Sinau Bareng Dalam Ulang Tahun Terakhir Banjarnegara di Bulan Agustus

Ini mungkin adalah hari ulang tahun kota Banjarnegara yang terakhir yang dirayakan pada tanggal 22 Agustus dan dalam ulang tahun terakhirnya pada bulan Agustus ini, pemerintah kabupaten Banjarnegara menginisiatifi diadakannya gelaran Sinau Bareng juga ada pesta rakyat. Kenapa ini adalah ulang tahun terakhir Banjarnegara? Bukan saja karena bulan depan sudah bukan bulan Agustus lagi. Tapi lebih karena menurut sumber berita yang beredar, hari jadi kabupaten Banjarnegara mulai tahun 2020, disepakati untuk maju ke bulan Februari. Maka ini terkahir kali dia diperingati pada bulan Agustus, kalau tidak ada perubahan kembali.

Sebenarnya hal semacam ini sungguh lumrah dalam pembacaan data sejarah secara akademis. Selalu ada data baru dan interpretasi baru. Fakta sejarah memang tidak berubah (dan selalu prinsip akademisnya adalah kita tidak tahu apa-apa mengenai fakta) dalam pola pikir ilmiah kita hanya bisa menggali data. Data dan interpretasi bisa berkembang, bisa berubah, direinterpretasi, didekonstruksi atau direvisi. Tentu ada pagar juga agar kita jangan sampai mengalami misinterpretasi.

Pada masa awal akademisi berkiprah di sini, manusia Nusantara terhitung sangat cepat menangkap gejala akademis dan langsung menjadikannya tradisi sebagaimana yang kita lihat sekarang. Mungkin pada masa itu, akademisi sangat tidak berjarak dengan masyarakat. Kita ingat ada peneliti sosial bernama Labberton yang juga nyantri pada Eyang Santri di Gunung Salak (kelak diakhir hidupnya bekerja bekerja di FBI Amerika).

Kita selalu belajar meluaskan cakrawala pandang di berbagai majelis Sinau Bareng dan Maiyah, bukan? Entah kita sadari atau tidak, hal semacam ini sebenarnya sangat bermanfaat dalam wilayah akademis ilmiah. Orang Maiyah yang berkecimpung di wilayah akademis, tentu bisa lebih kaya sudut, sisi, jarak dan lingkar pandangnya.

Alun-Alun Banjarnegara sedang sumringah dan meriah. Warna-warni menghiasi dan “Berlaksa-Laksa Cahaya” dilagukan oleh KiaiKanjeng setelah maghrib terlaksana dan senja sudah tuntas tugas. Barisan depan panggung telah terisi para perindu. Sementara di pendopo Kabupaten ada pasar rakyat yang disiapkan oleh panitia, jamuan berupa jajanan pasar yang boleh disantap sesuka hati dan tidak dipungut biaya sama sekali.

Sebagaimana Paris lebih tua dan lebih sepuh daripada Perancis, dan sebelum Oaris ada suku-suku Galia. Banjarnegara juga lebih tua daripada NKRI. Memang seringnya begitu, desa selalu lebih dulu ada dari kota dan kota lebih dulu ada dari negara. Perubahan sikap atas sudut pandang data sejarah seperti yang dialami oleh pemerintah Banjarnegara bisa kita maknai sebagai usaha pemerintah kabupaten untuk lebih presisi dan tampak jelas bahwa ini adalah keinginan luhur untuk tetap mengingat para sesepuh tanpa membakukan dan membekukan tradisi. Dan di Maiyah kita belajar lembut, fleksibel dan cair atau lebih lathif. Itu juga adalah latihan tak berkesudahan di Maiyah.

Malam ini Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng akan dimulakan. Majlis kegembiraan dimana kita belajar untuk bukan saja merepetisi tradisi tapi juga mengkontinuasi. Belajar presisi, detil, logis dan saling aman beriman. (MZ Fadil)

Lainnya

Dijajah Egoisme

Puisi Puasa: Untuk Satu Tahun Mafaza Eropa

Bareng-Bareng Membaca Wirid Akhir Zaman

Perjuangan Penegakan Sakinah

Buku dan Merchandise