Sewelasan Merayakan Sastra di Rumah Maiyah

Catatan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Juli 2019

Diskusi Sewelasan kembali digelar oleh Perpus EAN seperti lumrahnya tanggal 11. Bulan Juli 2019 Masehi ini, diskusi Sewelasan khusus membahas dan memeriahkan kelahiran buku antologi puisi “Negri Sontoloyo” di mana dalam buku ini terdapat karya dari para sastrawan dan seniman Yogya yakni Door Deo, Y. Arief Susilo, Nunung Rieta, Slamet Sukamto dan Arman Ramli dengan diberi pengantar oleh Indra Trenggono. Malam diskusi Sewelasan kali ini, perayaan buku antologi puisi terasa laiknya merayakan puisi demi puisi dengan beragam ekspresi, bentuk dan lintas dimensi seni di pendopo Rumah Maiyah.

Dibuka dengan pementasan musik dari group Sugenyi yang sangat ekspresif dan bernuansa etnik, malam langsung meriah dan gegap gempita dalam kesederhanaan. Wedang secang, teh panas dan camilan disajikan sebagai bentuk kesungguhan Perpus EAN dalam menjamu para pengunjung. Tanpa bisa dihindari, Rumah Maiyah malam ini menjadi seperti reuni kecil-kecilan para seniman Yogyakarta lintas generasi. Mbak Ririn dari Perpus EAN memberikan tampuk mikrofon pada Mbak Luwi Darto yang menjadi MC malam hari ini yang juga merupakan personel Sugenyi.

Pak Indra Trenggono kemudian dipersilahkan maju juga seluruh penulis yang namanya termaktub salam buku antologi puisi ini. Sedikit berkelakar, mereka menyebut diri sebagai “The Sontoloyo’s” yang tentu diambil dari judul buku tersebut. Dari pembabaran Pak Indra Trenggono kita diajak bertualang dari satu gaya ke gaya penyairan yang berserak indah di dalam buku yang sedang dimeriahkan bersama. Setelahnya kemudian warna-warni kebudayaan silih berganti menyemarakkan malam dari dramatisasi teatrikal, musikalisasi puisi dan beragam bentuk eskspresi lainnya.

Entah kenapa, atmosfer Rumah Maiyah selalu sangat kondusif untuk saling bersilaturrahim dengan sangat cair dan mesra. Itu terasa sekali pada malam hari ini. Para pegiat kesenian senior tampak hadir membaur bersama para generasi-generasi yang lebih muda. Dalam pembauran ini tidak ada kesan glorifikasi angkatan, semuanya manunggal dalam keindahan puisi. Seperti kenersamaan yang selama ini selalu kita perjuangkan di Maiyah.

Bahkan tidak ada pembedaan seniman maupun bukan seniman, karena memang sejatinya staus semacam itu selalu semu. Seorang sahabat lama Mbah Nun, Pak Kamal Firdaus yang sehari-hari lebih dikenal sebagai advokat juga tampak hadir dan menyumbangkan pembacaan puisi yang mengesankan. Bahkan saat dibuka dialog tanya-jawab, Bu Iroh sesepuh kita yang mengasuh Perpus EAN juga menyempatkan untuk membahas beberapa hal.

Bu Roh menegaskan bahwa judul “Antologi Puisi Negri Sontoloyo” tidak ada hubungannya dengan kegerahan iklim politik yang belakangan makin riuh oleh perdebatan yang tak kunjung dewasa. Bu Iroh juga sampaikan salam dan permintaan maaf dari Mbah Nun, karena malam ini sudah berangkat ke Jakarta. Kebetulan atau tidak, pada Kenduri Cinta di Jakarta tanggal 12 Januari 2019 ini, tema besarnya juga seputaran sastra. Rencananya ijazah Maiyah akan diserahkan pada tiga penyair yakni Pak Iman Budi Santosa, Pak Taufiq Ismail dan Pak Sutardji Calzoum Bachri. Selengkapnya pembaca yang budiman bisa baca-baca di web kita ini.

Pak Kamal Firdaus juga diberi kesempatan dan membahas banyak hal, dari berbagai nostalgia kisah di masa lalu bersama Mbah Nun di Jogja Teater (sekarang Taman Pintar) serta beliau juga memberi masukan agar Rumah Maiyah lebih sering dijadikan tempat untuk mengapresiasi sastra. Mungkin kita perlu contoh seperti Pak Kamal Firdaus, seorang advokat yang ketika berbicara sangat paham dan hapal berbagai karya sastra dari Chairil Anwar, Amir Hamzah, Widji Thukul dan banyak lagi karya sastra dunia lainnya dari Emily Dickinson, Lorca, Marquez dan banyak lagi.

Di Maiyah kita juga sebenarnya selalu, sengaja atau tidak sedang membangkitkan ruh sastra dalam diri kita. Karena ketika manusia menyastralah, kreativitas membuka, jiwa meluas dan meruang. Malam ini disksusi Sewelasan menjadi perayaan akan lahirnya ruh-ruh sastra dalam manusia. Teruslah lahir menyastra dan mari kita rayakan tanpa henti.

Buku Cak Nun