Siaga Kapak dan Tongkat

Kalau ada kalimat tulus “Saya bahagia losssss di Maiyah…”: ia jujur, benar, dan tepat kalau yang mengekspresikan adalah para pelaku Maiyah.

Kalau saya atau para Marja’ yang menyatakannya: itu ‘GR’, kesombongan, yang merupakan benih kekuasaan keduniaan. Maka Akhlaq yang mengikat leher saya adalah kewajiban bertanya: “Kalau engkau menderita di Maiyah, segera tinggalkan dan kembalilah ke dunia”.

Karena yang dititahkan untuk saya bangun dan garap adalah Jannatul Maiyah. Sedangkan Dunia adalah kota-kota kemegahan, kemewahan dan medan-medan permainan. Dunia adalah gedung-gedung tinggi “la’ibun” dan transportasi hedonisme “lahwun”. Dunia adalah “Alam Maya”, penghuni dunia sendiri yang mendefinisikan dan menyatakannya. Alangkah buta penduduk bumi. Mereka sendiri bilang “maya”, tetapi tidak menemukan kehidupannya sebagai “fana”.

Di tepian-tepian Dunia yang semakin Maya itu terhampar hutan-hutan rimba. Kalau engkau menembus rimba itu, memakai kacamata Rahman Rahim, membawa frekuensi “wa Huwa yudrikul abshar”, serta berbekal metodologi Lathif Khobir — maka kau temukan di sela rerimbunan hutan lebat itu ruang-ruang yang belum pernah engkau lihat dan alami sebelumnya.

Yang kebanyakan penduduk Bumi tidak pernah membayangkannya, bahkan tak akan mempercayainya andaikan pemandangan dan pengalaman itu muncul dalam mimpinya. Yang sejak 10 tahun Peradaban Ats-Tsaqafah AlMadaniyah yang dipawangi oleh Habibullah Muhammad SAW ditinggalkan oleh peradaban manusia. Yang kaum Muslimin sendiri, apalagi ummat manusia dengan Globalisasinya — meremehkan dan mentertawakannya.

Tetapi innalloha wa malaikatahu menggiring dan menghimpun semakin banyak kaum muda generasi baru peradaban bumi ke ruang-ruang Pelatihan Hidup Sorga itu. Di sela-sela hutan rimba itu berlangsung Training Cara Hidup Sorga, yang dibangun tidak dengan kekuasaan politik, kerakusan materialisme, persaingan eksistensialisme, kerakusan uang dan benda-benda, serta kampanye-kampanye dholuman jahula.

Di ruang itu mereka memperoleh kejelasan dan keteguhan tentang hidup yang mereka jalani. Pangkal ujungnya, sangkan parannya, sebab akibatnya, komprehensi dan detail sebab akibatnya. Mereka menunggu momentun Sorga dengan tenang, tenteram, gembira dan bahagia. Keluarga mereka dipayungi Ro`ufun Rohim. Rejeki mereka dijamin “wama min dabbatin….”, “min haitsu la yahtasib”, “ath’amahum min ju’in wa amanahum min khouf”, buy Two get Four At-Thalaq 2-3.

Sementara para pemaniak Peradaban Globalisasi tidak bisa melihat sela-sela rerimbunan rimba itu, apalagi mengapresiasinya. Mereka melihat hutan tanpa menemukan Tuhan. Mereka melihat rimba tetapi tidak memakrifati Sorga, sebab bagi mereka hutan adalah konsumsi pemenuhan keserakahan yang rendah. Jangan berharap ilmu mereka, metodologi pandangan hidup mereka, media massa dan media sosial mereka, pembangunan dan Kabinet mereka — sanggup mukasyafah untuk melihat dan menemukanmu.

Globalisasi dan para pemimpin dholuman jahula maupun rakyatnya yang la yadri wala yadri annahu la yadri takut kepada kaki anjing Ar-Roqim alias Kitmir di mulut Gua Kahfi. Mereka tak kan pernah berani memasuki Gua. Karena bagi mereka itu adalah sarang anjing yang gelap gulita. Tetapi sekali salah seorang dari mereka tercampak di panggung Maiyah Kahfi, mereka terperangah-perangah sampai terbintang-bintang matanya, terguncang hatinya dan ambyar tatanan pikirannya.

Bagi mereka yang masih diperkenankan oleh Allah memiliki sisa kejernihan hati dan kecerdasan akal — akan spontan mulutnya mengucapkan “masyaAllah la quwwata illa billah”. Mustahil Maiyah ini ciptaan manusia. Mustahil padatan dan hamparan kegembiraan dan kebahagiaan ini direkayasa oleh makhluk apapun. Mustahil keajaiban-keajaiban yang tampak atau tersembunyi namun nyata pada mata kepala pikiran dan hati ini bisa berlangsung terus menerus — kalau bukan “innalloha Balighu amriHi”.

Tetapi setiap kali para pemuda pemudi Riyadlotul Jannah kembali ke rumah keluarganya di kampung-kampung, desa dan kota, tumbuh kembang dan membengkaklah “‘azizun’ alaihi ma ‘anittum harishun ‘alaikum bilmu`minina Ro`ufun Rohim”. Mereka tidak tega kepada para tetangga, kepada masyarakat, rakyat, warganegara Negeri Kegelapan Republik Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un.

Mereka tidak terikat mandat dan kewajiban untuk itu. Tetapi mereka siap bersedekah dan sudah selalu berinfaq kepada kemashlahatan Negerinya. Minimal mereka siap menjadi kumpulan semut-semut pembawa air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Tetapi siap-siaga dengan kapak-kapak untuk menghancurkan berhala-berhala Globalisasi kapan saja Allah menurunkan amr-Nya, meskipun dilarang menggantikan Namrud.

Mereka adalah Musa-Musa yang sudah selalu mencabut helai demi helai janggut Fir’aun meskipun dilarang menggulingkannya dari singgasana. Mereka siap dikawal dzun-Nun menyisir tepian laut, kemudian berpijak di Majma’al Bahroin pertemuan laut tawar dan asin. Bersiap memukulkan tongkat “idhrib bi’ashokal bahr”, dan Allah sendiri yang menenggelamkan Fir‘aun ditimpa ditenggelamkan oleh main-mainnya sendiri mencampur-adukkan hakekat nilai tawar dan asin, asam dan manis, pahit dan sedap, haq dan bathil, dhulm dan nur, khoir dan sayyi`, hikmah dan jahulah, serta kehinaan dan kemuliaan.

Ya Robba, ya Malik wa ya Ilah, in lam takun ‘alaina ghodlobun fa la ubali…..

Buku Cak Nun Majalah Sabana