Sayembara Cinta di Lapangan Mapolres Malang

Liputan Sinau Bareng CNKK di Mapolres Malang, 29 Juli 2019

Sekitar pukul 20.00 WIB, jalan menuju area parkiran sudah dipenuhi dengan pemandangan sepeda motor yang merayap. Muacet. Semua antre untuk memarkirkan kendaraannya. Jangan dibayangkan antrean kemacetan ini seperti di luar sana. Biasanya, kalau terjadi macet berapa menit saja, sudah terdengar suara klakson yang saling beradu. Akan tetapi, tidak dengan di sini. Semua tampak saling sabar dalam penantian antrean. Tak ada hawa ‘panas’ luapan emosi atas saling ketidaksabaran.

Dibandingkan pemandangan dua tahun lalu, 6 Mei 2017, jamaah yang Sinau Bareng di lapangan Mapolres Malang malam ini, 29 Juli 2019 jelas lebih membludak. Lapangan penuh. Bahkan sampai ada yang berdiri di pojok belakang dan luar lapangan. (Hilwin Nisa)

Sudah bukan hal yang aneh, kalau ibu-ibu mengajak putra-putrinya di Maiyahan. Balita, anak-anak, semua tak menjadi penghalang niat kuat untuk Sinau Bareng menata hati menjernihkan pikiran. Bahkan, mengajak putri yang diistimewakan dengan kursi roda pun sama sekali tak menggoyahkan niat ibu berjilbab coklat itu untuk ndherek Sinau Bareng. Dan nyatanya, ini tidak dipermasalahkan di tengah-tengah jamaah yang duduk saling berhimpitan.

Kemesraan selalu menjadi bagian dari Sinau Bareng. Termasuk malam ini, Mbah Nun memberikan sayembara untuk jamaah. Bukan menyoal seberapa besar hadiah yang diberikan dari sayembara ini. Akan tetapi, yang lebih penting adalah tentang seberapa luas kasih sayang Mbah Nun yang diguyurkan untuk kita semua. “Uduk masalah hadiah e, sing penting kasih sayang e.” Kurang lebih, seperti itulah yang disampaikan Mbah Nun sembari menunggu jamaah yang maju untuk menjawab pertanyaan sayembara yang telah diberikan. Sayembara cinta.

Selain kasih sayang, rupanya juga ada ujian keimanan yang terselip dalam sayembara itu. Pemuda dari Gondanglegi yang telah mampu melantunkan kelanjutan potongan surat Al-Hujurat ayat 13 itu menerima hadiah lebih dari Mbah Nun. Yang awalnya dijanjikan uang lima puluh ribu, setelah menjawab dengan benar, atas dasar kasih sayang, Mbah Nun menambahkan nominal hadiah menjadi seratus ribu.

Tanpa dinyana, ternyata lembaran uang yang diberikan Mbah Nun pun berlebih. Pemuda itu menerima dua lembar seratus ribu. Dan dengan indah, pemuda itu telah menunjukkan lulusnya ujian keimanannya kali itu. Dikembalikannya sisa lembar uang yang bukan menjadi haknya. Meskipun toh sebenarnya juga tidak akan ada manusia yang tahu, jikalau pemuda tadi menerima kelebihan satu lembar uang seratus ribu.

Barangkali, ini adalah bagian dari hikmah kejujuran. Mberkahi tumraping liyan. Karena telanjur dikeluarkan, sisa kelebihan uang itu akhirnya dijadikan hadiah sayembara lagi. Artinya, ada lagi yang mendapatkan kesempatan mendapatkan hadiah cinta dari Mbah Nun. Untung mas yang tadi jujur, coba kalau tidak. Memang kenapa kalau tidak? Dipastikan tidak ada penerima hadiah sayembara yang kedua? Ya belum tentu juga, sih. Hanya saja, ketidakjujuran di sini tidak menutup kemungkinan dapat menjadi penyebab terhalangnya jalan kebaikan yang lainnya.

Buku Cak Nun