Rindu Lunas di Hitam-Putih

Ada piweling luhur: aja gumunan, aja getunan, aja kagetan. Tapi sesekali gumun tidak jadi soal tampaknya. Gumun pada sesuatu yang absurd seperti keseharian Pak Guru saya ini misalnya.

Beliau berjalan setengah diseret, seperti jalannya orang malas. Namun bukan berarti malas betulan. Justru itu memperlihatkan bahwa beliau ini tidak punya ambisi. Anda akan tertipu jika menilai beliau hanya dari cara berjalannya. Tunggulah beberapa saat hingga ada kapur di tangannya dan papan tulis di dekatnya.

Sorak-sorai gembira para murid seolah mengawali pentas teater Mingguan seorang Novi Budianto. Pelajaran seni rupa seminggu sekali ini istiqomah berlangsung teaterikal. Suara lantang dan intonasi uniknya, sebagaimana yang sering kita dengar dari Beliau di panggung-panggung Sinau Bareng, mengundang tawa riang para murid.

Pak Novi tidak pernah tidak bergairah atau lesu payah, Pak Novi always passionate and powerful. Menyampaikan materi pelajaran dengan gaya jenaka, penuh semangat, dan memikat. Bunyi kapur yang beradu dengan papan tulis sekejap mengheningkan riuh kelas yang penuh bandit-bandit badung. Tangannya mengayun cepat ke atas dan ke bawah, menghentak kuat ke kiri dan kanan. Hanya semenit lebih sedikit, gambar ilustrasi yang menjadi tema pelajaran hari itu selesai.

Kelas bergeming, tetap senyap. Apa sebab? Ada lukisan wajah di papan tulis yang tak lain adalah wajah si pelukis itu sendiri. Pak Novi baru saja mengilustrasikan wajahnya sendiri di papan tulis. Beliau melakukannya sambil lebih banyak menghadap ke belakang berbicara dengan para murid. Auto-gumun, teman sebangku saya yang gemar menggambar sampai misuh-misuh dan membanting pulpennya meluapkan rasa kagum.

Wajah yang tergambar di blabak itu sangat komikal namun lugu dan jujur adanya, persis sang pelukis. Rambut yang acak tak disisir, mulut menganga, mata terbuka membelalak.

Memang begitu wajah keseharian Pak Novi di sekolah. Tak acuh pada penampilan, barangkali tidak sempat ini itu sepulang dari tour KiaiKanjeng, pulang nggamel langsung mulang. Mulut menganga dan mata yang membelalak menunjukkan betapa ekspresif beliau pada tiap “pementasan”-nya. Totalitas dan performanya tak usah ditanyakan lagi. Ajeg-jejeg setiap hari selama 33 tahun kurang lebih. Entah itu di kelas, di panggung teater, atau di pagelaran Sinau Bareng.

Dari sekian puluh guru yang tiap Senin pagi berbaris di hadapan para siswa, inovator musik-musik gamelan KiaiKanjeng ini adalah guru yang sangat khidmat, tulus, dan serius dalam memberi hormat kepada bendera merah putih yang tengah dikibarkan. Meskipun saya rasa sah-sah saja beliau tampak lungkrah, letih, dan mengantuk. Semalaman ider katresnan di Sinau Bareng sudah tentu menguras energi dan pikiran, wa lakin Pak Novi masih on fire.

Pelajaran seni rupa adalah momen menikmati gift Allah berupa seorang yang mukhlas bernama Pak Novi Budianto. Tidak ada tuntutan apa pun terkait capaian kompetensi, tidak ada ceramah ndremimil yang membuat suram hari-hari. Urusan nilai, tidak banyak guru yang semurah hati Pak Novi dalam mengapresiasi. Murid tidak jarang diberi kesempatan menulis sendiri nilai yang dirasa pantas untuk karya yang dibuat. Sesekali karya-karya tersebut dipamerkan di aula sekolah. Itu adalah inisiatif untuk membesarkan hati para murid agar tiada yang merasa karyanya tidak indah.

Kepiawaian beliau dalam mengajar bukan terletak pada keberhasilannya mendidik para murid menjadi orang-orang yang pandai membuat karya seni. Kepiawaian beliau adalah meramu cuaca belajar yang menumbuhkan dan memampukan para murid untuk menikmati proses berkarya. Bukankah itu yang selama ini hilang dari semesta sekolah? Pendidikan berlangsung kering membosankan. Terjerat perkara berat berkarat berupa nilai, ranking, dan kurikulum. Kepayahan karena lalu-lalang administrasi dan kompetisi.

Segala sesuatu yang beliau peragakan di kelas adalah contoh kenikmatan berproses. Tumbuh dalam pemahaman saya bahwa seni bukan berada di cakrawala puja-puji dan hal-hal lain yang lekat kaitannya dengan kerelatifan pencapaian. Bahwa seni adalah keberadaan diri yang bergairah menikmati proses berbagi dan berekspresi melalui keindahan.

Melalui diri Novi Budianto semoga banyak yang turut belajar bahwa seseorang bisa bermanfaat, hidup dan menghidupi tanpa memanggul ambisi dan ekspektasi. Berkarya ya berkarya saja, alami prosesnya, perkara besok mau jadi apa biarlah menjadi rahasia-Nya yang akan kita jelang.

Pameran Visual Hitam Putih yang kini sedang berlangsung dapat dimaknai sebagai ajang berkenalan dengan dunia batin dan imajinasi Pak Novi. Akan tetapi bagi saya pameran ini menjadi penebus rindu, kesempatan bernostalgia, dan bereuni setelah hampir sekian belas tahun tidak berjumpa dengan karya lukis Pak Guru multitalenta yang inspiratif wal antik.

Buku Cak Nun Majalah Sabana