Reuni Iowa di Shah Alam

Seperti yang sebelumnya kita simak bersama di website caknun.com, Mas Reiza telah melaporkan untuk kita pertemuannya dengan Dato’ Baha, salah satu sahabat Cak Nun semasa mengikuti International Writing Program di University of Iowa di awal tahun 80’an.  Siapa sebenarnya Dato’ Baha? Kalau berbicara orang terkenal dari Malaysia, kebanyakan dari kita hanya mengingat Siti Nurhaliza, atau mungkin hanya mengenal Upin dan Ipin. Hehehe….

Dato’ Baha adalah salah satu Sastrawan terkenal di Malaysia. Baharuddin bin Zainal nama lengkapnya. Ia dikenal dengan panggilan Baha Zain. Seorang penyair dan juga penulis yang lahir di Perak, Malaysia pada 22 Mei 1939, usianya kini 80 tahun. Namun, seperti diceritakan Mas Reiza, Dato’ Baha ini masih sangat segar ingatannya, sehat badannya, ceria wajahnya dan menggembirakan. Beberapa karya Dato’ Baha yang terkenal diantaranya; Hikayat Bakhtiar, Hikayat Omar Umayyah, Kertas Catatan Tengah Malam dan Tiga Catatan Perjalanan. Apa anda sudah pernah baca karya-karya tersebut, tentu saja belum kan?

Kemarin (27/10), Cak Nun bersama Ibu Via diantar Mas Reiza dan Mas Gandhie untuk berkunjung ke kediaman Dato’ Baha di Shah Alam, Selangor, Malaysia. Perjumpaan ini merupakan jawaban dari doa Mas Reiza yang bulan lalu bersilaturahmi dengan Dato’ Baha. Mas Reiza memang mendapat tugas dari Cak Nun untuk menemui Dato’ Baha, setelah tugas tersebut ditunaikan, alhamdulillah kini Cak Nun dapat berjumpa lagi dengan Dato’ Baha.

Ketika Cak Nun dan rombongan sampai di rumahnya, Dato’ Baha bersama Istrinya, Ibu Norsiah menyambut dengan bahagia. Mengharukan sekaligus membahagiakan. Dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Dato’ Baha menyambut Cak Nun dengan pelukan bahagia. Sejenak kemudian, setelah masuk ke dalam rumah, kedua beliau saling bertukar kabar dan menanyakan keluarga masing-masing.

Obrolan mengalir, Cak Nun menyampaikan bahwa tidak ada rencana khusus pada kedatangan ke Malaysia kali ini. Memang Cak Nun dan Mbak Via sudah merencanakan kunjungan silaturahmi dengan Dato’ Baha ini. Dan Dato’ Baha sangat mengenang persahabatan dengan Cak Nun di Iowa dulu. Seperti sudah diceritakan oleh Mas Reiza sebelumnya, Dato’ Baha pernah datang ke Padhangmbulan di tahun 1998, dan saat itu Cak Nun juga mengajak Prabowo Subianto ke Menturo. Ingatan Dato’ Baha masih merekam jelas Padhangmbulan saat itu. Cak Nun pun menyampaikan bahwa Padhangmbulan baru saja mensyukuri perjalanan ke 26 tahun. Cak Nun menceritakan bagaimana suasana Maiyahan, kegembiraan menemani anak-anak muda di Indonesia, membangkitkan kepercayaan diri mereka, membangun sikap mental yang tangguh, melalui konsep Sinau Bareng di Maiyahan. Dato’ Baha pun sepakat bahwa konsep seperti Maiyahan ini merupakan salah satu metode mempersatukan bangsa. Raut wajah Dato’ Baha tampak bahagia mendengar cerita dari Cak Nun mengenai Maiyah ini.

Bagi Dato’ Baha, Indonesia bukanlah tempat yang asing. Dato’ Baha menyelesaikan pendidikan S1 fakultas Sastra di Universitas Indonesia. Maka, Jakarta adalah tempat yang akrab. Ibu Norsiah pun mengenang masa-masa tinggal di Jakarta kala itu. Nama-nama tempat di Jakarta masih diingat; Blok M, Kebayoran hingga Taman Ismail Marzuki. Dan ketika menceritakan tentang Taman Ismail Marzuki, nama-nama sastrawan Indonesia pun disebut oleh Dato’ Baha. Seperti Sutardji Calzoum Bahri, Taufik Ismail, Umar Kayam, W. S. Rendra dan lain-lain.

Karena sudah menyebut Taman Ismail Marzuki, Cak Nun kemudian menceritakan bahwa forum serupa Padhangmbulan juga diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki: Kenduri Cinta. Seperti telah kita ketahui, Kenduri Cinta sudah berlangsung selama 19 tahun. Cak Nun kemudian memperkenalkan Mas Gandhie sebagai orang yang juga berperan dalam menjaga keberlangsungan Kenduri Cinta ini. Mas Gandhie kemudian memperlihatkan beberapa foto-foto suasana ketika Kenduri Cinta dilaksanakan di Plaza Teater Besar, TIM.

Mbak Via pun sangat akrab dengan Ibu Norsiah. Sementara Cak Nun dengan Dato’ Baha ngobrol di ruang tamu, Mbak Via dan Ibu Norsiah sibuk berdua di dapur mempersiapkan hidangan yang akan disantap bersama-sama.

Mas Reiza kemudian juga menceritakan seperti apa forum Kenduri Cinta itu, bagaimana forum itu dilaksanakan, didatangi oleh banyak orang dari berbagai kalangan, dan dengan suasana Sinau Bareng yang terbangun, setiap orang belajar kepada orang yang lain. Everybody learn each other. Cak Nun kemudian secara khusus mengundang Dato’ Baha untuk datang ke Kenduri Cinta. Semoga suatu saat undangan Cak Nun ini dapat dipenuhi oleh Dato’ Baha.

Dato’ Baha sempat terkejut, kok bisa forum seperti Kenduri Cinta dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki? Tentu saja, bayangan Dato’ Baha adalah Taman Ismail Marzuki di era 70’an yang saat itu berfungsi sebagai barometer seniman di Indonesia. Bagi Dato’ Baha, TIM adalah tempat yang istimewa bagi seniman, sehingga tidak mudah bagi pihak lain untuk masuk ke TIM, apalagi sampai membikin forum rutin seperti Kenduri Cinta saat ini.

Cak Nun pun kemudian menjelaskan bagaimana konstelasi yang terjadi di Taman Ismail Marzuki saat ini. Bahwa gambaran yang dikisahkan oleh Dato’ Baha itu sudah tidak kita jumpai lagi di TIM hari ini. Tentu saja banyak sebabnya. Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana pada akhirnya Kenduri Cinta mampu menjadi sebuah forum yang justru menjadi salah satu ikon Taman Ismail Marzuki. Dato’ Baha pun kemudian memahami situasi tersebut setelah dijelaskan oleh Cak Nun mengenai kondisi TIM hari ini.

Sebagai seorang penulis, Dato’ Baha ini juga sangat melek politik. Dato’ Baha pun menceritakan kondisi politik Malaysia saat ini yang menurutnya juga penuh dinamika dan tidak mudah untuk dilalui oleh rakyat Malaysia. Cak Nun suatu ketika, saat bertemu dengan ‘Ain, salah satu putra Dato’ Baha berpesan bahwa anak-anak muda di Malaysia harus segera merapatkan barisan untuk mengatisipasi terjadinya konflik antar etnis akibat dinamika konstelasi politik. Konflik ini berpotensi membuat suasana kehidupan masyarakat dalam konteks kebangsaan di Malaysia mulai terganggu.

Bincang siang kali ini semakin hangat saja topik pembicaraannya. Selain membahas politik di Malaysia, Dato’ Baha pun bertanya kepada Cak Nun tentang situasi terkini di Indonesia, mulai dari situasi politik sampai soal rencana pemindahan Ibu Kota ke pulau Kalimantan. Tapi bahasan ini tidak terlalu penting, apalagi hidangan di meja makan sudah tersaji dan menunggu untuk disantap.

Tentu saja masih ada cerita yang akan kami kabarkan dari Negeri Jiran kali ini. Tunggu saja kelanjutannya.

Buku dan Merchandise