Sinau Bareng di Harlah NU (Bagian 1)

Liputan Sinau Bareng di Harlah NU ke-93, Karanganyar, 3 Februari 2019

Sinau Bareng itu bukan pengajian, bukan tausyiah, bukan tabligh Akbar atau apapun itu. Tapi kalau terpaksanya ada yang menyebut begitu juga tidak anti terhadap apapun. Alun-Alun Karanganyar gerimis sore tanggal 3 Februari 2019M ini, Sinau Bareng akan digelar di sini nanti malam. Ornamen ormas NU tampak menghiasi, beberapa baliho berisi ucapan selamat ulang tahun untuk ormas tersebut tampaknya dipajang oleh organ-organ underbow dan pendukung ormas ini, panggung beratap putih dilapisi karpet biru berdiri, beberapa kru media menyiapkan peralatan. KiaiKanjeng sedang melaksanakan cek sound dengan keseriusan yang presisi, nomor-nomor dilantunkan dan nada-nada dicari yang pasnya.

Di seberang sana, satu baliho besar berkibar dengan gambar tiga tokoh pendiri NU di masa lalu, tulisan “Tabligh Akbar” dengan bendera NU kecil dan logo sebuah bank yang tampaknya sponsor acara mendominasi bagian bawahnya.

Hampir seabad yang lalu. Ketika revolusi Arab terjadi Mu’tamar Al-Alam Al-Islamiyyah diadakan oleh pemerintah Mekkah yang baru. Seluruh kaum agamawan Islam dikumpulkan, sementara Mesir juga tak mau kalah mengadakan konferensi serupa. Akrab disebut konferensi khilafah, karena memang fungsi konferensi ini adalah melihat seberapa legitimate pemerintah yang berdiri itu untuk meneruskan status khilafah formal.

Undangan resmi dari Mekkah jatuh ke alamat Sarekat Islam, kepada HOS Tjokroaminoto yang segera bersiap untuk berangkat. Tak pelak ini menimbulkan kegalauan di antara kaum tua yang juga belum sembuh betul dari pukulan telak akibat datangnya kaum muda modernis-reformis beberapa tahun lalu. Kaum muda lulusan Al Azhar di Mesir pulang kampung dengan membawa gerakan baru bertajuk “An Nahdlah” atau kebangkitan yang merupakan hasil dari elaborasi ulama modern Mesir, narasi ini merebut hati kaum Islam baru di banyak wilayah di Sumatera dan Jawa, kaum tua merasa terlupakan. Ada kebimbangan zaman, perubahan segera terjadi. Kesadaran perlu dibimbing, harus ada yang menengahi.

Maka itulah Mbah Hasyim Asy’ari memilih posisi pengayoman itu. Menemani mereka yang tua dan gundah, karena zaman baru sedang membuka. Yang tua perlu siap berbenah, yang  muda perlu bijak ngemong atine wong tuwo, sederhana seperti itu tapi butuh taktik yang tepat. Demi itu juga, Mbah Hasyim mengutus Mbah Wahab Chasbullah dkk untuk turut hadir dalam kongres khilafah di Mekkah sebagai delegasi Hijaz versi kaum tua. Sedangkan Kiai Ahmad Dahlan atas nama Muhammadiyah memilih menghadiri kongres serupa di Mesir. Berarti dari tanah Jawa saja, kita punya sesungguhnya tiga delegasi Hijaz.

Langkah Mbah Hasyim inilah yang kemudian kita tahu menjadi cikal bakal berdirinya ormas NU. Langkah yang terbilang cerdas dalam politik internasional dan melegakan posisi kaum tua di wilayah lokal, pemerintah Mekkah yang baru tidak mungkin menolak delegasi manapun karena butuh sebanyak mungkin hadirin, dan ini dimanfaatkan betul. Spekulasi tingkat tinggi ini sangat jitu dan berhasil. Kata Nahdhah, kebangkitan, bahkan bergeser pemaknaannya. Dari yang dulunya lekat kepada kaum muda modernis menjadi kaum Nahdliyin yang lekat dengan tradisi. Tradisi dan modernitas hanyalah putaran wajar dalam sejarah, apa yang dulu modern akan jadi tradisi dan tidak menutup kemungkinan pun sebaliknya.

Ini masih dalam suasana ultah NU dan di Alun-Alun Karanganyar, kaum Nahdliyin zaman now tampaknya memilih mengembalikan posisi pengayoman seperti yang dulu dicontohkan oleh Mbah Hasyim Asy’ari dan kawan-kawan. Sinau Bareng punya posisi pengayoman di zaman yang hilang pamomongnya ini. Bukan berarti tidak bisa kita bangkitkan, kita “nahdhah”-kan kembali. Bisa, Dan maka itulah kita Sinau Bareng.

Adzan berkumandang dari berbagai penjuru. KiaiKanjeng menyudahi cek sound. Tampaknya hujan telah menuntas, berganti senja yang membara di langit. Sinau Bareng atau tabligh Akbar? Tidak ada masalah dengan kedua-duanya bukan? Kita bertemu malam ini di muara rindu yang satu. Alfatihah untuk semua sesepuh-sesepuh kita dan kita teruskan mental pengayoman yang mulai langka itu. Bismillah. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun