Sengkuni2019 Hingga Tari-Tarian Tauhid di Maiyah

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, 17 Januari 2019

Meresapi dan Memetakan Frekuensi Sengkuni2019

Sementara di negeri seberang sedang ramai perhelatan yang menampilkan calon-calon presiden mereka. Kita di negeri Maiyah punya agenda sendiri. Tanggal 17 Januari, Mocopat Syafaat pertama di tahun 2019 M kali ini.

Baru saja pada tanggal 12 dan 13 Januari kemarin pentas Sengkuni2019 telah dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Getar mengalirnya pementasan masih terasa, frekuensi Sengkuni2019 masih menyentuh. Pun di dalam majelis Mocopat Syafaat di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Ketika Pak Toto Rahardjo alias Kiai Tohar telah berada di atas panggung bersama Mas Helmi, beliau berdua langsung membuka bahasan mengenai Sengkuni2019.

Pemetaan singkat dilakukan mengenai siapa saja dan berapa jumlah yang menonton pementasan Sengkuni2019. Apakah yang menonton justru banyak dari luar kota dan luar negeri? Atau, justru bukan dari kalangan Jamaah Maiyah atau justru dari orang yang belum terlalu akrab dengan narasi yang selalu dibahas di majelis-majelis Maiyah? Pemetaan ini cukup penting apabila nanti Sengkuni2019 akan lanjut dipentaskan kembali.

Hujan baru saja mereda setelah sebelumnya cukup deras dan ajeg. Sesi tanya jawab langsung digeber, bukan acara debat capres seperti di negeri seberang sana tentu saja. Tapi sesi tanya jawab ini, adalah untuk mendengar tanggapan dan peresapan dari Sengkuni2019. Rupanya tidak hanya yang sudah menonton saja yang berpartisipasi, seperti dalam salah satu line dialog dalam naskah “Siapa Sengkuni itu, koq frekuensinya kelebar-lebar hingga kemana-mana?” Atau kira-kira begitu. Intinya, ternyata bahkan orang yang hanya mendengar selintas mengenai pentas ini maupun yang hanya membaca booklet yang, juga punya peresapan-peresapan sendiri.

Di antaranya kita bisa lihat Mas Adillah Hasan yang berasal dari Magetan dan sedang studi di UAD. Mas Adillah yang juga sedang menekuni teater ini memberi komentar mengenai teknis, “Estetikanya sangat bagus”. Ditambahkan olehnya bahwa pementasan ini membuat dia tersadar bahwa semua orang punya potensi Sengkuni dalam diri. Mas Adillah juga tertarik mengenai dialog Sengkuni yang diperankan oleh Pak Jokam, yang menurutnya mengandung kritik terhadap Kresna padahal selama ini Kresna selalu didewa-dewakan dan selalu baik karena seorang pengatur siasat Pandawa. Keinginan mencari Mas Adillah juga terpacu ketika mendengar dialog Sengkuni yang membacakan kitab-kitab referensi. Walau itu juga dijawab tangkas oleh Pak Kiai Tohar “Ora usah baca ora popo aku wae ora moco koq,” tegas Kiai Tohar.

Ada lagi seorang lelaki tanggung bernama Mas Gareng, beliau tidak menonton pementasan karena katanya tidak tau informasi mengenainya sebab dengan bangga dia mengatakan bahwa hape yang dimilikinya hingga sekarang maih hape yang cuma bisa telpon dan SMS. Ternyata gerakan anti update teknologi seperti yang marak di kalangan anak muda di Amrik juga marak di sini. Mas Gareng yang mengatakan selalu berpikir dengan cara yang kebalik dari orang lain, ternyata sama kayak Mas Adil tadi juga memperhatikan narasi Sengkuni vs Kresno.

Pemaknaan dari Mas Ali Yahya asal Malang berbeda lagi. Adegan awal di mana Sengkuni muncul dengan tiga saudaranya (diperankan oleh Memet, Pak Jemek dan Pak Gareng) oleh Mas Ali dimaknai sebagai pembagian diri, akal dan nafsu yang mesti imbang. Ada pesan tasawuf yang ditangkap oleh Mas Ali Yahya. Mbak Nurul asal Klaten justru mentikberatkan pada pemaknaan Sengkuni sebagai aspirator keluarga sakinah. Penderitaan dan pengorbanan Sengkuni yang dijalani dengan risiko diantagoniskan sepanjang peradaban itu karena demi keberlangsungan garis turun keluarga menurut Mbak Nurul sangat mengharukan.

Lain lagi Mas Izzudin Aslam yang berasal dari Aceh. Dari booklet saja, Mas Aslam merasa sudah mendapatkan banyak sekali pembelajaran, menurutnya pementasan ini adalah hunjaman kritik kepada para penguasa namun juga otokritik untuk diri sendiri “Sengkuni2019 di sini total tidak membicarakan siapa tapi apa,” kata Mas Aslam menutup penyampaiannya.

Sempat ada pertanyaan yang dilontarkan pada Pak Jokam selaku pemeran Sengkuni dan Narator bagaimana bisa menghafalkan jumlah dialog sebanyak itu. Pak Jokam memberi beberapa metode yang sering dipakai orang namun untuk ini Pak Jokam menyatakan memakai teknik dzikir. Artinya menurut Pak Jokam, dibaca dan diulang-ulang hingga paham. Ya berteater ya juga adalah ritual, juga lelaku juga adalah sebentuk peribadatan. Dalam Maiyah kita menggunakan logika Tauhid di mana, nanti pada penghujung malam Mbah Nun sebutkan “semua hal membutuhkan semua hal dan segalanya saling terkait satu sama lain”.

Sengkuni2019 memang selain pementasan teater juga adalah Sinau Bareng di mana pemaknaan tidak diberi cuma dari panggung tapi juga setiap yang datang aktif memaknai.