Setelah Cak Nun Datang Menjenguk Pak Kuntowijoyo

Ini kisah yang dituturkan oleh Pak Kuntowijoto ketika Cak Nun datang menjenguk. Tidak ada hal aneh dari peristiwa seseorang datang menjenguk temannya yang sakit. Namun, bagi Kuntowijoyo kedatangan Cak Nun memiliki arti lain. Tentu kesan Kuntowijoto yang dijenguk Cak Nun tidak bermaksud melebih-lebihkan sesuatu yang biasa saja. Ia hanya bercerita tentang apa yang ia alami dan rasakan. Dan barangkali Kuntowijoyo sadar bahwa dirinya bukanlah satu-satunya yang merasakan itu. Sebab, kita semua tahu, Cak Nun gampang berbuat baik kepada teman-temannya. Salah satu bukti kebaikan itu misalnya, Cak Nun akan datang menjenguk temannya yang sedang sakit dan datang melayat ketika ada temannya yang meninggal. Kita tentu tidak kesulitan menyebutkan nama-nama teman Cak Nun yang beliau jenguk saat sakit dan beliau layati saat meninggal.

Kita bisa anggap peristiwa Cak Nun datang menjenguk temannya adalah kewajaran seorang teman. Namun, di sisi lain kita perlu cermati apa kiranya yang disampaikan Cak Nun saat menjenguk temannya yang sakit. Jelas. Obrolan dan candaan yang disampaikan tidak bisa sebebas dulu. Ada batasan-batasan bahan obrolan untuk menyesuaikan kondisi kesehatan lawan bicaranya. Cak Nun tentu tidak bisa mengabaikan ini. Beliau peka pada apa yang dialami oleh orang terdekatnya. Dan, sebisa mungkin kedatangannya tidak menambah kerepotan tuan rumah.

Setiap Cak Nun datang menjenguk orang yang sakit. Informasi yang tersampaikan kepada kita adalah pernyataan-pernyataan Cak Nun tentang kondisi orang yang barusan beliau jenguk. Atau, kadang hanya selembar foto berisi adegan Cak Nun bersalaman, duduk berdampingan dengan orang yang dijenguk. Kita jarang mendengar kesan orang yang dijenguk Cak Nun. Beruntungnya ada Kuntowijoyo. Ia membagikan cerita kecil saat Cak Nun datang mengjenguknya, memulihkan lagi semangatnya, dan mengembalikan lagi senyum di wajahnya.

Terhitung sejak 6 Januari 1992, Kuntowijoyo terserang penyakit meningo encephalitis (infeksi otak) serta komplikasi otak yang menyebabkan beliau tidak bisa beraktivitas bebas. Lebih dari sebulan, beliau terbaring di Rumah Sakit Sardjito. Keadaan itu membuat aktivitas menulisnya berhenti total. Namun, itu tidak berlangsung sangat lama. Setelah keadaannya perlahan membaik. Satu jari di tangan kanannya masih bisa digunakan mengetik. Tentu dengan kecepatan mengetik selambat bekicot berjalan. Di salah satu video garapan Yayasan Lontar kita bisa melihat adegan Kuntowijoyo mengetik dengan satu jari. Menurut Kuntowijoyo beliau sangat bersyukur bisa menulis lagi. Dan salah satu orang yang berjasa membantu memulihkan kesehatannya, menurut Kunto, adalah Cak Nun. ”Saya harus mengucapkan terima kasih kepada Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) yang mengingatkan kembali asma al-husna. Katanya [kata Cak Nun] saya harus baca ya khaliq, ya bari, ya mushawwir untuk bisa kreatif,” katanya seperti yang termaktub dalam Ulumul Qur’an No. 4, Vol V, Tahun 1994.

Tentu Cak Nun bukan orang tunggal yang berperan membantu perbaikan kondisi kesehatan Kuntowijoyo. Tenaga media rumah sakit, keluarga, kerabat, dan teman-temannya lain tidak bisa dinafikan perannya dalam membantu tenaga dan doa dalam pemulihan kesehatan Kuntowijoyo. Kedatangan Cak Nun menjenguk Kuntowijoto dan membisiki untuk membaca tiga bacaan yang termaktub di Asmaul Husna juga hal yang sama dilakukan oleh orang-orang terdekat Kuntowijoyo: menguatkan spiritual dan mental Kuntowijoyo.

Namun, entah mengapa dengan durasi perawatan di rumah sakit yang lama dan jumlah penjenguk yang banyak. Kuntowijoyo hanya menyebut Cak Nun sebagai orang yang berperan atas kondisinya yang membaik. Cak Nun tentu bakal tidak gampang merasa besar hati mendengar cerita ini. Beliau bisa saja berseloroh bisikannya kepada Kuntowijoyo bukanlah penentu semuat itu. Itu hanya perasaan Kuntowijoyo saja. Dan, mungkin kedatangan Cak Nun bertepatan atas kehendak Allah yang memberi perbaikan pada kondisi Pak Kunto persis setelah Cak Nun datang menjenguk. Sehingga Kuntowijoyo ”salah sangka” bahwa proses di balik membaiknya kesehatannya berkat jasa Cak Nun. Cak Nun seringkali menghindar atas pengakuan-pengakuan semacam itu. Mungkin kalau pernyataan ini langsung disampaikan Kuntwijoyo di depan Cak Nun, Kuntowijoyo barangkali akan mendengar penjelasan Cak Nun tentang hubungan Cinta Segi Tiga: Allah-Rasulullah-Hamba. Relasi bagaimana usaha manusia dan kuasa langit bekerja menyelesaikan masalah-masalah dunia.

Sayang, Kuntowijoyo terlalu cepat pergi. Namun, kepergiaan itu meninggalkan potongan cerita kecil perihal apa yang disampaikan ketika Cak Nun datang menjenguk. Dan, kita tentu penasaran apakah yang disampaikan Cak Nun kepada Kuntowijoyo juga beliau sampaikan saat menjenguk teman-temannya yang sakit? Kapan-kapan kalau ada momen yang pas kita bisa tanya langsung ke Cak Nun soal ini.