Selamat Jalan, Kang Daryanto

Manusia adalah agency (subjek) yang tak selalu tunduk atau menyesuaikan diri terhadap struktur yang melingkupinya. Manusia tidak melulu merupakan makhluk yang tak punya daya terhadap apa-apa yang diberlakukan kepada dirinya: mulai dari narasi, cara berpikir, cara hidup, norma sosial, kebiasaan, hingga selera-selera. Manusia adalah subjek yang punya kemerdekaan untuk menimbang dan menawar apa yang telah mapan dan atau menjadi umumnya.

Struktur (yang bersifat konstitutif) itu menjadikan masyarakat memiliki himpunan acuan yang berlaku mainstream. Kebanyakan kita menyelaraskan diri terhadap acuan-acuan tersebut dan lama-lama nyaman berada di dalamnya. Menjadi part of society. Tak salah tentunya.

Tetapi di sisi lain, ternyata masyarakat yang dapat dipahami konstruksi sosialnya sedemikian rupa itu punya celah-celah, dan dari situ nongol orang-orang yang berjarak, yang lalu bertanya-tanya, bahkan kemudian mempertanyakan, terhadap kemapanan nilai yang mengejawantah dalam pola pikir maupun laku di dalam masyarakat itu. Begitulah, ada subjek yang bangun, lantas melihat dengan mata pandang berbeda.

***

Pengajian Padhangmbulan. Nun di wilayah dalam desa Menturo Sumobito Jombang. Sudah sejak 25 tahun silam digelar. Sebuah pengajian model baru, yang sama sekali lain dari pola-pola umumnya pengajian kala itu. Yang utama tampak adalah adanya dua sosok pengampu yaitu Cak Nun dan Cak Fuad. Bersama kedua Beliau, berbagai tema baik dari pembacaan terhadap teks al-Qur’an maupun dari realitas sosial dikaji secara unik, merdeka, dan out of the box, tetapi tetap harus diupayakan untuk berdiri pada posisi jernih dan seimbang. Tak boleh miring.

Bila diselami lebih dalam, pengajian ini bukan hanya mengajak siapa saja untuk tekun menggali ilmu, melainkan selalu menerbitkan rasa atau dorongan yang sifatnya kuat serta ajeg pada para hadirin. Misalnya, dorongan untuk tekun mencari sesuatu yang baru, dorongan dari dalam untuk berhidup lebih baik, semangat memperluas diri, keteguhan untuk mencari yang benar tapi juga pener, kesungguhan untuk lebih dekat kepada Allah dan Kanjeng Nabi, dan dorongan-dorongan positif lainnya yang kerap saya rasakan dari pancaran wajah mereka.

Pancaran dorongan itu bahkan masih saya temukan belasan tahun kemudian pada salah satu jamaah yang dulu pada tahun 1990-an pernah hadir ke Padhangmbulan. Ya, dialah sahabat dan kakak kita: Kang Daryanto. Setelah beberapa waktu bekerja di Jawa Timur, Ia pulang ke Jogja, dan kemudian aktif di Majelis Ilmu Mocopat Syafaat. Aktif pula dalam lingkaran kegiatan para JM di Jogja pada tahun-tahun awal hingga pertengahan 2000-an. Di rumahnya dia juga sering menggelar lingkaran pendalaman ilmu bersama sejumlah teman.

Pada diri Kang Daryanto pancaran dorongan itu mewujud dalam sosok dan lakunya yang urip dan urup. Itulah subjek dan subjek tak lain adalah ekspresi dari kesadaran, dan dalam hal ini kesadaran yang berbeda dengan kebanyakan orang dalam melihat dan menyikapi sesuatu.

Pembawaannya yang tegas, lugas, dan kadangkala berapi-api penuh semangat dan kepercayaan diri, dalam penangkapan saya, tak lain adalah wujud hidupnya subjek, yaitu Kang Daryanto sebagai diri. Ia bukan diri yang mudah mengalir mengikuti apa dan bagaimana kelaziman-kelaziman di sekelilingnya, sejak dari soal-soal kecil hingga ihwal masalah sosial politik pada skala yang lebih makro.

Demikianlah feature itu dapat saya lihat dari bagaimana dia memahami ekonomi Barokah yang ia terapkan dalam dia membuka usaha, memperlakukan pembeli, klien, atau rekan. Termasuk cara bagaimana dia mengoperasikan warung angkringannya, juga cara dia memandang barang-barang dagangannya. Ia punya semacam ekstra kesadaran yang memperlihatkan dia punya metode yang berbeda dalam memahami bisnis.

Pada suatu ketika, di warung Angkringannya hampir tiap hari beberapa pelajar sekolah lebih banyak menghabiskan waktu di situ ketimbang masuk ke sekolah. Di situ mereka nongkrong dan ngobrol. Sampai pada titik tertentu datang guru mereka ke warung Kang Dar untuk mencari anak-anak itu dan menanyai Kang Dar. Tidak ada maksud membela anak-anak itu, tetapi Kang Dar dengan kesadaran subjeknya yang khas justru membalik pertanyaan ke guru atau juga kepala sekolah. “Mestinya para guru berpikir, mengapa anak-anak tidak kerasan di sekolah. Jangan-jangan di sekolah tidak disiapkan hal-hal yang membuat hati mereka gembira. Sehingga mereka lebih mencari di lain tempat. Di warung ini, mungkin mereka tidak mendapat apa-apa, tapi bisa saya pastikan, dia tidak melakukan hal-hal buruk apapun. Coba bayangkan, kalau dia keluyuran ke tempat-tempat yang tidak jelas…”. Kang Dar mengajak para guru itu untuk tidak melihat masalah pada anak-anak itu, tetapi kepada para guru itu sendiri.

***

Masih banyak contoh lain yang saya ingat dari percik-percik subjek Kang Dar yang melihat hal-hal yang terjadi secara beda dari umumnya. Sampai tadi malam berita kepergian Kang Dar saya dan teman-teman lain terima, yang mencuat dalam pikiran saya adalah itu. Dia contoh dari subjek yang tak selalu tunduk pada struktur yang menguasai manusia sebagai bagian dari society.

Sebelum meninggal dunia tadi malam, Kang Dar sempat dirawat di rumah sakit sekian waktu dalam kondisi tidak sadar. Tatkala Allah menjemputnya dalam keadaan tidak sadar, saya membayangkan betapa sayangnya Allah pada dia, pada dia sebagai subjek yang kadar sadarnya berada di atas kesadaran struktur masyarakat. Yang Maha Subjek seperti merengkuh si subjek kecil bernama Kang Dar untuk dibawa menyatu kembali di pelukan-Nya.

Sesungguhnya, tentang subjek di hadapan struktur itu, terkandung situasi biasanya si subjek itu melihat dan merasakan ada yang kurang beres, kurang benar, dan kurang tepat dalam perilaku sosial kolektif di masyarakat. Kang Dar dengan sikap-sikapnya seperti secuil saya kisahkan di atas telah merupakan satu di antara subjek yang mengingatkan adanya yang tak benar di sekitar kita.

Allah senantiasa menyimpan rahasia. Orang-orang baik, subjek-subjek dengan kesadarannya indah dan ekstra, kadangkala di luar dugaan kita, dipanggil lebih dulu. Demikian pula dengan Kang Dar, yang dalam lingkaran jamaah Maiyah, berarti menyusul sahabat dan kakak-kakak kita yang sudah dipanggil Allah duluan: Kang Arif Widiatmoko, Cak Mitro, Pak Ndut, Rohanan, Bang Andi Priok, Arif Bachtiar, dan Wiwit….Ya Allah persatukan sahabat-sahabat dan kakak-kakak kami ini di Surga-Mu yang indah.

Sugeng Kondur, Kang Dar!

Yogya, 4 April 2019

Buku Cak Nun