Shadaqah Silaturahim untuk Wartawan

Umumnya, acara konferensi pers diadakan untuk menjelaskan sesuatu secara resmi kepada wartawan dan jurnalis. Baru kemudian jurnalis dan wartawan akan membawa pesan itu kepada masyarakat. Maiyah tidak perlu konfrensi pers apa-apa, sebab masyarakat manusia sendiri yang juga ikut berkumpul di majelis-majelis Maiyah di berbagai titik. Apa yang kurang jelas, kita cari bersama di Maiyah. Apalagi era sekarang, di mana informasi sudah bisa diakses siapa saja dan bisa di-posting oleh siapa saja.

Mungkin tradisi konferensi pers sebentar lagi akan lenyap. Perihal sekarang informasinya belum beradab, mungkin itu proses. Toh ketika informasi masih dipercayakan pada jurnalis juga bukan berarti tidak ada penyelewengan informasi kan? Minimal tentu saja ada editorial yang berhak menentukan mana berita yang kacangan dan mana yang dianggap penting. Manusia sekarang sudah tidak mungkin berada dalam otorisasi informasi semacam itu. Berita politik tidak lebih penting di medsos dari pada berita sebuah negara yang sedang bergejolak api revolusi.

Apa indikasi penting-tidak penting, urgen-tidak urgen atau relevant dan irrelevant? Entah. Tapi tidak ada yang berhak menentukan mana informasi yang lebih penting dari lainnya, orang hanya bisa menyajikan. Tidak mungkin ada informasi yang disampikan dengan kata-kata oleh manusia yang sifatnya netral, pilihan kata dalam tulisan semacam ini saja tentu sudah mengandung kesadaran tertentu yang berpotensi tertransmisikan dari penulis pada pembaca. Maka pada era ini, baik pengonsumsi informasi maupun penyajinya, mesti sama-sama berdaulat dan paham posisi diri.

Mbah Nun meninggalkan dunia pers sejak tahun 1998 dan walau sebelum itu sudah aktif berkeliling menemani masyarakat, sejak itu pula berbagai majelis Maiyah berorganisme tumbuh dengan nilai perjuangan yang natural. Bukan ideologi baku, tidak dengan dana funding, juga tidak dengan tujuan kekuasaan politik praktis. Bahwa ada yang selama beberapa dekade berkumpul di berbagai titik membangun, menyicil kebersamaan di dalam tubuh peradaban yang sedang rusak entah bagaimana itu tidak menjadi nilai berita apa-apa. Dan memang tidak apa.

Ini adalah silaturrahim. Adalah juga bernilai shadaqah. Atau dialektis di antara keduanya. Para jurnalis berkesempatan utuk hadir, datang, menerima satu tulisan Mbah Nun yang berjudul “Presiden Husnul Khatimah”. Tentu ada kesempatan tanya jawab, dan kemudian makan bersama di pendopo Rumah Maiyah. Acara sederhana saja. Menjelang Jumatan, acara sudah rampung. Cukup ringkas pertemuan pada tanggal 29 Maret 2019 M ini. Dan Mbah Nun menyampaikan bahwa ini diharapakan akan ada terusannya. Termasuk tulisan yang dibagikan juga akan ada seri selanjutnya. Di sini kita bisa melihat Mbah Nun sebagai sesepuh para jurnalis sedang melatih juniornya yang masih berusia kisaran 30-50 tahun untuk menjadi penggali informasi yang sabar. Tidak ada satu persoalan bangsa ini yang bisa diperdalam hanya dari satu-sepuluh jam wawancara atau hanya dengan satu dua abad investigasi. Kita butuh keluasan dan kedalaman yang imbang.

Banyak pertanyaan yang muncul dari kawan-kawan jurnalis misal ada Mbak Sisi dari Liputan6.com mengajukan pertanyaan mengenai, “Menurut Cak Nun pemerintahan yang baik itu seperti apa?” Atau ada juga Mas Arif dari Gatra yang menanyakan soal perbedaan pandangan Mbah Nun pada pilpres 2014 dan 2019? Juga seorang kawan wartawan dari Merdeka.com mengajukan pertanyaan yang digali dari tulisan yang dibagikan pada awal pertemuan mengenai istilah “vacuum presiden”, kenapa istilah itu baru muncul sekarang sedang di 2014 tidak? Juga pertanyaan dari wartawan Harjo mengenai tren hoaks yang sedang melanda dan polarisasi kelompok besar yang sedang terjadi di Yogya.

Mengenai bentuk pemerintahan yang baik, sedikit dibercandai oleh Mbah Nun dengan, “Memagnya ada yang butuh pendapat saya?” Ini rasanya mengandung pembelajaran juga. Bahwa ketika kita mengajukan pertanyaan pada seseorang dan akan menjadikannya berita, kita perlu tahu kenapa dia yang ditanyakan, seberapa kapasitas, pengalaman, latar belakang, serta sebutuh apa pembaca mengetahui pendapat tersebut. Kalau tidak, kita akan dikepung informasi instan yang yang kesemuanya sekadar pendapat dan dibuat seolah sama penting dan justru bisa terbalik, pendapat yang penting malah dianggap tidak.

Pertanyaan lain banyak muncul justru ketika acara sudah akan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama. Ketimbang menjadikan ini acara wawancara resmi yang tampak wagu sering kita lihat di tivi-tivi, dengan sorotan kepada tokoh politik maupun selebritis (yang sebenarnya juga tidak begitu ada bedanya), rasanya lebih nyaman seperti yang terjadi pagi hari ini. Ini adalah obrolan yang santai namun mengandung penggalian demi penggalian.

Mbah Nun banyak memberikan babaran soal kewaspadaan dalam berpikir. Pertanyaan soal hoaks punya kandungan lebih mendalam ketika dijawab oleh Mbah Nun dan ditegaskan bahwa, “Soal hoaks ini adalah salah satu alasan acara ini digelar”. Banyak orang beranggapan bahwa hoaks sekedar berita bohong. Tapi algoritma hoaks jauh lebih rumit dari itu. Di medsos sangat mungkin terjadi orang menyebar hoaks justru ketika sedang membagikan pesan anti-hoaks. Karena persolan dalam hoaks adalah kurang terlatihnya logika dalam berpikir.

Menurut Mbah Nun karena bangsa Nusantara ini manusianya kuat-kuat, itu justru membuat kita tidak begitu kritis dalam mengelola logika “Hoaks dan tidak hoaks, tidak ada rumusnya. Kalau Menkominfo bilang (suatu berita) itu hoaks kan harus diperjelas itu hoaks karena memang hoaks atau hanya karena berbeda kepentingan?”. Untuk pertemuan ini tampaknya Mbah Nun sedikit memudahkan logika dan sampel yang diambil.

Mbah Nun juga memberi semangat pada para jurnalis ini bahwa mereka adalah pihak yang bisa berpotensi memepertautkan hati manusia dan membangun kebersamaan dan persatuan. Soal persatuan menurut Mbah Nun bahwa kuncinya ada tiga: “Bahwa yang penting orang tidak mencuri, tidak membunuh dan tidak menghina. Jadi persatuan adalah terlebih dulu mencegah tiga hal ini.” Tiga hal ini adalah kuda-kuda dasar, artinya masih bisa ada pengembangan model membunuh juga adalah membunuh karakter, membunuh dengan pemberitaan yang tidak imbang dan lainnya.

Sedangkan pertanyaan mengenai bagaimana membangun kebersamaan di tengah masyarakat yang sedang terpolarisasi, Mbah Nun menyajikan beberapa opsi jawaban. Karena setiap persolan di tubuh masyarakat kita mengandung skala dan dimensi yang berbeda-beda. Bagaimana membangun kebersamaan? Pada tingkat masyarakat yang mana? Pada tingkat tertentu beberapa orang justru menikmati tidak bersatu bahkan menikmati kecenderungan perpecahan. Pada kelas masyarakat bawah mungkin itu adalah hal yang didambakan. Tapi pada lapisan yang makin mendekati kekuasaan politik praktis itu adalah hal yang menurut Mbah Nun justru mencandu bagi para pelakunya sampai Mbah Nun katakan, “Mereka menikmati kok. Politik praktis itu candu”.

Tidak ada perubahan sikap politik dari diri Mbah Nun. Itu dinyatakan oleh Mbah Nun sendiri. Sejak dulu Mbah Nun memilih untuk menemani, membersamai dan menengahi semua pihak sebisa-bisanya. Memberikan semampunya dan menutup apa yang perlu ditutup. Mbah Nun sedikit menyentil misal, kalau ada sebuah buku protokol keuangan Cendana, itu adalah contoh bahwa sebaiknya memang jangan dibuka dulu karena berpotensi akan mengecewakan banyak orang yang terlanjur meyakini tokoh-tokoh, idola, komandan pergerakannya dan bahkan yang terlanjur diwali-walikan ternyata tercantum pada buku tersebut.

Bukan soal buku tersebut yang memang tidak akan terbit dalam waktu dekat ini, yang perlu kita garis bawahi. Tapi bagaimana Mbah Nun mendidik para jurnalis bahwa aurat informasi itu tetap penting. Ada yang sebaikya khalayak tahu, ada yang sebaiknya tidak begitu tahu, dan ada yang sebaiknya tidak tahu sama sekali. Tapi kembali lagi, kita tidak tahu siapa yang berhak menentukan itu. Kita hanya bisa berharap dengan menegakkan kemandirian dan kedaulatan pikir manusia. “Apa yang bisa dicapai, cari dengan ilmu. Soal pilpres kan kita tidak punya ilmu dan metodologinya. Maka dia masuk wilayah iman, kalau iman ya libatkan Tuhan,” begitu kata Mbah Nun ketika para wartawan tetap menyempatkan diri untuk door stop interview, entah istilah ini benar atau tidak.

Jadi apa yang dibabarkan dalam pertemuan singkat ini? Banyak, soal kedaulatan berpikir dan belajar bagaimana informasi tidak harus selalu instan didapatkan hanya dari satu-dua kali pertemuan. Kita nantikan kelanjutan silaturrahim bersama para jurnalis ini kedepannya. Semoga, walau sedikit, masih ada harapan pada dunia jurnalistik kita.

Buku Cak Nun