SAR DIY Kangen Cak Nun: Sarasehan Restorasi Sosial

Gedung Balai Desa Wirokerten, Banguntapan, Bantul pada Jumat malam 26 Juli 2019 ini dipadati oleh para laskar berseragam orange. Sikap-sikap tubuh mereka tegas, tapi juga terkesan santai. Jauh dari nuansa militeristik, karena mereka memang bukan pasukan paramiliter, bukan sipil yang berlagak militeris. Persatuan dan kekompakan mereka tampaknya berlandaskan komunalitas, bukan kekompakan dari militansi pada barisan dan massa dogmatis. Tidak hanya lelaki, beberapa wanita muda dan ibu-ibu juga tampak, serta membawa putra-putri mereka. Kita bisa dengan segera mengenali mana bedanya komunal dengan militansi massa kalau kita berada di tengah mereka. Apapun itu, yang nampak adalah kebahagiaan semata.

Seseorang di panggung menggelorakan “SAR DIY!” seisi gedung menyahut “SIAGA!”. Lelaki itu melanjutkan seruan “YOGYAKARTA!” dan para hadirin kembali menyahut kompak “ISTIMEWA!”.

Pria seram itu, Ndan BS, melanjutkan “KANGEN CAK NUN!”. Dan seisi gedung tumpah pecah dengan seruan berbarengan “BANGETTT”.

Tentu untuk bisa menjadi satu koor seperti ini, ada penataan-penataan sebelumnya yang dilakukan oleh Ndan BS panggilan akrab Mas Brotoseno sang komandan SAR DIY pada anggotanya. Tapi pada mereka memang yang paling menonjol adalah pergaulan yang egaliter. Jumlah yang banyak bisa dipahami karena SAR sangat membutuhkan banyak tenaga saat merespons berbagai bencana. Jadi bukan besar jumlah karena massa ala ormas atau suporter belaka. Mungkin di antara mereka juga ada yang tergabung dalam ormas tertentu, mungkin juga ada yang jadi suporter tim sepakbola. Entah.

Pada kehidupan yang wajar, pemetaan tidak sepadat peta kaum akademis. Pada kesempatan ini Ndan BS menyampaikan bahwa SAR DIY sedang aktif pada gerakan restorasi sosial, dinamakan Gerbang Praja. Berasal dari keprihatinan bahwa makin terkikisnya budaya dan kearifan lokal, ini menurut Ndan BS juga adalah bencana. Maka SAR DIY kembali beraksi menanggapi dan menolong “korban” dari bencana sosial ini. Salah satu jalannya adalah dengan menggalakkan kembali bahasa dan aksara Jawa di wilayah DIY.

Sebelumnya, acara dimulakan dengan sajian makan malam bersama. Sementara panggung diramaikan oleh sebuah band yang bagi penduduk dan mahasiswa Yogya era 2000-an awal tentu sangat akrab. Genk Cobra, band lama yang dulu salah satu lagunya bisa dibilang sangat iconic dan melegenda. Nomer berjudul “Ngayokgyokarto” itu juga sempat dilantunkan. Ini sudah bisa kita katakan lagu kebangsaan kawula muda Yogyakarta pada masanya.

Sang vokalis tampak lebih berbahagia ketika Mbah Nun rawuh di gedung. Dan Mas vokalis dengan ta’dhim menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada Mbah Nun karena menurutnya konsep band Genk Cobra dulu pada awal terbentuk adalah bentuk amanah dari Mbah Nun dan disampaikannya bahwa  sejak awal terbentuknya Genk Cobra, Mbah Nun sangat terlibat . “Alhamdulillah Cak, kami masih istiqomah dengan amanah tersebut. Panjenengan pesan pada kami untuk terus berkarya dan melestarikan dengan bahasa Jawa. Sejak tahun 2000 sampai sekarang, kami masih ingat pesan panjenengan”. Dan turun dari panggung Mas vokalis langsung menyalami Mbah Nun dengan rindu.

Saat Mbah Nun telah dipersilahkan ke panggung, Mbah Nun bersama Pak Ian L. Betts, juga tampak hadir wakil bupati Bantul. Mbah Nun sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh SAR DIY malam hari ini. SAR DIY dianggap bukan saja ikhlas berkorban untuk merespons bencana alam tapi juga bencana sosial. Memang pada malam hari ini, SAR DIY mengangkat tema Restorasi Sosial. Mbah Nun juga sempat memantik tema mengenai Restorasi dengan membabarkan perbedaan revolusi, reformasi, rekonstruksi dan restorasi.

Ada kesamaan antara Genk Cobra dan SAR DIY dalam memandang posisi Mbah Nun. Mereka memandang Mbah Nun sebagai sesepuh yang dinanti wejangan serta nasihatnya. Namun Mbah Nun lebih memilih agar acara berlangsung dengan ada sesi dialog agar tidak terjebak pada tradisi “mulang“. Tradisi mulang, dasar pikirnya adalah karena ada satu sosok yang merasa atau dirasa pantas mengajar yang lain, yang awam. Sedangkan dalam majelis Maiyah kita membangun tradisi Sinau Bareng, di mana yang dikedepankan adalah dialog bersama. Mencari masalah bersama dan merumuskan langkah juga bersama-sama. Mbah Nun misalnya memantik, “Restorasi adalah menemukan kembali, menegakkan kembali apa yang hilang. Ini panjang, karena kita harus tahu apa yang hilang.” Maka memang perlu bersama-sama.

Dalam pembahasannya, Mbah Nun menekankan bahwa Jawa dan Nusantara tidak semestinya minder pada kebudayaan lain karena sesungguhnya peradaban Nusantara juga bukan peradaban yang berada di bawah dari budaya lain. Mungkin, salah satu yang perlu direstorasi adalah kepercayaan diri kita dalam menghadapi dunia. Dan tampaknya, itu yang tengah direstorasi oleh Mbah Nun. Tentu perlu presisi. Ini bukan sekadar narsis budaya semata dan apalagi, bukan melulu romantisme masa lalu. Mbah Nun tegaskan bahwa Nusantara dan Jawa harus berdaya karena sesungguhnya dunia sedang sangat membutuhkannnya. “Yang anda sebut tradisi lokal itu bukan masa lalu. Dia adalah masa depan. Itu yang akan dilakukan oleh dunia di masa mendatang,” ungkap Mbah Nun.

Agar lebih presisi, Mbah Nun memberi kesempatan pada Pak Ian L. Betts untuk memberi gambaran bagaimana posisi Jawa dan Nusantara di dalam persoalan dunia dan permasalahan global saat ini. Pak Ian membenarkan ucapan Mbah Nun. Pak Ian yang sekarang ini menetap di Thailand juga merasakan hal yang sama. “Ketika saya keluar dari pesawat setelah mendarat di Yogyakarta, saya ada rasa nafas lega,” ungkapnya. Adapun di Thailand, Pak Ian juga menegaskan juga mirip dengan di Indonesia dalam hal kekayaan budaya, keramah-tamahan serta tradisi-tradisi yang merupakan peresapan tradisi Hindustan. Bahkan Ayuthaya dan Yogya menurut Pak Ian adalah berasal dari kata Ayodhya dengan dialek lokal masing-masing.

Sesekali Mbah Nun dan Pak Ian saling melengkapi bahasan. Mbah Nun sampaikan bahwa yang namanya negara (modern) inj baru ada 1945. Sedangkan Nusantara telah mengenal tata kelola yang juga tidak kalah dari tata kelola bernama republik. Tapi sejak ketika Sumpah Pemuda, pergerakan kita memang didominasi oleh kaum intelektual yang telah bercita rasa Eropa sehingga imajinasi pasca-kolonial terkungkung pada imajinasi negara modern. Ini menurut Mbah Nun adalah awal apa yang disebut “wong jowo gari separo“. Bukan artinya orang Jawa habis, tapi orang Jawa tidak berkarakter, bercitarasa dan bercita-cita lagi sebagai Jawa. “Kamu orang Jawa. Jadilah orang Jawa 100 persen. Indonesia adalah mitramu,” ungkap Mbah Nun. Dan posisi Jawa serta Indonesia dipresisikan bahwa kita sejajar dengan Indonesia, tidak perlu membencinya.

“Menolong Indonesia, bukan minta tolong pada Indonesia,” pungkas Mbah Nun.

Pak Ian melanjutkan bercerita bahwa beliau sempat menemani Mbah Nun ke beberapa negara seperti Inggris, Belanda, Finlandia, Jerman dan lainnnya karena saat itu beberapa negara tersebut membutuhkan bantuan untuk menangani konflik sosial yang meruncing. Mbah Nun menambahkan bahwa apa yang beliau lakukan saat itu sekadar menerapkan apa yang bagi wong Jowo merupakan keseharian dan kewajaran yakni gotong-royong dan tepo sliro. Memang dunia sedang menbutuhkan hal-hal semacam ini. Menjadi diri sendiri sebagai bangsa yang otentik, adalah bentuk nyata keterlibatan kita dalam turut menuntaskan persoalan bersama di atas dunia. Karena kita semua adalah pribumi di atas satu bumi yang sama.

Sesi dialog dibuka dan beberapa peertanyaan maupun yang bukan pertanyaan dari para hadiri mengalir dengan mesra. Ada seorang yang akrab disapa Pokbek menyatakan bahwa apa yang disampaikan Mbah Nun tampaknya menemukan bukti nyata dari cerita kawannya yang bersekolah di Turki. Ada seorang mahasiswa yang menanyakan bagaimana kiat agar kita bisa mengembalikan tradisi gotong royong pada negara ini. Mbah Nun mempresisikan kembali bahwa kita jangan berpikir dengan skala yang terlalu besar. “Anda tidak wajib memperbaiki negara. Tapi annda bisa mulai melakukan itu dari diri anda sendiri. Keluarga dan syukur-syukur beberapa orang terdekat anda,” jawab Mbah Nun. Kita juga perlu memang menakar diri kita sendiri.

Namun sebuah “ayat yang tidak diifirmankan” juga muncul malam hari ini melalui seorang bernama Prianto. Pak Prianto ini ternyata sekitar 25 tahun yang lalu adalah seorang karyawan toko di jalan Solo yang menjadi korban pemecatan sepihak. Pak Prianto berkata bahwa malam hari ini beliau tidak berniat bertanya, hanya ingin menyampaikan rasa rindu dan terima kasih. Karena Mbah Nun bersama teater Salahuddin kala itu, aktif melakukan pembelaan terhadap orang-orang seperti dirinya.

Itu adalah era “Lautan Jilbab”. Saat itu di negeri ini, jilbab belum sepopuler sekarang. Sementara pergerakan Islam pada situasi global, bangkit akibat euforia Revolusi Iran. Penggunaan jilbab kala itu mendapat represi baik secara politik maupun sosial. Banyak kasus pengguna jilbab yang dikeluarkan dari sekolah, dipecat sepihak dari tempat kerja dan sebagainya. Pandangan kala itu, penggunaan jilbab bermakna ideologis dan ideologi yang dimaksud adalah Islam. Sehingga lahir kebijakan-kebijakan perusahaan di mana tidak ada izin untuk jam shalat dan sejenisnya. Tampaknya Pak Prianto adalah salah satu korban dari kondisi global hingga nasional kala itu. Dan Pak Prianto merasa mendapat tempat, terselamatkan oleh pergeseran wacana keislaman yang dilakukan oleh Mbah Nun dan Teater Salahuddin.

“Harap diingat yang saya bela bukan jilbabnya. Saya membela hak orang untuk memilih yang nyaman bagi dirinya,” tegas Mbah Nun. Ini adalah restorasi, membangkitkan dan mengakkan kembali yang dulu pernah ada dan mungkin hilang. Dan itu urusannya rindu. Dan rindu adalah produk dari cinta. Malam ini penuh rindu dan cinta. (MZ Fadil)

Buku Cak Nun