Rumah Maiyah, Ruang Silaturrahmi Agar Tak Beku Budaya

Baru saja pementasan Sengkuni2019 telah rampung dilaksanakan di dua kota yakni Yogya dan Surabaya. Selama beberapa bulan proses menuju pementasan Sengkuni2019, Rumah Maiyah di Kadipiro selalau terisi oleh para pemain dan pendukung pementasan tersebut. Pementasan Sengkuni2019 digelar atas nama Teater Perdikan. Tentu Teater Perdikan sudah bukan orang lain, macam sudah keluarga sendiri di Kedatuan Kadipiro ini. Tapi apakah Rumah Maiyah hanya bisa dipergunakan oleh kalangan sendiri? Ini yang mungkin beberapa dari kita belum terlalu mendalami. Belum juga selesai euforia Sengkuni2019, seminggu belakangan ini hampir setiap malam pendopo Rumah Maiyah kembali semarak oleh para aktor dan pendukung pementasan teater namun kali ini bukan dari Teater Perdikan.

Mereka pegiat teater generasi muda yang tergabung dalam Forum Aktor Yogyakarta. Seperti juga dalam nilai-nilai yang sering dielaborasi oleh Mbah Nun di berbagai majelis Maiyah, Rumah Maiyah sendiri juga punya sifat menampung dan memberi ruang bagi siapa saja. Teman-teman Forum Aktor Yogyakarta ini tentu saja diberi ruang, space untuk mengeksplorasi tata gerak, keaktingan hingga musik. Mereka sedang persiapan untuk pentas dalam Helateater Salihara 2019 di Salihara, Jakarta sekitar pada tanggal 23-24 Maret 2019. Rumah Maiyah diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengembangkan diri, fokus dan total pada bidang yang dikerjakannya dan malam-malam belakangan ini kita bisa menyaksikan teman-teman kita menggunakan ruang di Kedatuan Kadipiro.

Tampak sebuah set mini diatur menyerupai set panggung pementasan. Mbak Widjil Rachdani memeragakan beberapa potong adegan yang kemudian juga berpasangan dengan Mas Dinu Imansyah. Sekali, fokus panggung terbagi dua, juga ada pemain lain Mbak Veronica dan Mas Yoga. Komposisi panggung jelas terlihat dan imaji akan permainan sorot lighting sudah bisa tergambar. Mas Giant, tentu ini nama sapaan, yang bongsor tegas, tampak mengarahkan adegan dan Mas Ipung sebagai stage manager mengamati jalannya latihan bersama tim musik dan tim produksi lainnya.

Tim kecil yang akan berangkat nanti berjumlah 12 orang terdiri dari delapan kru dan empat pemain. Teman-teman Forum Aktor Yogyakarta ini nanti akan membawakan adaptasi naskah “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero yang diterjemahkan dan digubah oleh Miranda Harlan. Gubahan itu menjadi naskah sendiri berjudul “Di Punggungmu Kusandarkan Waktu, Yang Tak Pernah Bicara Kita”. Ini memang salah satu naskah yang disodorkan oleh panitia acara di Jakarta sana. Sementara di depan sana, Syini Kopi juga cukup hangat oleh kepulan minuman panas atau kalau mau es di musim dingin juga bisa. Terserah sesuai selera.

Saat saya sedang ngobrol-ngobrol dengan Mas Ipung, Pak Jijit tampak hilir-mudik membawa beberapa alat musik, rupanya ada pekerjaan musikal sendiri di luar KiaiKanjeng. Sementara Letto bersiap untuk latihan di studio. Ada sebutan untuk Rumah Maiyah sebagai Rumah Budaya EAN, kalau di Google Map juga muncul sebagai Pendopo KiaiKanjeng. Namanya juga budaya, memang cair dan bergerak. Yang berbudaya akan terus lahir, menampung dan meruang. Kebudayaan bukan ruang baku. Bukan sekadar bebentukan tradisi yang dianut telah lama dan mapan, yang terlanjur dirumuskan pada era-era tertentu. Budaya terus bergerak, lentur dan bersemangat. Seperti malam-malam latihan kawan-kawan Forum Aktor Yogyakarta ini.

Mas Ipung, stage manager pada pementasan kali ini sempat menyampaikan bahwa Forum Aktor Yogyakarta tidak bersifat ketat mengikat. Jelas berbeda dari generasi teater kampus. Ternyata setelah ngobrol panjang-lebar, kami mendapati dulu seangkatan generasi teater Yogya. Mungkin pernah bertemu, semestinya pernah tapi tidak betul-betul ingat. Mas Ipung basic-nya dari Teater Tangga di UMY dan saya ingat sekali pada awal terlibat di teater kampus pernah ke sana untuk meminjam beberapa peralatan. Mas Ipung sendiri tidak asing dengan majelis-majelis Maiyah. Beliau sering menghadiri majelis Maiyah terutama Mocopat Syafaat di Yogya sejak 2008. Sedangkan dengan Mas Giant, ternyata saya pernah berjumpa ketika menonton proses latihan GMT (Gambang Musik Teater) sekitar dua-tiga tahun lalu.

Tanpa terasa beberapa jalinan tersambung kembali, bukankah itu silaturrahmi? Dan silaturrahmi kalau kita bisa sepakat adalah kunci agar budaya tetap berkembang, bergerak bersemangat dan bergelora menjadi lesatan peradaban yang penuh kreativitas. Rumah Maiyah menyediakan diri sebagai ruang yang bukan saja ruang publik tapi ruang silaturrahmi, tempat bertautnya kreativitas demi kreativitas. Malam saya ikut menyaksikan proses berlatih kawan-kawan Forum Aktor Yogyakarta ini pada tanggal 15 Maret 2019, mungkin kawan-kawan kita akan berlatih di sini hingga tanggal 19 nanti untuk kemudian persiapan berangkat ke Jakarta. Malam itu hujan dan dingin. Angin cukup kencang. Tapi kita tidak mau membeku karena kita punya kehangatan yang menampung.

Buku Cak Nun