Majelis Ilmu Gambang Syafaat Semarang, 25 Oktober 2019

Ridhlo itu Dasarnya Cinta

Setiap tanggal 25, pada setiap bulannya, di salah satu sudut Masjid Baiturrahman Semarang, dihelat Gambang Syafaat. Salah satu simpul Maiyah yang lahirnya berdekatan dengan Mocopat Syafaat. Di tahun 1999, setelah Mocopat Syafaat lahir, dan saat itu HAMAS (Himpunan Masyarakat Sholawat) sedang getol-getolnya keliling dari kampung ke kampung untuk membumikan kembali tradisi sholawatan. Cak Nun bersama KiaiKanjeng telaten untuk menemani masyarakat di kampung-kampung dan desa-desa.

Setelah Padhangmbulan lahir di tahun 1993, 6 tahun kemudian lahirlah Mocopat Syafaat dan Gambang Syafaat di tahun 1999. Terutama kepada teman-teman di Gambang Syafaat, salah satu pelajaraan yang sangat berharga dari mereka adalah tentang kesetiaan. Cak Nun meskipun tinggal di Yogyakarta, tidak lantas setiap bulan selalu hadir di Gambang Syafaat di Semarang. Dan momentum kehadiran Cak Nun di sini selalu menjadi momentum pelepas rindu jamaah Maiyah di Gambang Syafaat. Maka, kepada teman-teman penggiat Simpul Maiyah, jika ingin belajar tentang kesetiaan, salah satu marja’ ilmu kesetiaan yang bisa dijadikan sumur ilmu adalah Gambang Syafaat.

Tidak mudah mengelola forum majelis ilmu seperti Gambang Syafaat. Dilaksanakan di Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah. Dinamika masyarakatnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan Yogyakarta atau Jakarta, misalnya. Pola pendekatannya pun tidak sama. Kesetiaan dalam berproses teman-teman penggiat Simpul Maiyah Gambang Syafaat patut dijadikan salah satu referensi dalam mengelola forum Majelis Masyarakat Maiyah.

Apa yang menjadi modal dasarnya? CInta. Kalau sudah cinta, maka kita akan mudah untuk ridhlo. Salah satu jawaban yang bisa ditemukan dari teman-teman penggiat Gambang Syafaat, mengenai kenapa mereka mampu bertahan dan setia dalam berproses menjaga keberlangsungan forum Gambang Syafaat adalah karena mereka cinta kepada Cak Nun. Maka mereka pun mampu ridhlo ketika Cak Nun memang tidak bisa hadir di Gambang Syafaat, dan menjadi kebahagiaan yang tidak ternilai ketika pada saatnya Cak Nun bisa hadir dan melingkar bersama.Apalagi pada edisi Oktober 2019 ini, Syeikh Kamba juga turut bergabung. Jadi, teman-teman Gambang Syafaat kemarin mengalami apa yang pernah dijelaskan oleh Cak Nun; Buy one get Two. Tapi maksudnya bukan pilih 01 dapat 02 juga. Itu dimensi yang berbeda yang hanya ada di NKRI.

Apa yang dimaksud dengan Buy one get two oleh Cak Nun merupakan tadabbur Surat At Talaq ayat 2-3: wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhrojaa, wa yarzuqhu min haistu laa yahtasibu, waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuhu, innallaha baalighu amrihi, qod ja’alallahu likulli syai’in qodroon. Dimana ketakwaan manusia kepada Allah akan mengalami buy one get two. Dengan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberi kita jalan keluar dari berbagai persoalan sekaligus akan diberi rizqi dari jalan yang tidak disangka-sangka. Nah, teman-teman penggiat Gambang Syafaat mengalami apa yang disebut dengan yarzuqhu min haitsu laa yahtasib.

Karena sudah cinta, maka akan ridhlo atas kehendak Allah. Dan karena kita sudah ridhlo dengan kehendak Allah, maka Allah akan meridhloi kita. Puncaknya adalah keindahan, Allah memberikan rizqi yang tidak disangka-sangka. Sesederhana itu konsepnya, walaupun sudah pasti pada prakteknya tidak mudah. Tetapi, sebagai manusia bukankah memang tugas kita adalah memperjuangkannya? Dan Allah pun tidak pernah menagih hasil, melainkan yang ditagih adalah seberapa besar kesungguhan kita dalam berjuang untuk meridhloi ketetapan Allah kepada kita itu.

Dari pintu ridhlo, Cak Nun menjelaskan di Gambang Syafaat bahwa konsep ridhlo itu tidak sama dengan menyetujui. Dalam hidup ini lebih banyak hal yang tidak kita setujui, tetapi yang harus kita lakukan adalah kita ridhlo atas semua yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi ini. Terhadap Negara, apakah kita semua setuju? Terhadap pemerintah, terhadap susunan kabinet yang baru disusun, apakah kita setuju? Bahkan hampir semua respons masyarakat tidak ada yang setuju 100%. Jika kita perkecil skalanya, apakah kepada tetangga kita kita setuju? Apakah ketika tetangga kita membeli mobil baru, kita setuju? Apalagi kalau kita sendiri juga ingin membeli mobil, tapi belum tercapai. Tapi kita harus ridhlo atas ketetapan itu. Semoga atas keridhloan kita, Allah kemudian memberikan kita ridhlo-Nya, sehingga kemudian Allah juga akan memberi rizqi kepada kita.

Sejalan dengan itu, Syeikh Kamba pun menajamkan kembali tentang 5 prinsip jalan kenabian yang sebelumnya sudah disampaikan di Kenduri Cinta edisi Oktober 2019 ini, dan naskahnya bisa kita baca di rubrik Tajuk; Maiyah dan Jalan Peradaban Islam. Dalam konsep beragama, dijelaskan oleh Syeikh Kamba bahwa pondasi utamanya adalah cinta yang kemudian berbuah ridhlo. Berbicara tentang cinta, Syeikh Kamba menjelaskan bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang sudah tidak berpikir transaksional, dan itulah yang dilakukan oleh Allah Swt kepada seluruh hamba-hambanya yang telah Dia ciptakan.

Pada tahap ini, kita harus mampu memahami bahwa kemudian konsep surga dan neraka bukanlah konsep imbalan yang disiapkan oleh Allah kepada kita. Kalau kita masih berpikiran bahwa surga dan neraka adalah konsep imbalan ats apa yang kita lakukan, maka kita masih bersikap transaksional kepada Allah. Bisa-bisa malah nanti di hari akhir kita akan kecelik, ketika sudah berada di pintu surga ternyata kita justru tidak diperbolehkan masuk oleh Malaikat Ridwan karena kita salah dalam membaca konsep beragama ini.

Allah sendiri sangat setia menerbitkan matahari, menghembuskan udara, menumbuhkan pepohonan, mengalirkan air, menjaga ekosistem alam tanpa memperhitungkan apakah manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya beriman kepada Allah atau tidak. Allah dengan ikon utamanya Rahman dan Rahim sangat setia untuk memberi rahmat kepada seluruh alam semesta beserta isinya. Sementara, ada banyak manusia yang ingkar terhadap ketetapan Allah, apakah kemudian Allah marah atas perbuatan ingkar itu?

Lagi-lagi, konsep cinta yang telah menjadikan Allah sendiri sangat setia kepada kita semua makhluk ciptaan-Nya. Bahkan pada tahap ke sekian, kita akan memahami bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah cinta yang sudah tidak mengharapkan balasan dari objek yang merasakan ungkapan cinta, tetapi sang pemberi cinta tetap mencintainya, tetap mengeskpresikan cintanya.

Syeikh Kamba menambahkan, jika kita beragama tetapi masih mengharapkan imbalan dari Allah, maka itu tidak ada bedanya kita dengan anak-anak yang hanya mau melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh orangtuanya dengan syarat akan dibelikan mainan atau makanan. Ditegaskan oleh Syeikh Kamba, selama kita masih mengedepankan sikap transaksional kita ketika beragama, maka tandanya kita belum beragama dengan berlandaskan cinta.

Kembali terkait tema ridhlo tadi, Cak Nun kemudian menjelaskan bahwa kunci utama kesehatan badan kita adalah ridhlo kita kepada Allah. Ketika kita berposisi tidak ridhlo, maka kemudian kita akan mengeluh, tidak merasa tenang, yang pada akhirnya susunan syaraf dalam tubuh kita akan terganggu, dan akan mengakibatkan terganggunya kesehatan badan kita.

Maka, Cak Nun pada siang hari sebelum Gambang Syafaat merilis Tajuk: Menderita Karena Maiyah, yang sebenarnya adalah sebuah penekanan oleh Cak Nun kepada kita untuk kembali berhitung, kembali meyakinkan diri, apakah memang Maiyah adalah jawaban yang tepat setidaknya untuk kita sendiri. Jangan sampai kemudian orang Maiyah setelah bersentuhan dengan Maiyah justru merasa terasing dengan dunianya sendiri di luar Maiyah.

Lebih jauh lagi, Cak Nun menekankan jangan sampai anak-anak Maiyah terbebani oleh persoalan yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabnya untuk diselesaikan. Dan juga jangan sampai terkekang oleh sesuatu yang seharusnya tidak mengekang kita. Maka, Cak Nun meminta jamaah Maiyah untuk menakar kembali segala sesuatu yang ada di sekitar kita, mana yang memang harus menjadi fokus utama hidup kita, menjadi beban untuk kita selesaikan dan mana yang sebenarnya bukan menjadi beban hidup kita. Kemudian kita memilahnya, dan kita fokuskan pada apa yang sebenarnya menjadi beban kita. Jangan sampai kita merasa GR, memikirkan sesuatu sampai mendalam, sampai lupa diri, apalagi melupakan keluarga kita sendiri.

Malam itu di Gambang Syafaat, Cak Nun berpesan agar kita semua kembali memantapkan pijakan bahwa salah satu nilai kehidupan yang harus kita aplikasikan adalah menanam dan memelihara. Bukan berpikir tentang panen. Maiyahan yang selama ini kita alami adalah sebuah laku untuk menanam dan memelihara. Tinggal kemudian akan seberapa jauh ketahanan kita untuk terus berjuang menjalani proses menanam dan memelihara ini.

Buku dan Merchandise