Samudera Spontanitas Ilmu Pak Nuriadi

Sinau Bareng “Urip Iku Urup”, Ngluwar, Magelang, 24 Januari 2019

Saya rasa saya mesti kembali menuliskan dengan angle first person, karena kejadian tidak terduga malam hari ini agak sedikit di luar jangkauan pandang saya. Spontan dan kejutan, ada hal-hal semacam ini yang membuat Sinau Bareng tidak pernah membosankan. KiaiKanjeng di lapangan Danurojo pada Sinau Bareng kali ini tengah melantunkan CC (Cross Composition) Era, nomor-nomor penggalan dari berbagai zaman dilantunkan, dari lagu “Maju Tak Gentar” di tahun 45, “Hitam Manis”, sampai ke era “Putri”-nya Jamrud di 90-an. Ketika masuk era 2000-an lagu “Ruang Rindu” dari Letto, tepat itulah dari arah kiri panggung seorang bapak berseragam militer dengan topi satpam(?), nyangking helm di pahanya (entah dicangking seperti apa) masuk panggung dan berjogetan riang.

Mungkin pengamatan saya agak terhalang, tapi kalau tidak salah lihat si bapak periang yang berjoget tanpa beban ini seperti meresapi nada. Ketika lirik “di daun yang ikut mengalir lembut…” gerakan dance-nya penuh lambaian, meliuk. Dan tentu memang sesuai agenda nomer CC Era, setelah lagu Letto itu dilanjutkan dengan lagu “Sayang” yang nadanya diambil dari Mirae. Dan lepas sudah si bapak berseragam itu, berjogetan, melompat riang, berputar-putar. Tapi coba amati lebih teliti, kuda-kuda tarinya tegas, dia tidak pernah kehilangan keseimbangan. Ini orang tidak waraskah? Andai begitu kita serampangan ambil kesimpulan, tapi bapak ini sepertinya orang yang berbahagia saja dan bahagia betul-betul. Jangan lupa, beberapa menit beliau berjogetan, tiba-tiba beliau tampak membalikkan badan menghadap ke Mbah Nun, dan tampaknya menyalami dan mencium tangan Mbah Nun dan Pak Kapolres. Secara pengamatan saya yang kuliah psikologi juga tidak selesai ini, bapak itu masih punya kesadaran ruang dan waktu, tidak mengalami halusinasi, syarafnya sehat bahkan kemungkinan lebih sehat dari kebanyakan kita yang kurang gerak. Hanya logika etisnya entah bagaimana berbeda dari kebanyakan yang berlaku di sosial, bisa jadi tingkat kecerdasan yang di bawah rata-rata kalau memakai sudut pandang psikologi atau bisa kemungkinan lain. Apapun itu, banyak sekali kasus di mana orang seperti ini langsung dicap gila. Tapi tidak di Sinau Bareng.

Saya ingat pada awal datang tadi memang lihat bapak ini. Beliau datang ke lokasi Sinau Bareng, berseragam seperti itu dan dengan formal memberi hormat pada para anggota Banser yang sedang berjaga di tempat neduh karena malam ini memang hujan cukup teaterikal intensitasnya, kadang gerimis kadang menderas. Ketika acara baru bermula, Mbah Nun meminta KiaiKanjeng melantunkan Khotmil Qur`an dan tampaknya bapak ini juga berjogetan di belakang, hujan-hujanan dengan mengenakan mantel plastik. Kalau yang ini saya dapat diperlihatkan rekaman hapenya Mas Aam ketika tidak sengaja bertemu.

Namun ketika di panggung, beberapa personel keamanan naik. Mungkin karena tingkah si bapak ini dianggap mengganggu. Mbah Nun dengan sigap mencegah. Kita tentu mengapresiasi juga kesiapan tim keamanan dari kepolisian, karena memang tugas mereka perlu peka dengan hal seperti ini. Dan pada majelis lain, distorsi semacam ini lumrah dianggap gangguan. Tapi tidak di Sinau Bareng.

Di sini kita mengambil hikmah dan meguru pada siapapun. Bapak penjoget nan riang ini sempat duduk menghentikan tariannya, ketika petugas keamanan telah pergi. Wajahnya seperti anak kecil yang mainannya direbut, kalau boleh menebak kemungkinan bapak ini pernah mengalami masa “pendisiplinan” sehingga dia dengan terpaksa menghentikan keriangannya tanpa mengerti kenapa. Tapi Mbah Nun setelah menenangkan hati pihak keamanan, kemudian tampak memegang pundak si bapak dan mengajak kembali berdiri. Entah Mbah Nun berkata apa pada beliau karena Mbah Nun tidak memakai microphone saat itu, tapi wajah si bapak kembali tampak riang, berdiri dan berjoget dan… Merdeka! Kali ini lebih lepas dari sebelumnya. Lagu Sayang dituntaskan dengan tarian yang menggembirakan.

Lagu telah berhenti dan Mbah Nun mengajak si bapak berdialog. “Anda adalah orang yang paling berbahagia pada malam hari ini. Anda adalah orang yang paling bergembira dan total kegembiraan Anda. Bahkan ada dua fakta, yang lain Anda juga membahagiakan menggembirakan segini banyak orang,” kata Mbah Nun. Kemudian dilanjutkan dengan ditanyakan asal beliau. Dan jawab bapak dengan seragam gembra ini adalah nyanyian

“RW 5 RT 3, sepuuluuuh nomer ruuuuumahku jalannyaaaaaa jalan Traaaaaayem. Naik saaaaajaaaa Kopppataaaa jurusan Trayem Bendoooo. Pasti kamu tak keliru, akan bertemu dengankuuuuuuu.” Suit suittt standing applause atas melodi spontan. Selain penari, biduan juga rupanya beliau. Para hadirin tampaknya menikmati suara nyanyian yang tidak pas nadanya itu. Tapi kalau saya sekali lagi boleh menebak, tampaknya itu adalah kalimat yang ditanam. Kemungkinan bapak ini pernah mengalami tersesat atau hilang. Mungkin ya, ini hanya spekulasi. Lagipula, kita sendiri juga penuh dengan kalimat dan ajaran yang ditanam oleh orang lain dari akademisi sampai agmawan, kita tidak jauh beda dengan beliau sebenarnya.

Mbah Nun mengingatkan, “Laa tahtakir man duunaka walikulli syaiin maziyyah, jangan pernah karena ketidaktahuan dan kebodohan kita, kita merendahkan siapapun di muka bumi ini. Karena setiap makhluk Allah, hidup maupun tidak hidup memiliki kelebihannya masing-masing atas fadhilah dari Dia.” Mbah Nun kemudian meminta si bapak untuk lebih cespleng menjawab, Bapak itu setuju. Ini agak menegangkan, seberapa bapak itu bisa mengontrol dirinya?

Mbah Nun tanya, “Namanya?”

“Saya Nuriadi”

“Tinggal di RT?”

“RT 3”

Bapak Nuriadi lulus menenangkan diri dua pertanyaan, satu pertanyaan Mbah Nun meningkat jumlah kalimatnya soal kenapa bisa sangat berbahagia. Dan jawabannya, “Kita diciptakan oleh Allah itu istilahnya tidak untuk bersukar, tapi jangan berlebihan.” Applause para sedulur tidak terkira.

Ora ming bener ning juga apik, basyiran wa nadzira,” Mbah Nun menyibak pintu ilmu dari kalimat Pak Nuriadi bahwa Allah menciptakan kita untuk bergembira (basyiran) ketika kegembiraannya melampaui batas baru diilekke (nadzira).

Dan tiba-tiba Pak Nuriadi menghadap ke pak Kapolres dan dengan rendah hatinya menyampaikan, “Pak Kapolres saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Jadi bila dibaca sekali lagi profiling bapak Nuriadi, ada masa di mana beliau disalahkan, dianggap mengganggu, ditertawakan dan dianggap memalukan. Kesadaran masyarakat kita pada mental illnes (walau itu juga bukan istilah yang tepat amat) kadang masih sering merendahkan dan itu tugasnya psikologi bidang sosial untuk memberi pemahaman. Tapi rupanya peran ini juga diambil oleh Sinau Bareng. Kalau kita perhatikan, cara Mbah Nun bertanya pada Pak Nuriadi seperti psikolog klinis. Pertama gunakan kalimat yang pendek. Raba dulu capaian pemahaman si individu. Kalau bisa mencerna satu kata, dua kata, tiga kata, baru naik ke kalimat yang sedikit lebih panjang. Malam ini saya berkesempatan belajar treatment psikologi yang benar.

Pak Kapolres ternyata malah terbuka untuk bertanya, “Pak saya mau tanya, resepnya bisa semangat kayak tadi itu apa?”

Membahanalah jawaban Pak Nuriadi, “Lho? Kan saya darah muda! Daraaah muudaaaaa…..” Malah bernyanyi gembira dan sudah joget kembali terpantik oleh pertanyaan Pak Kapolres dan gembiralah penduduk langit dan bumi menyaksikannya. Kalimat yang langsung panjang akan memantik keliaran individu seperti ini karena cara pikirnya lebih banyak asosiasi daripada pemaknaan logis, jadi begitu mendengar kalimat yang panjang tanpa persiapan, imajinasinya terbang lepas landas. Harap kita pahami juga, itu bukan kekurangan. Itu adalah cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang saja.

KiaiKanjeng segera sigap mengiringi dan Mas Imam sebagai putra ideologis dari Sang Raja Dangdut Roma Irama yang mempopulerkan lagu “Darah Muda” dengan segera menemani Pak Nuriadi bernyanyi “Darah muda darahnya para remajaaaaa…” Pak Nuriadi sering kepeleset kata dan sering ingin menyanyikan bagian reffrain saja. Mas Imam terpaksa sedikit menaikkan suaranya agar Pak Nuriadi terbimbing kembali ke jalur nada yang pas dan surprisingly itu juga berhasil. Pak Nuriadi paham sedang dibawa kembali ke nada yang betul dan tetap berusaha membenahi kata serta nadanya.

Lagu “Darah Muda” dengan (tampaknya) Mas Imam perlu menaikkan nada suara berhasil melantun dan menyenangkan serta menggembirkan. Mbah Nun kembali merangkul Pak Nuriadi. Kali ini, tampak sebagai psikolog Mbah Nun berhasil memetakan kecendrungan Pak Nuriadi. Tepat sekali Mbah Nun mengajak Pak Nuriadi agar beliau mau lebih tenang. Dan kali ini yang cukup mengejutkan Pak Nuriadi tiba-tiba terasosiasikan pada nash-nash agama. Menanggapi ajakan Mbah Nun untuk tenang dan mengendalikan diri, Pak Nuriadi tiba-tiba mengucap “al ngajalu mina syetaaaaaan” sepertinya hal macam ini ternyata lebih meresap diucapkan oleh seorang Pak Nuriadi ketimbang kiai manapun.

Mbah Nun bahkan melanjutkan treatment dengan sangat husnudhzon, “Anda sepertinya hafal Al-Qur`an?” Pak Nuriadi menjawab singkat, “Ndak”. Tapi Mbah Nun tanyakan kembali, “Kalau ayat yang penting-penting?” Ternyata ada dan dengan lantang Pak Nuriadi berorasi, “Inna akromakum ‘indallahi atqokum.” Ditanyakan artinya “Bahwa yang paling mulia di sisi Allah itu adalah orang yang bertakwa”.

Harap perhatikan bahwa Mbah Nun tanya ayat yang penting, artinya Pak Nuriadi punya opsi untuk memilih ayat yang penting bagi dirinya. Dan dia memilih ayat tentang taqwa. Hikmah membuka malam ini, betul-betul bukan sekadar kisah-kisah sufi yang sering kita dengar seperti Imam Junaid yang berguru pada orang yang dianggap gila. Tapi dalam Sinau Bareng kita diajak mengalami itu bersama-sama. Banyak agamawan yang bisa menceritakan kisah-kisah semacam ini. Tapi berapa banyak yang bisa, sanggup dan mau mengajak kita untuk mengalaminya langsung dengan dirinya sendiri juga terlibat dalam hal-hal yang spontanitas itu? Bisa-bisa jatuh wibawa di hadapan ummat.

Bahkan Pak Nuriadi bisa menjelaskan ketika ditanya oleh Mbah Nun, siapa yang bisa menilai taqwa seseorang. “Cuma Allah.” Allahu Akbar! Tidak apa kan saya jadi bertakbir mendengarnya? Saya tidak berencana untuk bersudut pandang spiritual atau sufistik malam ini tapi ini benar-benar di luar rencana. “Jadi bisakah orang menyebut bahwa orang tertentu kafir?” Jawaban Pak Nuriadi menghantam, “Malah kembali ke diri sendiri.” Dan Pak Nuriadi lantas spontan saja melantunkan Syi’ir Tanpo Waton. KiaiKanjeng pun melayani Pak Nuriadi sepenuh hati.

Selanjutnya Pak Nuriadi ditanya soal keluarganya dan sangat bangga bahwa beliau telah berkeluarga, memiliki satu putra. “Usia sekitar dua belas atau tiga belas di SMP Favorit.” Wahai putra Pak Nuriadi berbanggalah engkau memiliki ayah yang hebat. Puncaknya adalah ketika Mbah Nun bertanya mengenai pekerjaan Pak Nuriadi dan jawabannya, “Apa yang kukerjakan hari itu, itulah pekerjaanku.” Bersorak para hadirin betapa samudera ilmu datang dari Pak Nuriadi yang kehadirannya tak diduga malam hari ini. Dengan membawa sajian ilmu dan kemesraan tak terhingga. “Itulah hamba Allah yang sejati, dia tidak terikat pada apapun. Bahwa apa yang kukerjakan hari itu, itulah pekerjaanku.” Di tengah kita semua ini hidup dalam status-status yang beku dan tidak waras, bahkan apa yang semestinya bukan status seperti kata ulama pun jadi status namun ada Pak Nuriadi yang mengajarkan kita hal semacam ini.

Lebih lanjut Mbah Nun mengajak Pak Nuriadi untuk istirahat, “Mau ndak duduk sama saya mendengarkan dengan tenang?” Pak Nuriadi mengangguk semangat. Dan itu memang beliau buktikan, Pak Tanto Mendut dipersilakan menempati panggung dan Pak Nuriadi menepati janji untuk duduk diam dan tenang selama Pak Tanto Mendut menyampaikan beberapa poin yang nanti juga akan kita bahas sendiri. Rasanya tidak habis-habis bersyukur malam hari ini.