Rumah Patangpuluhan

Wilayah Patangpuluhan ada di Kotamadya Yogyakarta, lokasinya di sebelah Barat Daya. Dulu dikenal sebagai RK Patangpuluhan (RK singkatan Rukun Kampung, untuk menyebut Kelurahan, sebutan ini hanya ada di Yogyakarta), Kecamatan Wirobrajan.

Untuk kalangan tertentu, Patangpuluhan identik dengan Emha Ainun Nadjib. Di kampung itulah Emha mengontrak sebuah rumah petak yang sangat murah. Konon rumah itu ‘tidak laku’ dikontrakkan karena dipercaya ada hantunya. Pemiliknya orang Kalasan, namun sudah lama bermukim di Kepulauan Polinesia Perancis (Kaledonia Baru).

Rumah kontrakan Emha terletak sebelah barat (belakang) Pasar Legi Patangpuluhan. Dari jalan raya Bugisan masuk ke dalam sekitar 200 meter. Rumah dengan dua kamar, resminya ditempati tiga orang; Emha sendiri dan dua orang adiknya; Nadlroh As Sariroh dan Inayah Al Wafiyah. Rumah yang sangat sederhana, bahkan kesannya kusam itu, bagai rumah singgah. Baik bagi keluarganya, kawan-kawan seniman, relasi-relasi dari luar daerah atau aktivis mahasiswa dan aktivis LSM. Rumah yang tidak pernah sepi, meskipun Emha sendiri sedang keluar kota.

Bolehlah menyebut nama, berbagai kalangan untuk bermacam kepentingan yang datang ke rumah itu: Ishadi SK (saat itu Kepala Stasiun TVRI Yogyakarta); Arief Affandi (ketika itu Kepala Biro Jawa Pos Yogya); Rizal Mallarangeng, Edi ‘Eddot’ Supriyadi, Mohamad Sobary, Ahmad Tohari, Erros Djarot, Ismet Sofyan Saputra, Arifin C Noor, Christine Hakim, Alex Komang, KH Yusuf Hasyim, Gus Mus, Butet, Djadug, Indra Tranggono, Agus Noor, Ali Shahab, Umar Kayam. Hampir semua seniman di Yogyakarta berinteraksi di Patangpuluhan.

Saya tidak tahu persis sejak kapan Emha bertempat tinggal di Patangpuluhan. Sebelum itu ia dengan kakak dan adik-adiknya tinggal di rumah kos Kadipaten Wetan. Empat sekawan (Empat E: Emha, Ebiet, Eko Tunas dan Ehaka) berproses di Kadipaten Wetan. Saya tidak akan bercerita tentang “Empat E” karena minim info dan tidak pernah ikut berproses.

Suatu hari kampus saya, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, mengundang Emha untuk baca puisi. Emha mengusulkan Musik Puisi Teater Dinasti. Dengan iringan karawitan Dinasti, Butet Kertaredjasa baca puisi karya Emha bergantian dengan Arifin Brandan. Emha sendiri ternyata tidak ikut baca. Siapa-siapa saja pengiring karawitan ketika itu saya tidak begitu kenal. Sejak itulah, akhir 80-an, saya dan kawan-kawan kampus mulai berinteraksi dengan Komunitas Patangpuluhan. Bahkan salah satu kawan saya tidak mau pergi dari komunitas itu sampai sekarang. Ia kini menjadi keluarga Emha dan sempat lama menetap di Kompleks TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul.

Saat itu teater Dinasti Ampas—nama ‘Ampas’ diberikan Emha karena sebagian besar aktor-aktor teater Dinasti bergabung atau ikut dalam komunitas kesenian lain. Novi Budianto, Neneng Suryaningsih, Jujuk Prabowo, Butet Kertaradjasa dan yang lain mendirikan teater sampakan Gandrik. Joko Kamto, Agus Istianto dengan Teater Rakyat-nya. Bambang Isti Nugroho bergiat di LSM—sedang berproses akan mementaskan lakon karya Emha “Doktorandus Mul.” Bagi saya yang awam, lakon ini menarik karena didukung pula oleh Michael Bodden (sekarang profesor), orang Kanada yang interest terhadap seni dan budaya Indonesia. “Doktorandus Mul” sempat dipentaskan di TVRI Yogyakarta dengan pemain antara lain: Bambang Sosiawan, Agung Waskito, Sita, Jemek, Godor, Sius, Sariroh, Michael Bodden, Huri, Yono dan lain-lain.

Buku Cak Nun