Semua Berhak Mandiri Mencari Islam Sejati

Catatan Dialog Kebangsaan UII, 28 Februari 2019

Mbah Nun merespons pertanyaan itu dengan mempresisikan pandang. Bahwa benarkah yang dimaksud Islam memimpin dunia di masa lalu itu artinya Islam atau orang yang beridentitas mendaku Islam? Karena bila kita tidak presisi pada hal yang ini kita akan selalu terpeleset dengan pemetaan-pemetaan padat. Kita akan keburu senang tiap membaca data bahwa jumlah kaum muslim berkembang, atau justru khawatir ketika merasa ada usaha merebut hati manusia dari Islam. Islam sebagai identitas, atau personal. Islam sebagai kata kerja atau kata sifat, ini kemudian menjadi bahan yang diolah bersama pagi itu.

Kalau boleh kita tambahkan, pemetaan kita sebenarnya banyak berdasarkan ketika dinasti-dinasti pasca Rasulullah Saw mulai menerapkan pencatatan. Karena pada masa itu pencatatan dan pendataan paling mutakhir adalah sistem pendataan Romawi, maka cara pencatatan seperti itulah juga yang kemudian kita pakai. Dari situ mulai terjadi pengklasifikasian padat berdasarkan identitas. Dan sekarang kita menuai banyak sekali persoalan yang ditabung selama berabad-abad dan berlipat-lipat.

Lebih parahnya lagi kita kemudian salah mencari solusi. Apakah persoalan bangsa ini bisa diselesaikan dengan memilih presiden? Bisa kita yakin bahwa mereka yang biasa berdebat mempertahankan pilihan politiknya sendiri pun tidak yakin-yakin amat bahwa yang dia pilih bisa menyelesaikan berbagai persoalan. Tapi terlanjur mendaku pendukung, tentu gengsi kalau pilihannya disalahkan. Jadilah pertengkaran tak ada habisnya demi sesuatu yang tidak benar-benar juga mereka yakini.

Akhirnya MC tidak tahan juga untuk bertanya kenapa Mbah Nun dan Pak Haedar Nashir tetap mempertahankan posisi netral dalam kontestasi pilpres yang semakin panas belakangan ini. Pak Haedar menjawab cukup ringkas, karena tampaknya persoalan presidennya siapa bukan persoalan yang penting bagi orang-orang yang berpikir. Menurut Pak Haedar pilpres adalah hajatan politik, yang semestinya sibuk adalah partai politik bukan ormas atau paguyuban apapun.

Sementara Mbah Nun menjawab dari berbagai perspektif, “Saya tidak mau mempersempit Indonesia hanya urusan Jokowi dan Prabowo,” dan Mbah Nun menambahkan bahwa bagi Mbah Nun mereka berdua, dua golongan yang dukung-mendukung itu adalah sama-sama anak-cucu yang Mbah Nun cintai sehingga tidak mungkin tega untuk melukai salah satunya. Tentu banyak pendukung yang meyakinkan diri bahwa urusan perdukungan ini tidak sekadar sosok, tapi kita tahu itu hanya gimmick dan basa-basi belaka.

Mbah Nun mengakhiri dengan nasihat kepada anak-cucu yang ke depannya harus lebih encer, mesti sanggup meninggikan resolusi, cari terus dan berusaha menemukan Islam-nya Muhammad Saw. Bukan Islam versi dinasti-dinasti tafsir yang kita kira Islam padahal jauh dari yang sejati. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun