Sinau Bareng di Harlah NU (Bagian 2)

Liputan Sinau Bareng di Harlah NU ke-93, Karanganyar, 3 Februari 2019

“Sangat banyak yang bisa dilakukan oleh NU tidak hanya untuk Indonesia tapi untuk seluruh dunia.” Begitu Mbah Nun sampaikan untuk menyapa seluruh jamaah yang hadir malam ini. Kebanyakan jamaah yang hadir mungkin memang adalah anggota ormas Nahdlatul Ulama, karena ini perayaan ulang tahun NU ke-93. Posisi NU sebagai ormas terbesar, oleh Mbah Nun disebut bukan saja terbesar di Indonesia tapi juga di dunia. Konsekuensi logisnya berarti NU punya tanggung jawab pada masa depan evolusi spesies manusia. Ini pukul 21.00 WIB.

Tadi, Pukul 20.00 WIB, sepasang MC naik ke atas panggung. Suasana ceria dan menyenangkan dibangun dengan lekas. Mbak MC yang suaranya melengking berpasangan dengan Mas MC yang bersuara berat tegas. Komposisinya pas. Berdua mereka menyambut para jamaah yang mulai memadati Alun-Alun Karanganyar Jawa Tengah pada malam hari ini.

Tampaknya momentum ultah NU ini dimanfaatkan betul untuk berbenah, ada nuansa kekinian yang fun yang coba dibawakan di sini. Walau tentu juga kekhasan warna kaum tradisionalis, terlepas dari istilah ini benar atau tidak, tetap ingin dipertahankan.

Duet MC yang menyenangkan ini juga sesekali menguji pengetahuan sejarah para jamaah. Misalnya, apa saja jasa-jasa NU dalam berdirinya negara, juga diajukan pertanyaan soal siapa saja sosok yang ada dalam gambar di latar belakang panggung. Tentu ini adalah gambar tiga pendiri NU. Kalau boleh sedikit berimajinasi sebenarnya bisa juga ditanya saat kapan dan usia berapa gambar tersebut diambil? Karena kan wajah manusia selalu berubah seiring usia, bukan? Yang penting kita masih mau mengingat sejarah sudah lumayan. Malam ini membahas sejarah versi NU tentunya, dan sah saja semua golongan punya versinya masing-masing. Versi sejarah tidak harus seragam, yang penting bagaimana kita jembar menampung ragam kemungkinan pembacaan data sejarah. Gambar atau potret adalah pembekuan cahaya dalam waktu, memori kita sebaiknya tidak ikut beku. Karena itu kita Sinau Bareng. Supaya tidak beku.

Tradisi ala kaum pedesaan dipertahankan dengan ritual berkorespondensi Al-Fatihah kepada para sesepuh, leluhur, dan saudara muslimin dan muslimat seluruh dunia. Ritual ini dipimpin oleh beberapa sesepuh. Tentu dengan mengirim Al-Fatihah kepada seluruh muslim, kita sudah terbiasa berpikir tidak tersekat aliran maupun mazhab.

Selesai ritual tersebut MC kembali naik ke panggung dan mempersilakan KiaiKanjeng menempati posisi. Rupanya Mas MC, yang adalah mantan personel band Timlo, sangat akrab dengan beberapa bapak-bapak KiaiKanjeng.

Suara Mas Islami mengalun menuntun jamaah menembang-nembang sholawat.

“eman-eman tenan wong bagus ora sembahyang
Nabi Yusuf bagus, yo sembahyang”

How amazing sebenarnya bagaimana seorang tokoh dari peradaban Mesir dan bangsa lain ditransmisikan dalam tembang-tembang hingga ke pedesaan di Nusantara. Tauhid pada satu sisi pandang berfungsi sebagai jembatan lita’arofu antar peradaban. Namun belakangan peradaban lita’arofu agak mengalami mundur evolusi atau devolusi, karena berbagai ketamakan serta kemapanan posisi serta asingnya logika-rasional. Situasi keormasan dan bergolong-golongan kita sekarang makin mirip dengan negara-negara Eropa pada masa pra Perang Dunia, di mana setiap golongan dengan narasi nasionalisme, keyakinan menjaga keutuhan bangsanya, membentuk milisi-milisi sendiri.

Maka dalam Sinau Bareng, posisi NU dikembalikan untuk menjaga kebersamaan, kuat berstamina menjaga kerukunan, tidak berlebih-lebihan mengantagoniskan dan mengherokan.

Shalawat Badar melantun menjelang pukul 21.00 WIB dan Mbah Nun naik ke panggung bersama jajaran pemerintahan kabupaten, sesepuh wilayah, serta pihak militer dan kepolisian. Mbah Nun mengajak para jamaah berdiri, bersama melantunkan lagu kebangsaan Indonesia, yaitu Indonesia Raya dan dilanjut dengan Yahlal Wathon yang dinyanyikan bersemangat oleh banyak jamaah dengan tangan mengepal-ngepal ke atas. Keren, sayang sekali yang nulis reportase tidak hapal lagunya. Itulah kemudian Mbah Nun menyapa dengan pernyataan yang membuka awal paragraf reportase ini.

“Malam ini temanya kita Sinau nang NU, nek arep Sinau ya kudu takon.” Begitu ungkap Mbah Nun setelah sambutan dari beberapa tokoh telah rampung. Juga Mbah Nun akan memberikan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan NU. Seberapa kita kenal NU? Bagi kultur yang akrab dengan pengajian satu arah, ajakan untuk mengajukan pertanyaan adalah tantangan sendiri. Tapi Sinau Bareng memang sangat asyik bagi orang-orang yang suka tantangan.

“Mari kita cari nalar, mari kita cari rasional, mari kita cari mantiq, cari logic. Kudu ketemu awalnya, kudu ketemu arahnya. Termasuk juga NU”. Satu pertanyaan dari Mbah Nun “Anda NU-Indonesia atau Indonesia-NU?” Dan bermulalah Sinau Bareng yang menantang logika dan daya pembelajar bersama. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun