari dalam diri sendiri yaitu hawa nafsu. Sekembali dari menjalani perang Badar, Nabi mengatakan, “Kita baru saja kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar.” Perang melawan diri sendiri.

Mbah Nun juga sampaikan, bahwa dalam bahasa Arab pejuang adalah mujahid dan perjuangan adalah Jihad. Ada dua bentuk jihad yaitu ijtihad dan mujahadah. Ijitidah adalah perjuangan menggunakan akal, ilmu, dan intelektualitas. Usaha-usaha mentransformasikan, meng-iguh, atau menghijrahkan sesuatu menjadi sesuatu yang baru adalah juga sebentuk ijtihad. Adapun mujahadah adalah perjuangan batin atau rohaniah. Jika diklasifikasi dalam cara lain, Mbah Nun menyebut ada tiga jenis perjuangan: perjuangan tangan, hati, dan pikiran.

***

Demikianlah sedikit muatan yang mengisi Sinau Bareng tadi malam di SMAN 4 Yogyakarta. Banyak muatan dan dimensi yang belum tercakup di sini, dari sejak awal Mbah Nun mengajak berdoa untuk Indonesia, “Apapun keadaan negara dan tanah airmu, itulah negara dan tanah airmu, tetap harus Anda cintai, Anda uri-uri, dan Anda jaga,” mengajak masuk ke fenomena musik dan ilmu kepemimpinan Gundul-Gundul Pacul, workshop Rububiyah, workshop ya thayyibah-shalatullah salamullah-lir-ilir, sesi tanya jawab, hingga deretan lagu yang melibatkan Bapak-bapak yang di atas panggung untuk turut serta.

Baik kiranya disebut di sini poin-poin yang didapat para hadirin maupun Pak Dandim dll setelah mengikuti dan menyimak workshop bersama KiaiKanjeng. Dari mereka didapat kata-kata kunci berikut ini: kegembiraan, belajar fokus, kesenangan dan kebahagiaan, kepercayaan antar kelompok (dalam masyarakat), keindahan, terpimpin dan terarah. Pak Kapolres mengatakan, “Harmoni dari nada-nada yang bagus. Itu kesatuan. Kekompakan yang saya dapatkan.” Adapun Pak Camat Tegalrejo mengungkapkan, “Indonesia sungguh beruntung jika mau seperti ini.”

Sedangkan Mbah Nun sendiri berharap, “Saya ingin Anda khusyuk untuk Indonesia, rakyatnya, tanah airnya, dll-nya. Jika rakyatnya seperti Anda, InsyaAllah Allah akan menolong.”

Buku Cak Nun