Sinau Bareng di Ngujung untuk Ahsanan Naas

Catatan Sinau Bareng CNKK di Desa Ngujung Gondang Nganjuk, 24 Juni 2019

Saya punya sahabat lama, yang dia sudah pergi haji ke Tanah Suci, dan di sana saat berhaji itu, dia sempat berkenalan dan atau berbincang dengan seorang Arab. Cerita dia, orang Arab yang dia ngobrol dengannya itu memuji bahwa di matanya orang Indonesia adalah ahsanan naas, sebagus-bagus orang, sebaik-baik orang.

Setiap kali mengikuti Sinau Bareng, kata ahsanan naas yang saya dengar dari sahabat saya itu entah bagaimana selalu nempel dalam ingatan saya. Termasuk saat menyimak Sinau Bareng tadi malam di Desa Ngujung Gondang Nganjuk dalam rangka Tasyakuran Bersih Desa.

Hamparan orang-orang yang hadir di Sinau Bareng itu bagai turut membenarkan pujian ahsanan naas itu. Betapa tidak, orang-orang itu mengalir tertib, sebagian datang dari tempat-tempat yang jauh, ketika memenuhi lokasi acara, tanpa ada berisik, rela mendapat tempat di manapun, bahkan ada yang ambil posisi di atas truk sound Paramarta. Mereka semua tenang dan khusyuk. Tidakkah itu sebaik-baik kerumunan dan ahsanan naas.

Belum lagi jika kita mendengar bagaimana totalitas dan kekompakan panitia dalam mempersiapkan acara ini. Baca dan lihat foto news singkat sebelum ini: Sejak Persiapan, Panitia Sudah Sinau Bareng. Sementara saat berlangsung Sinau Bareng, kerumunan orang-orang itu betul-betul berkonsentrasi, penuh perhatian, dan terlibat dalam setiap momen dan menu Sinau Bareng.

Mbah Nun mengajak mereka bergerak-berjoget untuk berlatih keselarasan antara pikiran, hati, badan, dan nada lewat aneka macam genre musik yang dihadirkan KiaiKanjeng dari blues, dangdut, hingga pop, dan mereka ikut dengan baik. Mbah Nun ajak mereka mengidentifikasi apa saja regetan yang mengotori desa selama ini (termasuk adakah regetan yang datang dari Jakarta), mereka pun merespons dan memberikan pendapat.

Mbah Nun berpendapat meskipun desa keadaannya mungkin baik-baik saja, tetapi logikanya Bersih Desa itu mengandaikan bahwa masyarakat desa sadar akan kotoran-kotoran yang masih mungkin ada di desa sehingga perlu dibersihkan, alias perlu dilakukan Bersih Desa. Menariknya kalau kita cermati, jika di kota di antara kotoran yang ada di masyarakat itu disebut eksplisit dengan istilah Pekat (Penyakit Masyarakat), sementara di desa tidak ada sebutan yang sama. Yang ada adalah ungkapan yang halus yaitu Bersih Desa dengan titik tekan langsung yaitu membersihkan desa dari kotoran-kotoran. Dari situ bisa ditarik garis kaitan ke Pekat.

Artinya, untuk sampai kepada Pekat, orang perlu memaknai Bersih Desa. Tapi Bersih Desa juga justru membuka keleluasaan tafsir dan pemaknaan, sehingga mereka bisa menemukan klasifikasi-klasifikasi kotoran. Ada sesuatu yang perlu dibersihkan secara spiritual, budaya, ataupun mental. Ada pula kotoran yang sifatnya desa hanya tertimpa dari tempat yang jauh dan struktural. Dan itulah yang tadi malam Mbah Nun ajakkan kepada para hadirin untuk menemukan. Ini Mbah Nun lakukan juga terutama untuk men-support Pak Lurah Ngujung yang benar-benar ingin melakukan perbaikan dan kebaikan di dan untuk desanya.

Tak cuma suasana para jamaah dan masyarakat dalam memenuhi acara dan bagaimana muatan-muatan diolah secara pas yang dapat menambah list dimensi ahsanan naas yang saya jumpai dalam Sinau Bareng, tapi bisa pula kita temukan yang lain secara agak menyelam. Yakni, kepada teman-teman remaja atau pemuda yang mengenakan peci Maiyah.

Dalam rasa saya, mereka mengenakan peci Maiyah bukan sebagai simbol bahwa dia telah berada pada posisi ‘alim’ atau saleh, atau bahwa Peci Maiyah adalah identitas suatu gelombang atau level keagamaan. Sederhana saja, sebab pasangan peci Maiyah yang mereka pakai bukan gamis, atau jubah, atau bahkan sekadar baju koko. Tapi ya mereka hanya pakai kaos, hem pendek, banyak yang juga berjaket, kadang jaketnya udah mau dekil.

Jadi, rasanya lebih mungkin bahwa mereka mengenakan peci Maiyah sebagai ekspresi bahwa mereka adalah orang-orang yang mau belajar menjadi manusia yang baik, ingin bisa berubah, ingin bisa lebih manfaat. Tak ada kaitan dengan identitas atau simbol-simbol sosial lain. Tidakkah keinginan yang demikian juga bagian dari kandungan ahsanan naas.

Tentang kebaikan sendiri, tak perlu diterakan panjang lebar di sini bagaimana Mbah Nun sudah banyak berpesan dan memberikan perspektif. Temukan nikmatnya berbuat baik. Jadikan agama sebagai input, dan kebaikan dan kebijaksanaan sebagai output-mu. Seburuk apapun seseorang, coba cari kebaikannya. Dan seterusnya, yang kesemuanya menopang agar setiap jamaah Maiyah peka pada kebaikan dan kaya akan jenis-jenis kebaikan.

Semalam mereka juga dipesan oleh Mbah Nun, “Alamilah macam-macam hal, tapi tepatkan hati dan pikiranmu.” Juga, “Jangan gampang capek, dengan cara bosan melakukan satu pekerjaan segera beralih ke pekerjaan yang lain.” Selain itu, bertalian dengan situasi nasional, Mbah Nun berpesan, “Saat ini sampai 2024 akan semakin krisis, utamanya di bidang pangan. Anda konsentrasi saja pada desa Anda, pangan disiapkan, korupsi diberantas dan ditinggalkan, kerukunan dibangun di mana-mana.” Selebihnya, dalam Sinau Bareng ini, mereka bergembira dan bersenang-senang hati bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Angin semribit nan dingin yang menghembus yang sudah seminggu lebih sedang menyelimuti berbagai wilayah di Indonesia ini sepertinya justru menjelma kehangatan tersendiri.

Fenomena ahsanan naas masih akan kita jumpai pada akhir Sinau Bareng, yakni bersalaman dengan Mbah Nun dan para narasumber, di mana tadi malam Mbah Nun memberikan alokasi waktu yang lebih panjang dari biasanya dengan sedikit mengurangi waktu diskusi atau tanya jawab mengingat begitu banyak masyarakat yang hadir di Sinau Bareng itu. Menyaksikan orang bersalaman itu indah, apalagi massal begitu rupa. Ahsanan naas. Demikian Yang Mulia, catatan dari saya. (Helmi Mustofa)

Lainnya