Sinau Bareng Menyembah Robba Hadzal Bait

Catatan singkat Sinau Bareng Koperasi Bhakti Grup, Pati 29 Juni 2019

Masyarakat terus menjadwal Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Pagi hingga siang tadi, 29 Juni 2019, Mbah Nun dan KiaiKanjeng berada di Sambilawang Kabupaten Pati untuk memenuhi undangan Sinau Bareng yang diadakan oleh Koperasi Bhakti Grup yang tengah berhajat Syawalan dan Halal Bihalal.

Seluruh pengurus dan anggota koperasi ini memenuhi gedung yang tak lain adalah gedung mereka sendiri yang di dinding dalam bagian atasnya terpampang tulisan Syariat Tariqat Hakikat dan Ma’rifat serta Asmaul Husna untuk mengikuti acara Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng ini. Di panggung, selain ditemani pengurus, Mbah Nun juga didampingi oleh Habib Anis Sholeh Ba’asyin dan KH Abdul Jalil dari Kudus.

Kalau tak salah, ini adalah untuk kedua kalinya Koperasi Bhakti Grup mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Adakah sesuatu yang spesial? Saya kira ada, dan yang utama terletak pada makna kata kebersamaan. Seperti kita tahu, koperasi berdiri dengan keberangkatan akan kesadaran pentingnya gotong-royong di bidang ekonomi. Kebutuhan hidup akan bisa dipenuhi, asal kita mau saling membantu. Dengan sebagian rela menabung, dan sebagian lain meminjam, maka roda gotong-royong berjalan. Hal yang berbeda dengan keberangkatan perusahaan.

Maka, Mbah Nun pun dengan sangat mudah merasakan atmosfer tersebut pada Koperasi Bhakti Grup ini. Sedemikian rupa, Mbah Nun menemukan bahwa di wilayah gotong-royong atau kebersamaan ekonomilah para pengurus dan anggota koperasi ini memiliki fadlilah (kekhususan/kompetensi). Fadlilah mereka lantas mereka istiqamahi sampai membuahkan berkah bagi banyak orang.

Keistiqamahan dan pilihan kegiatan ekonomi mereka ini dilihat Mbah Nun sebagai suatu keridlaan dari mereka atas ‘takdir otensitias’ dari Allah, sehingga kemudian Mbah Nun memohonkan agar Allah pun meridlai semua kegiatan mereka, melalui nomor khusyuk ya Allah Ridlo yang dibawakan Mbak Yuli KiaiKanjeng.

Mbah Nun mendoroang kepada Koperasi ini untuk terus mengembangkan diri sampai menyebar ke mana, tanpa banyak berkoar-koar, tahu-tahu nanti se-Indonesia sudah berkoperasi semua. Hal yang mengingatkan kita pada cita-cita Bapak Bangsa kita Bung Hatta, dan Mbah Nun mengulanginya pagi tadi.

Untuk menambah keyakinan mereka, dalam mengapresiasi dan membahas koperasi sebagai bentuk urip bebarengan dalam bidang ekonomi atau syirkah ta’awuniyah, Mbah Nun mengajak mereka memproyeksikan diri dengan melihat sistem-sistem ekonomi yang mayoritas berlangsung saat ini yang boleh jadi dibangun karena keserakahan, yakni serakah karena takut lapar dan takut tidak punya eksistensi yang dipersangkakan bisa bikin aman. Kita kurang beriman dan kurang menyembaj Robba Hadzal Bait. Ini bisa berlangsung pada tataran negara, dunia global, maupun skala lain. Bahkan sekilas Mbah Nun ajak mereka mengenali sistem ekonomi Fir’aun yang dikendalikan oleh Haman.

Salah seorang bertanya dalam sesi tanya-jawab dengan menyitir ayat Allah yang kurang lebih berisi penjelasan bahwa manusia akan diuji oleh Allah dengan rasa takut, lapar, berkurangnya harta benda dan buah-buahan. Bagaimana caranya supaya kita mencari nafkah atau bekerja namun tidak karena rasa takut akan kekurangan harta dan lain-lain itu?

Mbah Nun bukan orang yang melihat hidup dengan simplifikasi tips-tips-an, karenanya atas pertanyaan tersebut, disampaikan bahwa tidak bisa kita menggenggam kepastian lalu kita merasa mantap dan merasa bisa, karena yang berlangsung adalah dinamika atau naik-turun dalam diri manusia. Maka yang terpenting adalah selalu waspada, titen, dan memperbaiki diri. Hal yang sama juga berlaku kepada penanya lainnya yang meminta nasihat Mbah Nun tentang bagaimana mengenal Allah melalui diri. Di antara jawabannya adalah titen setiap hari untuk menemukan setiap gejala kehadiran Allah.

Dalam bahasa KH Abdul Jalil, setiap sistem atau siklus selalu punya ketidaksempurnaan, karena manusia selalu didorong untuk memperbaiki diri, halal-bihalal, meminta maaf, dan memohon ampun kepada Allah, untuk kemudian kembali ke titik nol sistem itu lalu memulai lagi sistem dengan lebih baik. Kyai Jalil menguraikan ini dengan bersandar pada ayat Al-Qur`an surat Nuh ayat 10-11.

Habib Anis dan KH Abdul Jalil turut menyampaikan beberapa penafisran yang juga dielaborasi oleh Mbah Nun, mulai dari makna “miskinan dza matrobah“, makna ulama, hingga “tawasaw bil-haqq wa tawasaw bish-shabr” dan “tawasaw bish-shabri wa tawasaw bil-marhamah.” Dari situ, Mbah Nun merasakan bahwa sebenarnya kita sudah lima belas abad lebih menerima Al-Qur`an namun belum mampu mengambil berkah darinya, salah satunya kira kita kurang rajin berijtihad. (Helmi Mustofa)

Buku Cak Nun