Respons Simpul Maiyah Menimbang Revolusi Sosial, Kultural, atau Spiritual (3)

Masih tentang Pilihan 3 daur, Suluk Surakartan memilih memaknai revolusi sosial, kultural, dan spiritual tidak sebagai tiga hal yang terpisah, melainkan sebuah kesatuan dari metodologi berproses. Lain lubuk lain ikannya, lain pula Kenduri Cinta. Mereka memaknai tiga dauriyah tersebut sebagai wahana untuk berbagi peran, karena menurut mereka tidak mungkin seseorang memikul keseluruhannya.

Maiyah Balitar menelaah dengan cara mereka tersendiri, pilihan yang mereka ambil justru adalah gerakan yang bukan revolusi. Selain itu yang menarik dari telaah mereka adalah mereka menyoroti sebuah hal spesifik yakni antisipasi munculnya perpecahan dan ajakan terhadap upaya-upaya untuk menjaga kemenyatuan.

Sisi pandang berbeda lagi ditawarkan oleh Damar Kedhaton. Mereka ‘mencurigai’ mengapa Revolusi Sosial ditempatkan pada urutan paling atas oleh Mbah Nun. Ada challenge apakah? Selengkapnya, simak respons-respons Simpul atas Pilihan 3 Daur berikut ini:

1. Suluk Surakartan (Solo): Jamaah Suluk Surakartan Menyambut Pilihan Tiga Daur

Mencermati tajuk Pilihan 3 Daur yang ditulis oleh guru kita, Maulana Muhammad Ainun Nadjib, setelah melalui diskusi dan saling mendengarkan pendapat masing-masing penggiat dan jamaah Maiyah Suluk Surakartan, ada beberapa respons untuk tajuk di atas.

Pertama, kami memahami bahwa tiga pilihan daur di atas bukan sebagai tiga hal yang terpisah, tetapi merupakan satu kesatuan yang menjadi metodologi berproses dalam rangka menjalankan revolusi ala Maiyah. Jadi, cara kami memilih daur tidak dengan mengambil satu lalu meninggalkan yang lain, tetapi membuat prioritas salah satu daur sebagai awalan dan menjadikan daur lainnya sebagai bagian dari rangkaian proses.

Kedua, secara umum jamaah Maiyah Suluk Surakartan bertekad untuk terus melanjutkan revolusi kultural berupa Sinau Bareng yang terus dijalankan dengan istiqamah dan terus-menerus memposisikan diri untuk belajar kepada apa pun di kehidupan ini. Hal itu selalu diikuti dengan tekad untuk menuju revolusi spiritual yang merupakan domain Ilahiah di mana setiap jamaah secara bersama-sama menjalankan wirid, laku, dan lain-lain yang secara personal meningkatkan kedalaman spiritualnya masing-masing. Proses ini adalah bentuk keseimbangan “dunia-akhirat” dalam rangka menyongsong momentum revolusi sosial di masa depan.

Ketiga, dengan bersungguh-sungguh menjalani proses revolusi kultural dan revolusi spiritual, kami berharap Allah membukakan jalan menuju revolusi sosial yang penuh kematangan. Kami menyadari bahwa apa yang menjadi upaya revolusi sosial memerlukan pengorbanan besar dan melahirkan berbagai kemungkinan “kekacauan” yang sebaiknya dipersiapkan melalui revolusi kultural dan revolusi spiritual secara maksimal. Karena bagaimana pun, perubahan yang mendasar dan menyeluruh pada peradaban manusia membutuhkan ongkos pengorbanan yang sangat besar.

2. Kenduri Cinta (Jakarta): Masyarakat Maiyah Harus Bersegera Mengambil Perannya Masing-masing

Dari 3 pilihan Daur, ketiganya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Yang harus dilakukan adalah berbagi peran untuk masing-masing Masyarakat Maiyah memilih perannya pada setiap tahapan 3 Daur tersebut. Karena tidak mungkin semua orang mampu melakukan tiga tahapan tersebut.

Selama ini, sudah ada 2 tahap Daur yang dilakukan dengan tempo yang berbeda. Revolusi kultural sudah dilakukan dalam 3 dekade terakhir. Bermula dari Padhangmbulan hingga kini tersebar 60 lebih titik Simpul Maiyah menyelenggarakan Sinau Bareng dengan berbagai skalanya masing-masing. Istiqamah para penggiat di Simpul Maiyah sudah sangat teruji. Pada Simpul Maiyah induk, rata-rata sudah lebih dari 1 dekade bahkan ada yang akan mencapai 2 dekade keberlangsungannya.

Sinau Bareng yang menjadi konsep dasar Maiyahan adalah sebuah gerakan revolusi yang sanyap. Hampir setiap malam dilakukan, dengan berbagai skala dan momentumnya, gelombang dan energinya telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung (online di internet). Namun demikian, dunia modern sama sekali tidak melirik Maiyah sebagai sebuah fenomena dalam peradaban hari ini. Apakah memang Maiyah sedang menjalani masa-masa disembunyikan? Atau jangan-jangan Maiyah terlambat merespons zaman sehingga tata kelola penyebaran Maiyah sampai hari ini masih serampangan, tidak terorganisasi, karena salah satunya kesalahpahaman dalam memaknai kedaulatan dan kebebasan dari sifat cairnya Maiyah?

Dengan segala kekurangannya, Sinau Bareng telah memberikan banyak dampak bagi setiap individu yang telah bersentuhan dengan Maiyah. Semua orang dari berbagai lapisan masyarakat diterima di Maiyah, tanpa pandang bulu, tanpa membedakan suku, ras, agama, budaya, pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Dan Sinau Bareng ini sudah dilakukan oleh Maiyah dalam kurun waktu hampir 3 dekade secara istiqamah. Tentu saja dengan segala dinamikanya.

Kemudian, yang juga sudah dilakukan adalah revolusi spiritual, meskipun dilakukan berdasarkan momentum. Ritual pembacaan wirid atau riyadhoh Maiyah baru dilaksanakan berdasarkan momentum tertentu, belum terbangun kesadaran bahwa riyadoh Maiyah juga dibutuhkan keistiqamahan dalam jangka waktu yang panjang. Riyadoh Maiyah juga merupakan salah satu bentuk dari infinite game, perang panjang yang menuntut konsistensi, kesabaran, totalitas, hingga kekhusyukan. Dan ini tidak mudah, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya. Maka dibutuhkan semacam pasukan Wirid untuk konsisten melakukan revolusi spiritual ini sebagai upaya setoran kepada Allah dalam bentuk yang lebih advance dari revolusi kultural melalui Sinau Bareng.

Yang belum dilakukan adalah revolusi sosial. Kita belajar dari Reformasi 1998, bagaimana Cak Nun “turun gunung” menjadi pelaku utama pada peristiwa tersebut, namun pada akhirnya Reformasi 1998 tidak berlangsung seperti yang diharapkan. Pada akhirnya, kita juga mungkin agak trauma untuk tidak segera mengambil pilihan revolusi sosial tersebut. Karena juga dijelaskan oleh Cak Nun, revolusi sosial memakan ongkos yang tidak sedikit, bahkan pertumpahan darah menjadi sebuah keniscayaan pada proses revolusi sosial. Pada Reformasi 1998, Cak Nun bahkan mengupayakan agar ongkos pertumpahan darah tidak terlalu banyak, dan itu disampaikan pada saat Padhangmbulan 11 Mei 1998.

Belum lagi, tantangannya adalah apakah Masyarakat Maiyah siap secara individu jika dirinya tidak dilibatkan sebagai pelaku utama dalam Revolusi Sosial, yang poin utamanya adalah Memperbaharui manajemen Bangsa dan Negara untuk membangun Tatanan Kenegaraan yang baru.

Namun demikian, revolusi sosial tidak akan terwujud sebelum revolusi kultural dan revolusi spiritual dijalankan secara istiqamah dan berkelanjutan. Maka, tantangan Masyarakat Maiyah adalah mengambil perannya masing-masing. Bukan saatnya lagi hanya menikmati atmosfer Maiyahan, tetapi mengambil langkah lebih advance untuk mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah dalam kehidupan nyata. Dan juga, waktu yang dibutuhkan tidak sebentar, maka diperlukan kesabaran yang luar biasa untuk menjalani proses 3 Daur ini.

3. Maiyah Balitar (Blitar): Bertumbuh Dalam Spirit Kultural

Diskursus mengenai apa yang sedang terjadi — dan tampaknya masih akan terus berlangsung — di Indonesia adalah satu perbincangan yang selalu mengundang minat bagi hampir semua Jamaah Maiyah. Kadar keseriusan, sistematika, dan konklusi atas topik itu bisa sangat beragam namun ada kesamaan yang tak terelakkan bahwa energi kemauan yang menyertainya selalu berada di atas level rata-rata.

Sebagai perbandingan, topik ini melampaui hasrat banyak orang untuk misalnya mengupas kadar kepenyairan Mbah Nun atau melakukan analisis mendalam terhadap karya-karya yang pernah dihasilkan Simbah sebagai seorang sastrawan. Bahkan, walau masih perlu penelitian lebih jauh, hal ihwal keindonesiaan memicu lebih banyak kadar adrenalin ketimbang misalnya pembahasan mengenai kenyataan hidup wabil khusus jodoh dan pekerjaan.

Terlepas dari hal-hal di atas, ghirrah untuk ikut serta dalam program restorasi negara sekaligus tanah air ini memang memiliki “hambatan” psikologis. Satu pembatas yang menjadikan apapun krentek ke arah sana seperti harus mengalami nasib “layu sebelum berkembang”. Belum ada satu-dua orang atau kelompok Jama’ah Maiyah yang secara terbuka, menyatakan gerakan kejuangan di ranah politik praktis. Kesemuanya masih mematangkan kesiapannya di kubangan magma pemikiran dan wacana.

Bersyukur, memahami relung-relung tersembunyi kejiwaan anak cucu, merupakan bagian tak terpisahkan dari kecintaan Mbah Nun. Pemahaman yang lahir dari perjalanan panjang kesejarahan dan interaksi sangat intens dengan anak cucu yang sangat resiproksikal walau tak jarang mengabaikan keterbatasan ragawi beliau. Pemahaman itulah yang kemudian mengalirkan beribu arahan dan rambu bagi tetap terjaganya kejernihan pikir dan rasa serta akurasi tindakan kita semua.

Satu arahan terakhir yang diberikan Mbah Nun berbentuk 3 opsi yang harus segera disikapi Jamaah Maiyah melalui simpul-simpul dan lingkaran. Terhadap hal ini, Majelis Maiyah Balitar bersama segenap rasa tawadhu dan kesantunan menyatakan pilihannya sebagai berikut:

  1. Lebih sebagai bentuk pemahaman atas potensi diri, bekal dan kelengkapan yang ada, kami memilih bentuk gerakan bukan revolusi.
  2. Berkenaan dengan point (1), bentuk dan skala gerakan yang dimaksud lebih bersifat diaspora nilai-nilai yang intensif, terstruktur, dan menjangkau lebih banyak lembaga, golongan, dan strata.
  3. Adapun bidang yang kami pilih adalah aspek-aspek kultural dengan titik berat pada penumbuhsuburan sisi spiritual yang bersifat sentrifugal: bermula dari diri sendiri, keluarga, kelompok masyarakat, komunal hingga tataran bangsa dan negara. Pertimbangan utama dari pilihan ini adalah besarnya bisaroh dan proyeksi atas risiko bila kita memutuskan melakukan revolusi sosial
  4. Harus diakui, telah terjadi kemunculan faksi-faksi di dalam internal Jamaah Maiyah. Untuk itu, kami mengusulkan adanya seruan untuk “kembali satu” dalam rampak rancak barisan yang sama.
  5. Dengan tetap menumbuhkan optimalitas rasa percaya diri, kami usulkan dibukanya katup keterbukaan dengan kabilah manapun yang memiliki kesamaan niat untuk mewujudkan format dan tatanan ideal bagi Indonesia.

Kepiawaian Jamaah Maiyah melampaui tantangan tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta serta kewaspadaan yang menyertai keberanian tandang karena wamakarru wamakarrallah wallahu khoirun makkiriin senantiasa menapasi hembus demi hembus keseharian kita bersama.

4. Damar Kedhaton (Gresik): Pernikahan antara kultural dan spiritual, buahnya Sosial.

Melalui Tajuk berjudul “Pilihan 3 Daur”, Mbah Nun secara lugas merangkum salah satu output dari perjalanan panjang Maiyahan selama ini, yakni terbitnya kesadaran – setidaknya di benak Jamaah Maiyah – bahwa terdapat kesenjangan yang nyata antara realitas di segala lini kehidupan dengan idealitas maksud penciptaan oleh Allah Swt.

Idealnya, pendidikan adalah segenap konsep dan proses yang ditempuh oleh tiap manusia untuk memuliakan akhlak, karakter, dan menemu-maksimalkan fadhilah yang Allah titipkan padanya. Namun realitas yang terjadi adalah pendidikan digelar tak lebih dari sekadar peningkatan/akumulasi keterampilan untuk mengalahkan sesamanya.

Seharusnya, sukses dipahami sebagai kondisi tercapainya setiap jengkal tujuan atau target hidup dengan tanpa melukai hati Allah dan Rasulullah. Namun oleh manusia peradaban modern sukses adalah kaya, pandai, dan berkuasa.

Negara dan perangkatnya dibentuk dengan tujuan perlindungan, kesejahteraan, dan pencerdasan. Demikian yang termaktub di pembukaan konstitusi, sebagai ejawantah mandat kekhalifahan manusia di bumi Indonesia. Realitas yang terjadi adalah perebutan kekuasaan tiada akhir dengan spirit utama memuaskan hasrat penguasaan sumber daya untuk kepentingan diri dan kelompoknya.

Eskalasi kebobrokan peradaban nasional kian tampak nyata manakala diperluas skala pandangnya hingga level global. Setelah mempelajari rangkaian tonggak penanda perubahan peradaban sepanjang sejarah manusia, dan memahami titik-bidang-ruang koordinat maiyah di tengah konstelasi zaman yang sekarang, Mbah Nun menawarkan 3 opsi daur bagi maiyah.

Pada tiap daur Mbah Nun memakai kata Thariqat, Pelaku Utama, Makrifat dan Bisyaroh. Di sini seolah beliau ingin mensimulasikan sebuah tatanan formula perubahan sosial dan budaya beserta sebab-akibatnya.

Dari ketiga daur tersebut, ada 2 daur yang JM senantiasa coba untuk istiqamah, yakni revolusi kultural dan revolusi spiritual. Sadar tidak sadar, nilai dari keduanya telah terbenamkan pada gerak langkah seorang JM. Karena Mbah Nun tanpa henti dan selalu mensisipkan nilai-nilai kultural dan spiritual secara halus pada tiap tulisan maupun elaborasi di atas panggung Maiyahan. Terasa pada tiap inchi uraiannya, Mbah Nun sedang membangun sebuah mega kontruksi yang baru. Berupa tatanan mental, kejiwaan masyarakat, serta ketangguhan berjalan di atas duri pada sistem negara apapun. Dengan mengasah pendewasaan dan perluasan Sinau Bareng. Tidak cukup hanya dengan upaya itu, Mbah Nun juga menumbuhkan totalitas serta kekhusyukan massal lewat konsistensi pada amaliyah kultural, seraya menggarisbawahi segalanya dengan takwa yang maksimal, nandur sabar dan tawakkal.

Muncul sebuah pertanyaan di benak; Kenapa Revolusi sosial diletakkan Mbah Nun pada urutan nomor 1? Sepertinya ada potret simulasi pergerakan yang coba beliau ingin sampaikan pada JM. Persisnya mungkin, ada pertanyaan ingin disodorkan. Tentang revolusi sosial; kiat memperbarui manajemen bangsa dan negara, agar sampai pada tatanan kenegaraan baru. Dan menggapainya supaya sampai ke hulu, dengan memakai bahan bakar berupa komplikasi pemerintahan baru-pengorbanan rakyat yang tak bisa diukur. Pertanyaan paling krusial adalah apakah masyarakat Maiyah sebagai pelaku utama siap dan berani?

Sebagai salah satu alat ukur, gerakan Pantau Bersama yang digagas Mas Sabrang ketika momentum pileg/pilpres kemarin layak menjadi perhatian. Harus jujur dan legawa diakui bahwa tingkat partisipasi JM yang notabene mayoritas kizano nan millenial itu, di aksi Pantau Bersama, masih sangat rendah. Ibarat sholat berjamaah, manakala sang imam telah bersiap memimpin shalat, rupanya mayoritas jamaah masih belum rapi berbaris, bahkan wudhu pun ada yang belum.

Maka opsi Daur Revolusi Sosial, yang senyatanya memerlukan bisyaroh paling mahal dengan pengorbanan rakyat yang tidak bisa diukur, sepertinya bukanlah pilihan yang perlu diprioritaskan, meski tidak bisa dikesampingkan.

Dengan membangun asumsi bahwa Tajuk Pilihan 3 Daur adalah merupakan “SOP” dari rangkaian Tajuk “Hardreset Peradaban”, “Istiqomah Bermaiyah”, “Menderita karena Maiyah”, dan “Siaga Kapak & Tongkat”, 3 pilihan metode daur tersebut bisa dipandang pelaksanaannya secara bertahap maupun simultan. Jika dilakukan secara simultan, kunci utamanya pemetaan potensi SDM masyarakat Maiyah serta pembagian tugas dalam setiap metode yang dijalankan. Dan yang paling utama adalah ketabahan dan kerelaan dalam menjalankan setiap metode tersebut.

Jika dilakukan secara bertahap, maka revolusi kultural — yang selama ini memang paling kuat dosisnya di Maiyah — menjadi pilihan pertama untuk dilanjutkan. Pendewasaan dan perluasan sinau bareng ditekankan, ngugemi nilai-nilai Maiyah, berpusat pada segitiga cinta, meminimalisasi terjebak dalam berhala diri. Proses redefinisi setiap entitas ciptaan Allah agar ditemukan kandungan maknanya yang sejati, perlu diteruskan. Apa itu manusia, masyarakat, ummat, negara, demokrasi, pembangunan, kemajuan, keberhasilan, sukses, kebudayaan dan peradaban, kian urgen untuk dikendurikan di setiap proses Sinau Bareng.

Bila totalitas, kekhusyukan massal dengan konsistensi amaliyah kultural terjaga, kadar ikhtiar Maiyah semakin lama semakin besar. Himpunan para salikul Maiyah yang terverifikasi takwa, sabar, dan tawakkal. Yang Allah mencintai mereka, mana mungkin Gusti Allah akan tega untuk tidak mengabulkan apa-apa yang dicitakan?

Buku Cak Nun Majalah Sabana