Sepotong Kedisiplinan di Universitas Patangpuluhan

Dua hari lalu saya bertemu salah seorang alumni Universitas Patangpuluhan. Buat yang baru dengar nama universitas, ini catat saja dulu nama bukan sembarang universitas ini. Saya pun sebenaranya tergolong orang yang tidak menangi masa berlangsungnya universitas ini. Maka ketika bertemu salah seorang alumninya, saya memanfaatkan buat mendengarkan kisah-kisahnya di sela-sela obrolan kami.

Universitas Patangpuluhan tidak berupa bangunan gedung yang menjulang seperti kampus-kampus sekarang. Dan memang bukan perguruan tinggi. Ia hanya sebuah rumah kontrakan sederhana di kampung Patangpuluhan tepatnya di Gang Madubronto dengan segenap penghuni dan kehidupannya. Di rumah yang dikontrak Mbah Nun itulah, selama bertahun-tahun Mbah Nun tinggal di situ. Bersama beberapa adik beliau. Namun ternyata, itu rumah bukan sekadar rumah layaknya milik warga lain. Di rumah ini banyak orang mangkal, ngumpul, dan melakukan berbagai aktivitas. Tak terkecuali para mahasiswa dan aktivis zaman dulu.

Mereka datang ke situ karena hendak menyerap informasi dan ilmu dari Mbah Nun. Ketika itu Mbah Nun telah menjadi poros bagi banyak orang buat berdisuksi, berpikir, berdebat, dan berpergerakan. Atau mungkin di antara mereka ada yang hanya ingin merasakan atmosfer di situ. Maka sang alumni tadi bercerita memang banyak orang yang silih berganti datang ke Patangpuluhan, menyerap ilmu, dan di kemudian hari sebutlah jadi “seseorang”.

Jika ada orang yang mengaku murid Mbah Nun itu bagi dia memang benar-benar benar karena senior alumni ini menyaksikan sendiri pada masa di Universitas Patangpuluhan. Gambaran suasana di Patangpuluhan dapat kita ikuti salah satunya lewat Markesot Bertutur dan Markesot Bertutur Lagi.

Dari kakak senior alumni ini, saya mencari apa yang mungkin belum pernah saya dengar.

Alhamdulillah saya dapatkan. Digambarkan olehnya, kehidupan di Patangpuluhan itu baru benar-benar hidup itu sesudah isya’ di mana orang-orang mulai berdiskusi, termasuk Mbah Nun kalau sedang tidak keluar kota. Makin malam makin hidup. Seringkali kemudian obrolan berpindah ke warung Pak Mari. Gayeng hingga larut malam. Kalau sudah selesai, mereka akan pulang, atau sebagian kembali ke Patangpuluhan. Oh ya kata senior kita ini, setiap makan di situ, Mbah Nun selalu mbayari.

Tiba di rumah, Mbah Nun tidak tidur, tetapi langsung menulis. Harap diingat kala itu, Mbah Nun adalah kolumnis yang selalu ditunggu esai-esainya oleh media massa dan para pembaca. Beliau menulis dengan mesin ketik manual, ketika belum ada komputer, atau menggunakan komputer tatkala sudah mulai ada komputer. Dan sekali duduk itu tidak hanya satu dua artikel. Bisa lebih, untuk beberapa media sekaligus.

Obrolan-obrolan di Patangpuluhan atau di warung Pak Mari adalah bahan bakar yang akan diolah menjadi esai-esai dengan gaya dan sentuhan khas Mbah Nun. Itu selalu begitu ritual Mbah Nun setelah ngobrol. Rajin, tekun, dan disiplin menulis. Dari situ senior kita berkata, “Cak Nun sangat bersungguh-sungguh dalam membangun dirinya.” Artinya, Mbah Nun adalah orang yang disiplin, punya agenda yang dikerjakan dengan jelas, dan satu hal beliau sangat tidak suka dengan kemalasan.

Tentang menulis ini, saya mungkin mendapatkan satu tambahan bahwa Mbah Nun menulis bukan sekadar produktif menulis, melainkan menulisnya bagus, kuat, khas, dan rapi. Komponen-komponen ini sebenarnya menarik buat dipelajari. Satu unsur saja kita sebut, misalnya: rapi. Bandingkan dengan kita yang sudah hidup di alam android ini. Menulis banyak typo-typo-nya, harusnya miring tapi tidak miring, salah ketik di sana-sini, lain-lain contoh yang menggambarkan ketidakrapian.

Sampai-sampai kita juga sering menulis dengan lupa mencantumkan nama kita. Atau tidak memberi nama file dengan baik. Ngirim email juga demikian, sering tanpa subjek yang jelas. Kadang-kadang cuma attachment tanpa pengantar atau keterangan, tak ubahnya orang mengirim wa untuk kali pertama tadi tidak memperkenalkan diri seakan kita dianggap sudah menyimpan nomor semua orang. Demikianlah kelengkapan-kelengkapan banyak yang tercecer. Tradisi kerapian Mbah Nun dalam menulis sampai hari ini masih terjaga. Tidak hanya teknisnya, namun juga sisi-sisi kebahasaannya. Kita mesti belajar lebih banyak lagi dalam hal ini.

Pada waktu awal-awal ada komputer, cerita senior kita, Mbah Nun dengan cepat belajar menguasainya, dan mulai menulis dengan komputer. Bahkan kemampuan ini ingin ditularkan ke segenap warga Universitas Patangpuluhan. Tidak segan-segan Mbah Nun menulis di atas kertas panduan mengoperasikan komputer, dan dipajang di dinding supaya bisa dibaca semua warga di rumah kontrakan itu yang sesungguhnya bisa pula disebut markas atau tempat mangkal.

Tentu saja, kehidupan di situ bukan hanya berisi aktivisme para aktivis di Yogyakarta terutama denyut hidupnya di malam hari seperti kata senior kita, namun juga yang sangat banyak mewarnai adalah tamu-tamu yang datang ke rumah Patangpuluhan itu. Di rumah itu, Mbah Nun menerima beragam tamu dengan segala urusan dan keperluan yang dibawanya. Ada yang sekadar untuk beraudiensi atau wawancara, atau mungkin berdiskusi, meminta nasihat dan lain-lain. Foto yang menyertai tulisan ini adalah satu contoh Mbah Nun menerima tamu kala itu.

Jika memakai judul buku Mbah Nun Indonesia Bagian dari Desa Saya, maka ketika itu, pada rentang tahun 80-an hingga pertengahan 90-an, juga barangkali bisa dikatakan Indonesia Bagian dari Patangpuluhan. Di rumah sederhana inilah, banyak kakak-kakak, om-om, dan pakde-pakde kita belajar kepada Mbah Nun. Alhamdulillah, sekarang ada Sinau Bareng, dan dengan Sinau Bareng ini generasi kita sekarang masih berkesempatan belajar kepada Mbah Nun kendatipun dengan cara yang berbeda dengan pembelajaran di Universitas Patangpuluhan.

Yogya-Malang, 26 September 2019

Buku Cak Nun