Romantisme Sejarah Menuju Otensitas dan Kedaulatan Diri

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 24 April 2019

Kontestasi pemilu sudah usai, namun konflik kepentingan belum juga berakhir. Kepentingan-kepentingan individu maupun kelompok coba ditarik dalam konstetasi ini, dan seolah-olah dijadikan kepentingan umat atau bangsa. Dari konflik kepentingan ini, seolah-olah rakyat diajak untuk meramaikan permainan ini. Ibarat sebuah sirep, gendam, sihir dan lain sebagainya, cukup banyak rakyat yang terseret dalam permainan ini. Perilisian film dokumenter Sexy Killers, sedikit banyak telah memberikan gambaran pada kita, bahwa konstetasi ini hanya sebuah permainan para politisi, cukong, taipan untuk memupuk keuntungan material di bumi Nusantara. dalam film tersebut baru menceritakan satu narasi pertambangan batu bara saja, belum pertanian, perkebunan, gas, emas, menieral dsb, tentunya masih banyak dikuasai mafioso-mafioso yang belum terungkap ke khalayak umum. Siapapun yang akan menjadi wakil rakyat yang duduk disingasana yang luhur itu, sudah barang pasti pemenang utamanya ialah para elit kepentingan yang memanfaatkan momentum 5 tahunan ini.

Sejak jauh-jauh hari simbah telah memberikan wanti-wanti kepada seluruh jamaah Maiyah agar tidak ikut-ikut dengan permainan ini. Apalagi ikut memperkeruh suasana persatuan bangsa ini. Kalau bisa kita menjadi pemersatu dari kubu yang berseteru, kalaupun tak bisa, ya kita fokus pada aktivitas atau kehidupan sehari-hari, karena itu jauh lebih penting dari siklus 5 tahunan ini.

Amar Maiyah dan Ngestuaken Dawuh

Jarang sekali simbah memberikan sebuah perintah secara langsung kepada anak cucunya yang berada di dalam lingkaran Maiyah, di manapun mereka berada. Jika simbah telah memberikan sebuah perintah, kemungkinan pasti ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Hal tersebut dapat kita lacak dalam uraian tulisan simbah yang berjudul Amar Maiyah di rubrik Tajuk Caknun.com.

Dari perintah tersebut, saya mengamati dari publikasi media online yang dikelola simpul, lingkar berbondong-bondong menyelengarakan pembacaan doa Tahlukah dan Hizib Nashr. Dan kemungkinan besar jamaah yang belum tergabung dalam simpul maupun lingkar pun juga menjalankan dawuh tersebut. Begitu pula dengan Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan juga melaksanakan dawuh simbah tersebut.

Proses pembacaan Doa Tahlukah dan Hizib Nashr dilaksanakan bersamaan dengan rutinan Suluk Surakartan yang ke-39. Namun sebelumnya, para penggiat sudah melaksanakan terlebih dahulu saat rapat penggiat yang diunduh dirumah Kang Kenyot Boyolali (24/04). Sebelum prosesi pembacaan Doa Tahlukah dan Hizib Nashr, Wasis mempersilahkan Mas Indra untuk memberikan wedarannya. Nakula dari Agusta ini, menyoroti salah satu poin yaitu logo yang yang terpampang di Amar Maiyah. Logo tersebut ialah black hole, ia menjelaskan panjang lebar tentang teori-teori black hole yang berkembang dalam dunia sains modern hingga sintesis dari Stephen Hawking tentang teori black hole. Menurut  Mas Indra, black hole baru pertama kali bisa ditangkap dengan kamera modern pada beberapa waktu yang lalu.

Black hole merupakan sebuah lubang hitam yang berada langit. Berdasarkan teori yang berkembang di sains modern, black hole mampu menarik seluruh benda maupun partikel-partikel yang ada dialam semesta. Dengan kemampuan tersebut, beberapa saintis menafsirkan peristiwa tersebut sebagai kehancuran alam semesta atau bahasa dalam kitab suci ialah peristiwa kiamat, tuturnya. Lantas apa hubungannya pengunaan logo Black Hole dengan Amar Maiyah? Bisa jadi itu untuk menyikapi kondisi kegaduhan saat ini. Atau bahakan muncul fenomena-fenomena alam yang sangat dasyat menimpa nusantara atau dunia.

Setelah Mas Indra memberikan uraianya, wasis mempersilahkan Kang Kenyot selaku ketua tim wirid Suluk Surakartan untuk memandu mekanisme pembacaan Doa Tahlukah dan Hizb Nashr. Sambil kang Kenyot menjelaskan mekanisme pembacaaannya, wasis mempersilahkan beberapa dulur-dulur untuk menyiapkan dan menaruh dupa dibeberapa sisi ruangan rumah maiyah Suluk Surakartan. Hal tersebut dilakukan lain dan tak bukan untuk menambah kekhidmatan dalam menjalankan ritual tersebut.

Cermat dalam Belajar Sejarah

Sekitar 50an menit prosesi pembacaan Doa Tahlukah dan Hizb Nashr, forum sinau bareng sesi kedua dimulai, Wasis mempersilahkan kepada para pemantik sinau bareng untuk maju kedapan.  Sekitar semenit dua menit Mas Rendra memberikan ulasan, ia mempersilahkan kepada seluruh jamaah yang hadir untuk bertanya, menanggapi maupun menyanggah. Jamaah pun cukup atusias dengan merespon apa yang diutarakan sang Nakulanya Agusta. Keantusiasannya dari jamaah tersebut, kemungkinan mereka merasa kehausan akan informasi-informasi masa lalu tentang pencapaian-pencapaian kebudayaan leluhurnya yang belum ia ketahui, baik dari sistem pemerintahan hingga substansi dari sebuah kebudayaan.

Dalam mempelajari sejarah, terutama tentang sejarah peradaban nusantara masa lalu. Kita harus betul-betul cermat dalam mempelajarinya. Menurut filolog asal Sragen ini, banyak sekali pembelokan-pembelokan sejarah kita. Misalnya saja tentang nama  Mahapatih Gajah Mada, sekarang lagi ngetren nama Mahapatih semasa Raja Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara dengan sebutan Gaj Ahmada. Padahal dalam transkip sejarah, tak diketemukan nama Gaj Ahmada. Tapi nama Mahapatih semasa Raja Hayam Wuruk yang sering disebutkan dalam transkip sejarah baik itu dalam Pararton maupun kitab Negarakertagama ialah Gajah Mada.

Selain itu juga, ia menyoroti transformasi kerajaan  Majapahit ke Demak yang terjadi tanpa banyak pertumpahan darah atau bahakan kehancuran Majapahit terjadi bukan karena serangan pasukan Demak ke Majapahit. Begitupula dari Masa Airlangga hingga awal berdirinya Mataram Islam, yang menjadi faktor utama kehancuran sebuah kerajaan bukan karena ekspansi politik. Dalam transkripsi dijelaskan bahwa katastropi atau bencana lah yang menjadi faktor utama kehancurannya sebuah kerajan atau pemerintahan di bumi Nusantara.

Dari transformasi sebuah imperium yang membuat Mas Rendra salaut ialah di era Majapahit ke Demak. Dari masa Majapahit yang masyarakatnya yang mayoritas beragama Hindu-Budha, berganti menjadi Islam secara mayoritas di masa Demak yang berjalan begitu cepat dan tak memunculkan pertumpahan darah. Hal ini lah yang perlu kita pelajari dan kita renungkan kembali secara seksama. Karena hal ini jarang sekali dibahas dalam sejarah kita.

Perdikan-Perdikan

Salah satu faktor kenapa Majapahit begitu jaya dan memiliki wilayah pemerintahan hampir mencakup seluruh Asia Tenggara. Karena pada masa itu, Majapahit mengunakan sistem perdikan. Setiap daerah pemerintahannya diberikan kemerdekaan untuk mengali potensi dan memajukannya. Sedangkan tugas dari pemerintahan Majapahit ialah melindungi, mengayomi dan mengkordinasi dari setiap perdikan-perdikan yang berada dibawah naugan Majapahit.

Mas Rendra juga menyoroti keunikan yang terjadi di Majelis Maiyah dengan model simpul-simpul ataupun lingkar-lingkar Maiyahnya. Menurutnya sistem yang diterapkan di seluruh Majelis Masyarakat Maiyah ini memiliki kemiripan dengan konsep perdikan pada masa pemerintahan Majapahit. Menurut pengamatannya, setiap Simpul maupun Lingkar Maiyah memiliki kekhasan yang berbeda. Jika potensi ini dikelola dengan baik, tentunya akan memberikan secercah harapan utuk masa depan Nusantara, tuturnya.

Menanggapi uraian Mas Rendra tentang konsep perdikan, Pak Asad mencoba memberikan study kasus konsep perdikan dalam konteks ekonomi. Ia mencontohkan perekonomian di negara Tiongkok saat ini melaju begitu cepat. Karena salah satu faktornya disetiap daerah di Tiongkok dibebaskan mengembangkan segala pontensinya masing-masing. Misalnya Tiongkok ingin memproduksi sebuah sepeda montor atau mobil, suatu daerah memiliki potensi dalan industri knalpot fokus pada pembuatan knalpot, yang bodi ya bodi begitu seterusnya.

Lebih jauh lagi tentang sistem ekonomi Tiongkok, Pak Asad menduga, sistem ekonomi yang diterapkan di Tingkok saat ini selaras dengan ayat-ayat perekonomian dalam Al-Qur`an. Terlepas pemerintahan Tiongkok saat ini seperti, kita patut belajar dari sistem perekonomian Tiongkok pada hari ini. Dan seandainya saja ketika setiap jamaah maiyah sedang maiyahan disimpul, lingkar atau pas Simbah sedang berada agenda di daerah-daerah, setiap jamaah bisa dan mau saling membawa dan megenalkan hasil produksinya. Haji maupun Umroh menurutnya bukan hanya sebuah momentum ritus spiritual saja, akan tetapi juga membangun ritus horisontal atau saling komunikasi dengan jamaah lainnya.

Menjelang sesi dua diakhiri, mas Indra mencoba menanggapi poin penting tentang perdikan. Konsepsi atau nilai-nilai perdikan yang dibangun di maiyah seharusnya bisa membangun dan menjadikan jamaah maiyah menemukan otensitas dirinya. Dan salah satu poin penting yang sering simbah utarakan dalam forum-forum maiyahan yaitu waspada, waspada dalam hal apapun. Terutama dalam perkembangan tren global, jangan sampai kita terbawa arus tersebut, tutupnya.

Selamat bermuwahajahah kembali di forum Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan edisi Ambal Warsa Kaping 3 lan sedulur-sedulur sedoyo ingkang badhe dugi ampun kesupen mbeto hasil produkipun. Nuwun (Wahyudi Sutrisno)

Buku Cak Nun