Sinau Bareng Membentangkan Cakrawala Berpikir Qur`aniyah

Catatan Sinau Bareng CNKK di Pesantren Supercamp La Raiba Hanifida, Jombang, 1 Mei 2019

Sinau Bareng malam ini, Rabu (1 Mei 2019) nuansa dan aromanya benar-benar berbeda. Di tanah lapang yang cukup luas dua panggung berdiri. Satu panggung untuk prosesi wisuda dan di sampingnya berdiri panggung yang tak kalah megah. Banner berukuran besar tertulis: “Sewindu Mts – MA Al-Qur`an Pesantren Supercamp La Raiba Hanifida bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.”

Tanah lapang dan rumput terasa becek. Desa Bandung Kec. Diwek Jombang, malam itu baru diguyur hujan. Udara terasa dingin. Semangat khotmil qur`an mewarnai lingkungan pesantren Hanifida. Wisuda Purna Siswa VI dan Ujian Terbuka Hifdzil Qur`an Metode Hanifida menjadi salah satu rangkaian acara Sinau Bareng.

Ada yang menarik di pesantren itu. Idiom SuperCamp mengingatkan saya pada istilah yang digunakan Bobbi DePorter, the President of the Quantum Learning Network (QLN). Quntum Learning mulai ramai digunakan di Indonesia pada awal tahun 2000 sebagai metode belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Menghafal Al-Qur`an dengan nyaman dan menyenangkan? Mengapa tidak–SuperCamp Pesantren Hanifida membuktikannya. 99 Asmaul Husna dihafal cukup dengan waktu dua jam saja. Hafalan menjadi lebih lekat dan permanen.

Hal itu lantas dibuktikan dengan simulasi hasil hafalan para santri yang diuji agar meneruskan potongan ayat dalam Al-Qur`an. Di atas panggung mereka melantunkan ayat Al-Qur`an secara mantap. Bukan hanya membaca sesuai urutan ayat–membaca urutan ayat secara terbalik, dari belakang ke depan, mereka tidak menemukan kesulitan.

Sebelum Sinau Bareng dimulai, para santri mengikuti Ujian Terbuka Hifdzul Qur`an. KH. A. Mustain Syafi’e dari Tebuireng, pengasuh Pesantren SuperCamp Hanifida, Bapak Dr. Hanifudin dan Ibu Dr. Khoirotul Idawati menjadi dewan penguji. Santri diuji hafalan Al-Qur`an dengan cara melanjutkan potongan ayat serta menyebutkan nama surat dan nomor ayat.

Ketika ujian terbuka sedang berlangsung, Mbah Nun hadir dan dipersilahkan menempati salah satu kursi dewan penguji. Santri peserta terakhir mendapat pertanyaan dari Mbah Nun. Surat Al-Quraisy dibaca secara tartil. Mengapa santri membaca surat ini? Mbah Nun meminta surat yang menjelaskan bagaimana kita terbebas dari rasa takut dan khawatir.

Tiba di ayat falya’buduu rabba hadzal bait, suara santri itu mulai bergetar. Lalu saat membaca alladzii ath’amahum min juu’, meledak tangisnya. Ia menangis dan terbata-bata membaca hingga akhir surat.

Adegan tersebut seakan menjadi pintu masuk pada Sinau Bareng kali ini ketika gerbang semesta firman Tuhan dan ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam semesta telah terbuka.

Sebagai ungkapan syukur kepada Allah, usai musik Pambuko, santri dan jamaah bersama-sama membaca doa khotmil qur`an dengan diiringi musik KiaiKanjeng. Sebaris doa dan harapan disampaikan Mbah Nun, semoga pesantren Hanifida membangun kembali keutuhan manusia yang akan memimpin peradaban.

Pada kesempatan yang berbeda Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa Al-Qur`an adalah sebuah metodologi yang terdiri dari bagian-bagian yang menyatu. Satu yang disusun oleh bagian-bagian. Juz`iyyah yang kulliyah, kulliyah yang juz`iyyah.

Buku Cak Nun