Sedih, Cukup Sampai Jam 10 Malam

Kita bersyukur bahwa melalui berkebersamaan di dalam persaudaraan Maiyah, kita jadi mendapatkan berkah berupa punya banyak teman, sahabat, dan saudara. Saudara-saudara yang kita dapatkan itu tentu saja beragam latar belakangnya, dari asal-usul, setting sosial ekonomi hingga ragam budaya yang dimilikinya. Semua perkenalan dan persambungan itu kita syukuri sebagai anugerah dari-Nya yang tak terkira nilainya.

Sesekali coba kita lebih dekati keragaman itu, dari sisi ekonomi misalnya. Ada sahabat kita yang cukup mapan penghidupan ekonominya, tapi ada juga yang masih berjuang untuk mencapai pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Namun kondisi yang berbeda ini, sejauh yang mampu kita rasakan, tetaplah mereka sikapi dengan baik dan bijak. Yang lodang ekonominya terpanggil untuk mengungkapkan rasa bersyukurnya dengan ringan berbagi atau menolong, sedangkan yang masih kesulitan tidak gampang umbar mengeluh, tetapi berusaha semampu mungkin menyibak kesempatan-kesempatan terbukanya pintu-pintu rezeki.

Tetapi itu baru satu bentuk soal, yang sebenarnya bisa kita katakan wajar karena ya memang demikianlah kehidupan. Ada senantiasa persoalan yang mesti direspons. Bahkan, bisa dikatakan pula, jika diselami lebih dalam, pada setiap orang barangkali ada soal dan tantangan yang dihadapi masing-masing. Hanya, ada yang mungkin kita tahu, ada yang tidak kita ketahui. Belum lagi bila kita baca berdasarkan skalanya. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang sehari-hari, ada yang lebih tinggi lagi levelnya, dari soal cara berpikir hingga masalah spiritual. Dan lain seterusnya.

Orang seperti Mbah Nun tentu saja sangat nglothok dan mengenal detail lekuk-lekuk persoalan yang dihadapi orang-orang yang kepada Mbah Nun mereka menyodorkan keluh kesahnya, harapannya buat mendapat saran untuk bertemu jalan keluar, atau sekadar agar lega tenang dan ayem hati mereka setelah bercerita kepada Mbah Nun. Betapa dibutuhkan kejembaran dalam diri Mbah Nun untuk mendengarkan narasi-narasi beban persoalan itu.

Satu contoh, satu di antara saudara kita pernah menghadap kepada Mbah Nun, menuturkan masalah yang sedang dihadapinya. Tidak hanya satu, tapi beberapa soal pada saat bersamaan Ia alami. Ia memohon doa dan bimbingan dari Mbah Nun agar jalan keluar bisa segera Ia temukan. Ia tipikal orang yang tidak meledak-ledak meski di wajahnya terpancar ekspresi beban hidup yang tak ringan. Salut bahwa, Ia tetap tangguh dalam menjalani hidupnya. Satu di antara soalnya itu adalah Ia terbelit utang, beberapa juta, sementara pekerjaan pun seadanya dengan penghasilan yang jauh dari mencukupi.

Tentu Ia tidak sendirian dalam soal utang. Masih ada yang lain, yang mungkin tak kita tahu. Iya nggak sih? Semoga sih tidak banyak. Tapi ini utang maksudnya benar-benar utang karena terdesak oleh kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, bukan utang dalam arti utang kredit beli rumah atau utang modal untuk menjalankan bisnis perusahaan.

Tentang masalah hidup yang satu ini, saya masih teringat bahwa Mbah Nun pernah mengatakan satu dua saran tentang hal utang ini, dan ternyata ini pernah disampaikan juga dalam sebuah wawancara dengan majalah Alkisah No. 8/27 Okt – 9 Nop 2003. Sehingga, alhamdulillah, pembaca yang lebih luas pernah membaca dan bisa mendapat alternatif wawasan dari Mbah Nun. Majalah Alkisah ini salah satu majalah di Indonesia yang memfokuskan diri sebagai Bacaan Keluarga Islam. Nah, wawancara dengan Mbah Nun itu lumayan panjang, padat, dan beragam kontennya. Saat bicara mengenai hidup senang atau bahagia itu seperti apa, sang wartawan bertanya lebih dalam, “Jadi, sebagai khalifah kita tidak boleh kalah dengan kesedihan itu?”

Dalam satu titik tekan untuk menjawab pertanyaan ini, Mbah Nun mengatakan, “Makanya kalau Anda harus bersedih, boleh saja, tetapi lima menit saja. Kalau punya utang banyak, sedihnya sampai jam 10 saja, jangan sampai dibawa-bawa sampai jam 12 malam. Sebab tidak ada yang bisa dikerjakan di malam itu untuk membereskan utang Anda. Jadi, Anda harus bereskan pikiran Anda dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi, dari urusan utang, wong pasti tidak bisa apa-apa di jam-jam itu.”

Saya kira tidak terlalu sulit buat kita pahami bahwa memang di titik ini kita sering kecolongan. Yakni, manajemen pikiran. Kalau sedih kerap tanpa kita sadari kita turuti rasa itu berlama-lama tanpa kita batasi waktunya. Demikian pula dengan perasaan-perasaan lain yang menghampiri hati kita. Sejatinya, perlu diberi batas waktu. Tentang sedih tadi itu, Mbah Nun dengan kata lain mengatakan sedih itu boleh dan bisa dimengerti tapi batasilah waktunya, dan waktu selebihnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Lagi pula benar juga ya kata Mbah Nun, lebih dari jam 10 malam, rumah tetangga sudah tutup, rumah saudara juga, kantor-kantor maupun bank-bank apalagi sudah tutup sejak sore. Malam-malam jam segitu, sebagian orang sudah pada bobok, dan memang kurang enak malam-malam membahas utang. Lalu, kalau begitu, antara jam 10 malam hingga pagi, waktu yang ada dimanfaatkan buat apa? Nah monggo kita renungkan bersama. Yang pasti, seperti kata Mbah Nun, hati dikosongkan dari urusan utang.

Dan, saudara kita yang saya ceritakan itu saya yakin mampu me-manage alokasi waktu dirinya dengan baik. Setiap esok pagi kembali bekerja dan mikir utang, tetapi dengan pikiran yang lebih fresh, yang lebih mendekatkan ke min haitsu la yahtasib-Nya Allah. Sebab negara dan lembaga-lembaga yang berkaitan belum cukup punya program untuk mengetahui dan menemui keberadaan dia. Hanya Allah yang Maha standby.