Respons Simpul Maiyah Menimbang Revolusi Sosial, Kultural, atau Spiritual (2)

Menakar usia Juguran Syafaat.
Menakar usia Juguran Syafaat.

Social movement sudah menjadi hal jamak hari ini. Dari gerakan yang keren dan menjadi media darling, hingga yang sepi bahkan terabaikan. Dari gerakan yang sungguh-sungguh menakar dampak sosial, hingga mereka yang hanya gegap gempita oleh jargonistik belaka. Dari yang jamak, keren, dan gegap gempita itu, simpul-Simpul Maiyah berikut ini memilih sisi yang berbeda: Revolusi Spiritual.

Sama-sama menawarkan spiritualitas sebagai ranah revolusi, tetapi masing-masing memiliki aksen yang berbeda. Hal ini amat bisa dipahami mengingat di Maiyah oleh para Marja’ kita diajak untuk menyelami samudera spiritualitas melampaui batas-batas pemahaman mainstream tentang betapa hanya di permukaan belaka pengertian spiritualitas yang ramai dijajakan orang hari ini.

Berikut ini adalah respons Dauriyah spiritualitas oleh beberapa Simpul Maiyah dengan aksennya masing-masing:

1. Maneges Qudroh (Magelang): Spiritual, Akar Kehidupan

Beberapa penggiat kami berdiskusi via grup di salah satu media komunikasi, karena keterbatasan waktu yang dipatok. Ketika forum diskusi dibuka dengan langkah awal memilih daur beserta alasannya, sangat sedikit yang merespons meski tajuk pilihan daur tersebut merupakan Daur Simbah. Dari jumlah penggiat yang ada, hanya 1/3 yang ikut menyerukan pendapatnya meski yang tidak ikut bersuara juga telah membaca diskusi yang telah berlangsung.

Dari 1/3 tersebut, hasilnya berimbang. Setengah memilih daur 2, dan setengahnya lagi memilih daur 3. Kesepakatan untuk menyatukan suara mustahil dilakukan karena hanya berbincang lewat media virtual. Jadi, tidak ada benar atau salah. Semua pilihan baik bagi yang menurutnya tepat dengan pemikiran akan sebuah permasalahan yang sedang terjadi.

Karena ini berkaitan dengan revolusi, pertama-tama tolok ukur apa yang dipakai dalam revolusi tersebut? Perbedaan haruslah ada demi keluasan cara berpikir dan melatih kemandirian cara pandang.

Melihat situasi seperti sekarang ini. Manusia sudah terlalu memunafikkan dirinya yang menyembunyikan ego dalam selimut spiritual. Bahkan lebih menyedihkan lagi, Maiyah hanya dijadikan penguat kebenaran atas pemikiran kebenaran masing-masing manusia berkepentingan.

Masyarakat Maiyah terlalu jamak dan luas jika mesti dijadikan pelaku utama perubahan/revolusi. Masih terlalu banyak bias dimensi ruang jika mesti menjadi subjek hijrah yang khoir. Masih terlalu malas dan tidak peka jika harus melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya, terlebih yang menguras tenaganya.

Jadi, biarkan semua berjalan ala kadarnya. Biarkan mereka yang dapat mengambil ikhtiar Maiyah yang berdiam diri, bertapa, bahkan terasing dari peradaban Maiyah itu sendiri. Tidak semua pelaku ini mampu melakukan ataupun menggerakkan. Hanya saja, salah satu dari mereka yang mampu memetik ikhtiar Maiyah ini, pasti ada di setiap daerah.

Pada akhirnya, mereka hanyalah orang yang tak berkepintingan, bahkan tidak berani untuk melakukan hal yang begitu besar, kecuali tanpa seruan amr-Nya.

Mereka pasti ada di setiap daerah, biarkan mereka menjadi tonggak ataupun saka yang terus berjuang mengamalkan ataupun menjaga nilai-nilai maiyah. Baik atau buruk, benar atau salah, khoir ataupun sayyi’, sejahtera ataupun serba berbatas, dianggap ataupun hilang, hasil ataupun proses. Itu tidak begitu menjadi masalah apabila revolusi spiritual ini mampu dijalankan. Apapun yang terjadi ke depan tak lain hanya merupakan bagian dari rencana cinta-Nya. Demi sebuah pertemuan.

Pertanyaannya apakah kita — atau diri sendiri — membutuhkan revolusi? Jika semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan yang ditujukan demi sebuah pembelajaran. Apa kita masih membutuhkan kemenangan jika semua hanyalah tentang hilangnya rasa cinta kepada segala qada’ dan qadar-Nya?

Jika memang mesti ada perubahan hingga membutuhkan revolusi, mungkin revolusi spiritual diri akan lebih tepat, karena hal ini akan berimbas kepada cara diri memandang permasalahan, cara diri memahami kompleksitas kultural bangsa. Karena hanya spirituallah yang akan menjadi pegangan untuk memperteguh keistiqamahan menyusuri perjalanan menuju keabadian. Spiritualitas adalah landasan keseimbangan agar tidak mudah terjatuh atau sakit. Spiritualitas adalah akar yang menentukan tinggi sebuah pohon kultural ataupun kehidupan sosial. Agar tidak mudah terombang-ambing oleh angin kehidupan.

Jadi, sudahkah kita memahami atau setidaknya mengenal spiritual diri? Jangan-jangan itu hanya sebuah pembelaan kebenaran anganmu karena kamu terlalu takut akan kegelapan “salah”. Bukankah cahaya hanya akan bermakna jika ada kegelapan?

2. Juguran Syafaat (Purwokerto): Bukan Perluasan, Tetapi Pendalaman Sinau Bareng

Kami belum bisa bisa berkomentar apa-apa karena belum tahu banyak tentang Nabi Nuh, Daud-Sulaiman, Atlantis, dan Peradaban Madinah. Paling mengetahui sedikit, hanya sedikit, mengenai Renaisans serta Perang Dunia I dan II. Namun, tebakan awal kami, runtuhnya peradaban masa lalu tak jauh-jauh dari soal: Pengkhianatan nilai-nilai ketuhanan.

Revolusi Sosial itu menarik, tapi dengan kamampuan yang masih serba terbatas dan posisi yang tidak bersentuhan langsung dengan lingkaran kekuasaan, maka posisi yang paling tepat bagi kami adalah sebatas menjadi observer dengan sesekali tetap mempelajari sistem ketatanegaraan yang baru/lama.

Yang paling mendekati mungkin untuk kami lakukan adalah: Revolusi Spiritual. Sesuatu yang dapat diukurnya di tingkat individu saja dan termasuk yang kurang heroik. Akan tetapi kami memilih ndandani awake dhewek dhisit dengan aksi-aksi atau amaliyah yang ‘sepele’.

Di tengah kegaduhan dan kelemahan praktik-praktik beragama seperti saat ini, serta memerhatikan sisi lemah kami masing-masing, maka aksi perluasan Sinau Bareng dalam artian mendistribusikan lebih luas pemahaman Maiyah di lingkungan kami tinggal harus ekstra hati-hati dan pelan-pelan. Wilayah perluasan lebih presisi apabila dilakukan dengan pendekatan keteladanan oleh masing-masing kami.

Sedangkan pendalaman keilmuan akan lebih tepat dilakukan dalam format Sinau Bareng empat mata, enam mata, dan kelompok terbatas semacam melahirkan jaringan sel-sel kecil pengkaderan tarbiyah (halaqoh) yang mengerjakan diskursus spesifik masing-masing.

Sinau Bareng di lapangan desa dan di simpul-simpul Maiyah tetap dijaga dalam spirit pengkonsistenan amaliyah kultural sebagai semacam studium generale. Sedangkan halaqoh-halaqoh kecil, sempit dan mendalam dibentuk sesuai dengan fadhilah masing-masing individu yang terlibat dan tantangan spesifik yang dihadapi. 

Menghadapi tantangan menggejalanya pengajian yang diisi ustadz milenial di banyak penjuru daerah hari ini misalnya, sejumlah jamaah Maiyah dapat menyiapkan diri melahirkan figur mubaligh milenial yang hadir membawa otentisitasnya. Menghadapi tantangan menggejalanya content creator picisan yang hanya mengejar subscriber dan follower, sejumlah jamaah Maiyah dapat berhimpun menyiapkan figur antitesisnya.

Di atas adalah contoh-contoh bentuk halaqoh yang sempit, mendalam dan memasuki permasalahan spesifik yang ada. Sebab Jamaah Maiyah tidak dapat tampil sendiri masuk ke ranah mainstream yang sangat berbeda nilai-nilainya di luar sana. Melainkan tampil dengan daya dukung yang prima, untuk tetap menguasai budaya tanding.

3. Kidung Syafaat (Salatiga): Tahapan Pilihan Tiga Daur

Sebagai Jamaah Maiyah, kami sangat bersyukur karena di tengah waktu istirahat dalam rangka pemulihan kesehatan, Mbah Nun masih sempat menulis Tajuk Pilihan 3 Daur tentang kemungkinan solusi masa depan bangsa & negara. Tulisan Mbah Nun ini membuat kami lega, seakan mendengar kabar baik bahwa Mbah Nun masih diberikan kesehatan dan keberkahan. Mengingat beberapa hari yang lalu kami berkumpul untuk mendo’akan kesembuhan Mbah Nun dan tidak sedikit dari kami yang sampai meneteskan air mata.

Kami selalu kagum dan bangga kepada tulisan Simbah. Ibarat strategi peperangan, tulisan Simbah bagaikan pengepungan total. Ibarat strategi pertahanan, tulisan Simbah bagaikan barikade tanpa celah. Kami merasa tertampar oleh kualitas tulisan Mbah Nun, di sisi lain kami tertantang untuk terus menempa diri sesuai dengan fadhilah kami masing-masing sebagai rasa syukur atas karunia Allah berupa kehidupan bermaiyah ini.

Sinau Bareng dan Maiyah adalah cara kami untuk mendekontruksi nilai-nilai pemahaman yang bertujuan untuk menumbuhkan kedaulatan berpikir, memandang secara jernih suatu persoalan, menghindari bias-bias pemaknaan suatu nilai atas kepentingan-kepentingan yang menungganginya. Sebagaimana digambarkan oleh Mbah Nun dalam tulisannya pada paragraf pertama, bahwa efek Siinau Bareng adalah kesadaran bahwa yang berlaku di dunia pada umumnya dan bangsa Indonesia secara khusus tidak sejalan dengan sebagaimana mestinya sesuai sunnatullah. Kesadaran seperti ini lahir dari kedaulatan berpikir. Sinau Bareng dan Maiyah menawarkan orisinalitas cara pandang baru atau di sisi lain mengembalikan suatu nilai kepada makna aslinya. Sehingga jamaah selalu mempunyai pemahaman yang berbeda dari pemahaman masyarakat umum dalam memandang dunia, negara, agama, politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya.

Revolusi sosial, revolusi kultural, dan revolusi spiritual adalah sebuah keniscayaan. Ketiga revolusi itu terdapat persamaan sebab yaitu kedaulatan berfikir. Dengan seseorang atau suatu masyarakat yang mempunyai kedaulatan berfikir dan dihadapkan dengan kondisi di sekitarnya yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya, maka ketiga revolusi itu adalah kemungkinan potensi yang akan terjadi. Meskipun sebuah keniscayaan, kami tetap sadar akan kekuatan yang utama yaitu Allah SWT. Sehingga kami memandang keniscayaan ketiga revolusi itu sebagai hadiah dari Allah terhadap keistiqamahan Jamaah Maiyah untuk mengamalkan nilai-nilai Maiyah ke dalam kehidupan sehari-hari dengan skala yang sesuai dengan kemampuan dan fadhilah setiap individu sebagai wujud sedekah kepada Indonesia.

Dalam memilih menerapan 3 revolusi tersebut, pilihan yang sekiranya paling mudah adalah revolusi spiritual. Revolusi Spiritual adalah efek langsung dan keputusan individu yang otomatis dilakukan ketika kita menemukan kedaulatan berpikir melalui Sinau Bareng. Dengan melakukan revolusi spiritual, kita akan mengimplementasikan nilai-nilai Maiyah dalam kehidupannya dan lambat laun akan menimbulkan revolusi kultural dalam tatanan kemasyarakatan. Revolusi kultural dalam skala bangsa dan negara akan tumbuh menjadi revolusi sosial yang tak terhindarkan.

Tentunya karena kita meyakini ketiga revolusi itu adalah hadiah Allah, maka cara dan wujudnya bisa sama sekali berbeda dengan revolusi-revolusi yang sudah terjadi di belahan dunia. Jika dihadapkan dengan pertanyaan tentang pilihan, tentunya setiap individu memiliki pilihan dan argumennya masing-masing. Tetapi paling tidak kami sepakat bahwa untuk melanjutkan kebahagiaan bermaiyah, minimal setiap individu telah melakukan revolusi spiritual. Simpul dan lingkar maiyah sendiri menurut kami adalah laboratorium untuk merumuskan kemungkinan strategi revolusi kultural.

Kami sadar bahwa saat ini, setiap penggiat simpul Maiyah dan jamaah Maiyah adalah pelaku utama yang diperjalankan Allah untuk tahap revolusi kultural yang sedang berlangsung. Sehingga revolusi sosial merupakan murni hadiah dari Allah, tergantung seberapa tangguh keistiqamahan kita dalam memegang nilai-nilai maiyah.

Mbah Nun secara pribadi berjuang layaknya Nabi Ibrahim. Mbah Nun bersama anak cucu jamaah maiyah adalah pembebasan belenggu pola pikir layaknya Nabi Musa membebaskan kaum Yahudi dari belenggu Firaun. Perubahan paradigma dan arah kehidupan bangsa dan negara adalah hadiah Allah layaknya Rasulullah dengan Fatkhu Makkah. Wallahu a’lam, keistiqamahan kita menentukan masa depan anak cucu kita.

Buku Cak Nun Majalah Sabana