Sinau Apik, Pengijazahan Yang Bukan Ijazah

Seorang peserta mengajukan tanya di panggung mengenai bagaimana menjaga hati di tengah kondisi zaman seperti ini. Tentu itu pertanyaan yang logisnya hanya bisa dijawab oleh diri masing-masing. Namun sang penanya melanjutkan pertanyaan itu berubah menjadi permintaan agar Mbah Nun berkenan meberi ijazah untuk dirinya. “Siapa tahu ada riyadhoh ijazah dari Mbah Nun,” katanya.

Saya sedang jalan-jalan nyempil di antara keramaian pada Sinau Bareng yang dilangsungkan di dusun tengah kota Sidoarjo tadi malam, Dusun Sungon 18 September 2019 M. Dan saya sampai terhenti untuk mendengarkan respons dari Mbah Nun. Saya kurang mendalami dan memahami apa itu riyadhoh yang dimaksud.

Tapi dari nada konteksnya, Mas yang bertanya ini tampaknya menganut believe system tentang jalur keilmuan mistis dengan rentetan nama guru yang bersambung-sinambung ke atas. Kata ijazah di sini dalam term mistisisme, tapi sebenarnya memang ini berasal dari rahim yang sama yang juga melahirkan perspektif keilmuan ilmiah modern. Hanya praksisnya di wilayah budaya yang berbeda.

Kon wes ngerti sembahyang? (iya) yo sembahyango. Kon wes roh akal sehat? (ya) yo akal-sehato. Kon wes roh jujur yo jujuro… Wis ngono tok wong jawabane wes jelas koq.” Agak berentetan jawaban dari Mbah Nun dan kemudian melanjutkan dengan sedikit saran, “Lakukan apa yang Anda sudah tahu dan ingat apa yang Anda tanyakan tiap hari.”

Rasanya, satu fenomena ini boleh kita gali lebih fokus. Di tengah Sidoarjo ini, entah berapa ribu manusia sedang Sinau Bareng, padat. Semua dan masing-masing mereka adalah fenomena Sinau Bareng sendiri dengan penangkapan dan pemahaman yang sama penting bagi diri mereka sendiri. Saya hanya berkesempatan menuliskan yang bisa saya tangkap, peresapan lain bisa sama sahnya. Toh ujungnya, seperti yang diingatkan oleh Mbah Nun juga, membuat kita jadi tambah baik dan bermanfaat atau tidak, bukan?

Apa yang menarik dari fenomena ini? Bagi saya, hal yang tertangkap pertama kali adalah bagaimana Mbah Nun memberikan dialog yang kelasnya bukan sekadar tutur-tinutur guru murid belaka. Tapi justru mengembalikan pada daya olah pikir si penanya. Hal macam ini sering terjadi dalam Sinau Bareng. Dan kalau kita sedikit lebih teliti, dalam dialog Rasulullah dengan para sahabat juga sering terjadi demikian.

Artinya tidak selalu jawaban diberikan dengan cara mengambil otoritas pikiran si penanya. Ketika ada orang bertanya pada Rasulullah Saw soal apa itu dosa? Rasul kalau tidak salah menjawab bahwa apa yang bikin hati tidak nyaman dan malu kalau orang lain mengetahuinya. Itu kan sesuatu yang orang punya jawabannya masing-masing, berbeda skala dan ukuran per person apalagi ukuran budayanya sendiri-sendiri.

Soalnya begini, kalau pada pertanyaan yang bersifat batin psikologis, kita menjawab dengan jawaban padat baku ala resep, maka hampir pasti yang terjadi efeknya adalah kemanjaan pikiran, ketergantungan pada sosok, terciptanya arus tradisi taqlid serta si penjawab secara tidak sadar akan dinaikpangkatkan ke dalam kultus-kultus kultural. Dan kita telah berabad-abad membangun ini.

Pernahkah kita bertanya kenapa cerita wali-wali selalu tidak jauh beda dengan cerita santo-santo, rahib-rahib, atau orang-orang suci di banyak budaya? Salah satu pola yang bisa kita baca sebenarnya adalah fenomena pengkeramatan itu ada di mana-mana di seluruh dunia dan saling bertukar cerita. Dan tidak banyak yang punya kesiapan mental membongkar kekeramatan posisi dirinya.

Tradisi jalur ilmu dan lelaku ini sebenarnya juga ditemukan pada banyak wilayah budaya. Pada biara-biara pesantren ala Eropa sejak abad pertengahan, di Yeshiva kaum Yahudi si Judea. Atau di Star Wars, seorang calon ksatria Jedi statusnya masih Padawan, harus melayani dan berguru pada seorang Jedi yang lebih senior sampai dirasa cukup untuk menjaga kesimbangan Force…. Baiklah, skip dulu bahasan dan dakwah Star Wars. May the force be with you.

Jalur nama-nama pengijazahan semacam ini memang dulunya sangat dibutuhkan dalam hal kewaspadaan. Kenapa? Karena manusia punya kecendrungan memilih narasi yang membuat nyaman dirinya. Narasi yang memapankan. Mapan urusannya tidak selalu ekonomi, kere tapi mapan psikologis justru bisa menimbulkan militansi luar biasa dangkalnya.

Beberapa orang dengan seragam kemiliter-militeran lewat di depan saya, dua di antaranya wanita, berjilbab. Sikap tubuhnya jelas bukan sikap tubuh militer yang terbiasa siaga. Saya harus sedikit menyingkir agar tidak kena injak sepatu boat. Di panggung, Mbah Nun juga sempat menjawab kegelisahan seorang perempuan yang karena bekerja sebagai pendongeng dengan media boneka, pernah disebut musyrik. Sekali lagi Mbah Nun memberi otoritas pikiran dari penanya dengan bertanya balik, “Pendapat anda sendiri bagaimana?”. Baru kemudian masuk pada pemikiran Mbah Nun sendiri.

Intinya, dulunya metode jalur-jalur ilmu dan lelaku ini pada awalnya dibuat agar kita mau lebih hati-hati. Nah namun dalam putaran sejarah kita memang sudah akrab bahwa apa yang pernah menjadi pemerdekaaan seiring berjalannya waktu bisa saja jadi alat penjajahan. Apa yang dulu kewaspadaan bisa saja dijalankan justru melenakan. Darth Vader si tirani galaxy itu juga dulunya adalah Anakin sang Jedi paling brilian kan? Tuh kan balik ke Star Wars lagi.

Bagaimana apabila begini? Jangan-jangan sebenarnya di Sinau Bareng ini ada ijazah-ijazah, penginstalan kesadaran yang kita tidak terlalu menyadarinya secara pikiran. Namun bukan seperti yang sudah-sudah dijalankan di berbagai budaya itu. Tapi justru dia tertanam dalam batin. Sebab kalau kesadaran ditanam di pikiran sekadar dengan ajaran kata-kata itu namanya doktrin, kan?

Mungkin ada benih ijazah dalam Sinau Bareng yang kemudian dijaga, dipupuki dan disirami rutin oleh para malaikat yang shift antar galaxy, hingga kemudian dia subur menjadi kesadaran-kesadaran baru. Jadi pohon penangkap sinyal kenabian, menjadi sikap yang menebar kebaikan dan kemanfaatan.

Seperti ketika dolanan dengan tripe wirid Rabb, Malika, dan Ilah yang dipandu oleh Mas Doni serta Pak Jijid. Atau ketika dolanan lagu-lagu. Sejak awal, ini adalah bagimana kita berpikir dan bertindak menjadi lebih apik dan lebih bermanfaat.

Buku Cak Nun