Segitiga Radikal Ar-Rahman: Ber-Islam, Ber-Indonesia, dan Ber-Maiyah

Salah satu bagian kota Yola, Adamawa State, Nigeria.
Salah satu bagian kota Yola, Adamawa State, Nigeria.

Dalam sejarah peradaban manusia, di kitab suci atau buku manapun, di naskah atau catatan apapun, tampaknya tak satu pun bisa kita temukan rangkaian kalimat dengan struktur dan pesan seradikal surat Ar-Rahman.

Alur bertutur Tuhan soal kasih sayang sebegitu eloknya. Sejak mukadimah hingga khotimah, diawali dengan kosa kata Ar-Rahman sebagai pembuka, (ingat definisi Rahman dan Rahim versi Maiyah? Kasih sayang meluas atau mangap dan kasih sayang mendalam atau mingkem!) tanpa embel-embel kata atau karakter lain. Kemudian rangkaian isinya yang menggambarkan seluruh elemen inderawi tentang keseimbangan. Dan penutup surat dengan sebuah penegasan tentang siapa pemilik sejati keagungan dan kemuliaan di ayat terakhir. Semuanya menawarkan radically imagined way of contemplation.

Yang paling istimewa dari surat ini sebenarnya adalah pengulangan kalimat Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan sampai 31 kali dari total 78 ayat. Dengan kata lain, kalau memakai istilah Suroboyoan yang pernah saya dengar dari seorang bapak yang kesal kepada anaknya karena tetap mbalelo meski berulang kali diingatkan, “opo kon gak duwe isin ta, njolak-njaluk ae!

Bagaimana tidak, jika Ar-Rahman adalah jawaban ringkas dari seluruh pertanyaan rumit soal mengapa Sang Kholiq menciptakan alam semesta dan segala isinya, maka tak satu pun makhluk memiliki ruang untuk berdusta bahwa ia bisa sejengkal dan sedetik saja lepas dari kenikmatan penciptaan itu.

Dengan tegas pula, setelah kesadaran Ar-Rahman itu, Tuhan segera menyebut Al-Quran yang Beliau sendiri mengajarkannya kepada manusia yang Beliau beri kemampuan berbicara, bukan kepada makhluk lain manapun. Untuk apa? Untuk memahami matahari dan bulan dengan peredarannya, tumbuhan dan pepohonan, sampai ditinggikannya langit, dibentangkannya bumi, serta seluruh skenario penyeimbangan alam semesta yang lain.

Dari seluruh pelajaran harmoni atau keseimbangan itu, Tuhan hanya minta satu hal. “Agar kamu jangan merusak keseimbangan!” yang Beliau jabarkan satu persatu pada ayat-ayat berikutnya. Bukan dengan rumus, formula, atau perhitungan yang hanya kaum terpelajar yang bisa memahaminya. Bukan pula dengan metafor ancaman, atau simulasi-simulasi simbolis yang njlimet. Tetapi dengan sindiran itu tadi, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan!”, yang diulang-ulang sedemikaian rupa. Yang karenanya, kita harus “curiga”, bahwa ada sesuatu yang tidak main-main di dalamnya.

Dari sini, agar saya tidak dituduh sembrono dan sok ahli tafsir, saya ajak sedulur semua menambah khazanah sinau bareng dari benua Afrika. Untuk apa? Sekadar memaknai salah satu pesan Mbah Nun yang selalu beliau lontarkan setiap kali Maiyahan, yaitu tadabbur yang spektrum nilai dan potensi penemuan kesadaran barunya sebegitu luasnya.

Refleksi dari Negeri Ni Gir (Singai Gir) Nigeria

Ini adalah negara Afrika kedua yang tim riset security lintas negara kunjungi untuk belajar bersama soal isu keamanan. Setelah beberapa bulan sebelumnya singgah di Yogyakarta, termasuk sowan ke Kadipiro, dan Nairobi, Kenya, Nigeria menjadi destinasi selanjutnya karena negara ini memiliki jauh lebih banyak kemiripan dengan Indonesia, dibandingkan Kenya tentunya.

Indonesia dan Nigeria sama-sama memiliki jumlah penduduk terbanyak dengan kelompok etnis dan agama yang sangat beragaman (Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa lokal, Nigeria lebih dari 500). Mayoritas penduduknya sama-sama beragama Islam (Indonesia 260 juta dengan 85% Muslim, Nigeria 200 juta dengan 50% Muslim), memiliki karakter agraris dan tradisi kolektif (ngumpul-ngumpul) yang menonjol. Keduanya mengalami periode rezim pemerintahan diktator militer yang panjang (Orde Baru Indonesia 32 tahun dan Junta militer Nigeria 28 tahun). Keduanya memulai periode Reformasi yang hampir bersamaan (Indonesia 1998, Nigeria 1999) dengan demokrasi baru yang multi-partai. Keduanya juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa dengan sama-sama menjadi negara OPEC (meski Indonesia kini terkena suspen). Keduanya beriklim tropis. Bahkan jumlah provinsinya juga tidak jauh berbeda (Indonesia 34 provinsi, Nigeria 36 negara bagian).

Namun demikian, perbedaanya juga banyak sekali. Indonesia negara kepulauan, Nigeria negara satu daratan. Indonesia negara kesatuan, Nigeria negara federal. Indonesia bekas jajahan Belanda (merdeka tahun 1945), Nigeria bekas jajahan Inggris (merdeka tahun 1960). Indonesia memiliki bahasa nasional sendiri, falsafah pemersatu Bhineka Tunggal Ika dan Ideologi Pancasila, sementara Nigeria menggunakan Bahasa Inggris sebagai pemersatu dan bahasa resmi namun tidak memiliki simbol pemersatu kebangsaan yang kuat. Indonesia berkarakter feminin (Ibu pertiwi, ibu kota), Nigeria sangat maskulin (fatherland, capital city). Indonesia baru merencakan pemindahan ibu kota, Nigeria sudah memindahkan ibu kota dari Lagos di wilayah pantai ke Abuja di titik tengah wilayah negara sejak tahun 1991.

Itu baru segelintir persamaan dan perbedaan yang bisa kita cerna dengan parameter ekonomi, fisik, dan jasmaniah. Yang lebih menarik, mari kita lihat dalam dua bingkai keberislaman dan kemasyarakatan. Namun sebelum itu, satu karakter kuat dari masyarakat Nigeria yang perlu digarisbawahi karena mereka merasa berbeda dengan masyarakat bangsa Afrika yang lain adalah optimisme. Berdasarkan survei tahun 2010 yang dilakukan oleh Galup, penduduk Nigeria bahkan dikenal sebagai masyarakat paling optimis di dunia. “Untuk apa khawatir esok hari, pasti akan lebih baik”, itu kata mereka.   

Lalu, apakah karakter itu masih menonjol setelah dua dekade terakhir Nigeria menjalani proses demokratisasi sejak tahun 1999? Yang jelas, Boko Haram, kelompok Islam radikal yang berdiri tahun 2002 dan telah menguasai Borno, salah satu negara bagian di timur laut Nigeria, kadernya menyebar di seluruh Nigeria, bahkan merambah ke wilayah negara Niger, Kamerun, dan Chad, telah mengakibatkan negara ini gagal berdemokrasi. Setidaknya, sudah 100 ribu orang meninggal karena Boko Haram, 2,3 juta mengungsi dan kehilangan tempat tinggal karena dibakar masal atau dibom.

Yang dibom juga tidak hanya gereja atau gedung fasilitas pemerintah, mall, kantor polisi atau kantor kedutaan negara asing, tetapi juga kelompok, masjid dan fasilitas publik yang lain yang tidak mendukung mereka. Ini membuat mereka dijuluki the world’s deadliest terror group dalam Global Terrorism Index. Dengan populasi yang hampir sama besarnya, kita bisa bandingkan dengan kasus terorisme dan radikalisme agama di Indonesia. Menurut BNPT kasus terorisme dan radikalisme agama di Indonesia merenggut 1000-an nyawa korban dan 1000-an nyawa pelaku di periode yang sama.

Boko Haram yang nama aslinya adalah Jamā’at Ahl as-Sunnah lid-Da’wah wa’l-Jihād (JASDJ), sebuah kelompok radikal yang dirintis oleh tokoh kharimatik Muhammed Yusuf dan dilanjutkan oleh Abubakar Shekau, mulanya hanya mengusung ide menentang pendidikan ala Barat (Boko Haram=pendidikan Barat haram). Dan nama ini pun julukan dari masyarakat dan pemerintah setempat, bukan dari mereka sendiri. Namun, setelah berafiliasi dengan ISIS membentuk ISWAP (Islamic State’s West Africa Province), kemudian mengalami pecah faksi, ISIS versi Nigeria ini bahkan dianggap masih lebih moderat dibandingkan JASDJ yang dikenal paling sadis.

Insurgency, istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi Nigeria pasca reformasi, semakin parah dan kompleks manakala pemerintah setempat yang kewalahan membendung Boko Haram kemudian membentuk kelompok-kelompok milisi bersenjata untuk membantu tentara mengamankan warga lokal dari serangan teroris. Karena pada periode berikutnya, kelompok-kelompok sejenis menjamur, berafiliasi dengan kepentingan politik dan ekonomi para elit, bercampur baur dengan kelompok hunters (semacam gang lokal), dan kelompok kriminal perampok hewan ternak. Ini diperparah dengan praktik KKN yang merajalela di pemerintahan, lembaga sipil, bahkan institusi keagamaan sejalan dengan menguatnya otoritas negara bagian atas pemerintah federal (pusat).

Sebagai catatan, tradisi pastoralis atau menggembala sapi yang berjumlah ribuan ekor di desa-desa di padang sabana masih berlaku hingga kini. Dan kelompok masyarakat ini paling menderita karena tidak hanya ternak mereka yang dirampok, desa mereka dibakar, perempuan diculik, dan anak-anak dipaksa menjadi anggota milisi, tetapi juga rusaknya tulang punggung ekonomi masyarakat dan keseimbangan lingkungan yang sudah ratusan tahun terbangun.

Salah satu dampak insurgensi ini, yang paling mencolok adalah lunturnya trust atau tingkat kepercayaan dan rasa aman di tengah-tengah masyarakat. Pelarangan penggunaan sepeda motor di beberapa negara bagian, terutama di wilayah perkotaan, adalah salah satu contoh konkritnya. Bukan karena macet atau polusi, tetapi karena seringnya pelaku pengeboman, penculikan, atau penembakan di jalan dilakukan dengan menggunakan sepeda motor.

Yola Central Mosque
Yola Central Mosque

Bahkan, ketika saya berkesempatan ikut sholat Jumat di salah satu masjid terbesar di kawasan kampus di kota Yola, satu-persatu jamaah harus melewati security screening layaknya masuk ke kedutaan Amerika di Jakarta. Di setiap sudut-sudut masjid dijaga anggota militer bersenjata. Isi khotbahnyapun sangat basic, seputar sunnah makan menggunakan tiga jari dan menjilat sisa makanan yang menempel. Hal ini karena ada semacam surveillance dari pemerintah pada materi khotbah. Dan ini didapati di tengah-tengah komunitas para intelektual. Tidak hanya itu, rumah-rumah orang berduit, termasuk para profesor dipagar tinggi dan dipasang kawat berduri beraliran listrik karena mereka adalah target empuk penculikan.

Yang lebih unik, tempat wudlu terletak cukup jauh dari masjid. Saya pikir hanya karena alasan keamanan agar teroris yang kebelet pipis sebelum ngebom masjid bisa dilokalisasi. Ternyata, ada alasan bau pesing yang ditakutkan masuk ke dalam masjid. Faktanya cukup logis, karena memang supply air bersih dan listrik dari pemerintah sering sekali byar-pet.

Juga ada pemandangan dan perasaan lain menjadi Muslim Indonesia di Nigeria. Semua orang nampak muslim dan “sholeh”. Ini kalau hanya kita lihat dari cara mereka berpakaian. Mayoritas penduduk memakai yang orang Indonesia sebut sebagai baju koko, plus peci khasnya. Ternyata ini bukan baju muslim atau baju takwa atau baju koko yang umum dikenal di Indonesia. Ini baju tradisi. Semua orang memakainya, termasuk mereka yang non-Muslim.

Warna-warninya juga sangat mencolok, bahkan sangat sering tidak matching dengan cuaca panasnya, antara atasan dan bawahannya, atau dengan suasana acara ketika memakai baju tersebut. Satu-satunya jawaban jujur yang mereka lontarkan, dengan baju warna-warni mencolok itulah mereka terlihat berwarna, karena warna kulit mereka sudah gelap seragam. Dan, jarang sekali ada orang merokok. Selain mahal, hukum pelarangan merokok sangat keras, iklan rokok tak nampak di televisi, banner, atau media lain. Mungkin karena dua hal ini mereka merindukan sesuatu yang lebih colorful dan enjoyful tanpa ancaman.

Tiga Serangkai Anugerah

Jadi, jika akhir-akhir ini kita ribut soal cadar dan celana cingkrang karena tuduhan penanda kelompok radikal, barangkali pihak-pihak yang mengajak ribut, mudah diajak ribut, dan sengaja membuat keributan dengan isu tersebut sesekali perlu piknik ke Afrika atau belahan bumi lain. Atau kalau tidak memungkinkan, membaca berita tentang bagaimana mereka ber-Islam. Meskipun hanya nyempil sedikit waktu dari berjam-jam bermedia sosial dan share-share macem-macem.

Memang, teroris ada di Indonesia, radikalis mungkin banyak, ekstremis apa lagi. Tapi, tidakkah kita renungkan bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika itu anugerah luar biasa dari Ar-Rahman Tuhan? Belum lagi, Maiyah yang tidak hanya menjadi ruang aktualisasi ke-Islaman melainkan juga ke-Indonesiaan dalam satu nafas kegembiraan. Hendaknya kita memaknai sekaligus menjelmakan radikalitas pada proporsinya. Tidakkah tiga serangkai, Islam, Indonesia dan Maiyah itu sangat radikal, maka atas ketiga anugerah itu, nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Yola, Nigeria, November 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana